FAM Trip’s Diary: Yang Tersisa dari Hari-Hari Terakhir di Genting

Tahun ini merupakan tahun yang amat berkesan bagi perjalanan ngeblog saya. Karena selain menemukan dan belajar banyak dari orang baru, saya juga akhirnya menemukan gaya penulisan yang sekarang. Inilah highlight perjalanan ngeblog saya. Nggak cuma itu, saya juga jatuh cinta dengan sebenar-benarnya sebuah perjalanan. Hingga saya akhirnya berani menuliskan banyak cerita perjalanan di blog akhir-akhir ini.

Tahun ini pula saya mulai ketularan virus jalan-jalan. Traveling buat saya jadi semacam kecintaan, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang menempatkan traveling dalam kebutuhan tersier yang hanya dijalani 1-2 kali setahun. Tahun ini, ada begitu banyak perjalanan, begitu banyak cerita, salah satu yang paling berkesan adalah cerita FAM Trip saya ke Genting bersama para travel blogger.

FAM Trip dilakukan selama 4 hari 3 malam. Selama itu pula ada banyak keseruan di sana. Puncak FAM Trip terjadi di hari kedua di Genting, dimana hari itu 9 destinasi kami jajaki. Namun, ketika klimaks perjalanan telah ditempuh bukan berarti alur selanjutnya menjadi tak menarik. Walaupun personil sudah berkurang (minus Kak Eka Situmorang yang sudah pulang duluan), kami masih punya keseruan di Resorts World Genting.

(Baca juga: FAM Trip’s Diary: 9 Destinasi 9 Keistimewaan di Resorts World Genting)

Akrab dengan Nasi Lemak

Nasi lemak adalah sarapan kami selama beberapa hari di Genting. Dua kali pagi tepatnya, kami makan nasi lemak di Hotel On The Park (Theme Park Hotel). Nasi lemak kami ambil dan bawa dari Eatopia lalu bisa dimakan di sana atau dibawa ke kamar. Saya biasanya lebih suka makan di kamar. Belum lagi saat pulang dan pergi di pesawat, lidah dan perut ini begitu akrab dengan nasi lemak sebagai suguhannya. Tak heran kalau kami akhirnya menjadi ‘mabuk nasi lemak’ karena sering sekali makan nasi lemak selama beberapa hari di sana.

(Baca juga: Hello Resorts World Genting, Saya Datang…)

Tapi keakraban kami dengan nasi lemak justru jadi memori tersendiri, yang bahkan saat saya menulis ini pun jadi kangen nasi lemak dan kebersamaan saat FAM Trip. Ah, sepertinya mungkin harus ada reuni FAM Trip Resorts World Genting Batch 2 dengan sajian khusus nasi lemak nih, hahaha.

‘Merampok’ Boneka di Vision City Video Games Park

Tadinya saya mengira, setelah puncak acara FAM Trip di Genting kami akan menjalani hari-hari yang membosankan mengingat jadwal tak lagi sepadat sebelumnya. Namun, ternyata saya salah ketika pagi jelang siang saat itu kami dibawa ke Vision City Video Games Park Indoor di Mall Sky Avenue untuk bermain sepuasnya. Vision City Video Games Park adalah pusat game atau mainan indoor yang ada di Mall Sky Avenue. Ada ratusan macam mainan di sana dari yang remeh temeh menyenangkan seperti kayuh sepeda, capit boneka, memancing, putar fortune wheel hingga yang menguras energi seperti bermain basket atau dance.

THE GAMES AND GAMERS

Beruntungnya lagi, Jay dan pihak Resorts World Genting membekali kami dengan Ezy Cash Card, semacam member card yang bisa diisi ulang dengan nominal koin. Saat itu masing-masing dari kami dibekali dengan EziCash Card berisi 100 koin. EziCash Card ini bisa diisi ulang di counter yang terletak di pintu masuk Vision City atau bisa juga top up di mesin yang telah disediakan.

Siang itu, awalnya saya agak kebingungan untuk menggunakan EziCash Card ini karena mati gaya mau mainan apa. Jadilah saya mainan gebuk-gebukan kepala kucing. Itu lho mainan gebuk-gebukan kepala yang nongol dengan menggunakan palu. Kalau di Indonesia biasanya yang dipukul atau digebuk adalah kepala tikus. Ini adalah mainan favorit suami saya.

Puas dengan main gebuk-gebukan, saya menghampiri Raisa a.k.a Astari yang baru saja selesai bermain. Astari mengajak saya bermain dance. Pucuk dicinta ulam tiba, ini kesukaan saya kalau di rumah dulu (karena kaset i-box itu-itu aja dance-nya dan saya bosan jadi udah nggak pernah main lagi). Astari tahu aja kalau saya udah lama nggak melantai. Akhirnya saya dan Astari pun menghabiskan beberapa poin dengan dancing sampai heboh ditontonin orang, hahaha.

Bosan dengan dance, saya mencoba beberapa permainan lain dari balap mobil sampai tembak-tembakan. Ternyata menghabiskan 100 koin di kartu susah dan menguras energi juga ya, haha. Padahal kalau saya main di games zone sama suami rasanya kurang melulu. Lha ini sudah gonta-ganti mainan tapi tetap saja masih banyak isi kartunya.

Hingga akhirnya ‘virus’ itu ditularkan oleh Koko Sinyo (@kopertraveler.id) yang bilang bahwa ia menghabiskan koin dengan bermain putar fortune wheel. Jadi mainan ini semacam kita memutar sebuah papan bundar dan titik terakhir dimana papan berhenti akan menentukan apakah kita dapat hadiah atau zonk. Koko Sinyo dan beberapa peserta FAM Trip lainnya sudah berhasil menang hadiah plush toy bertema Haloween. Maka setelah makan siang, virus main fortune wheel itu pun benar-benar menular dan menggila pada peserta FAM Trip.

Setelah makan siang, counter fortune wheel pun kami kunjungi. Satu-persatu peserta FAM Trip mencari peruntungan demi sebuah plush toy Haloween berbentuk pumpkin dan juga laba-laba, termasuk juga saya, haha. Siang itu, hoki saya lumayan baik di awal-awal. Pertama kali main saya langsung menang boneka Purple Pumpkins. Entah di permainan ketiga atau keempat kalinya, saya lupa, saya menang lagi. Tapi seterusnya hoki saya habis. Sampai koin di dalam kartu habis saya cuma dapat 2 boneka pumpkin.

Selain saya, hampir seluruh peserta dapat boneka pumpkin. Nggak tanggung-tanggung, dapatnya lebih dari 1. Astari bahkan dapat 4 boneka (sampai-sampai dihibahkan karena takut nggak muat di tas). Counter fortune wheel pun ramai dan riuh oleh rombongan FAM Trip asal Indonesia. Suasananya kayak lagi nonton bola, sampai-sampai pengunjung lain nontonin kami. Setiap ada yang menang hadiah, sorak-sorai membahana bagai lihat pemain baru saja menggolkan bola. Bahkan mbak-mbak penjaga counter pun sampai ketawa-ketawa melihat kami.

Perjuangan belum selesai sampai masing-masing koin di kartu kami habis. Setelah makan malam, Jay memberi kami 1 lagi EziCash Card yang berisi 100 koin untuk dimainkan bersama. Atas kesepakatan semuanya, kami langsung menuju counter fortune wheel dan menghabiskan semua koin di sana. Beruntungnya saya menang satu lagi plush toy laba-laba. Sementara yang lain ada yang mujur karena dapat lagi, ada pula yang gigit jari karena beberapa kali memutar belum beruntung.

Makan Siang di Richard Cafe

Di sela-sela asyiknya bermain games zone, tak lupa kami menghabiskan waktu makan di tempat-tempat istimewa yang telah dijadwalkan. Siang di hari ketiga itu kami makan di Richard Café, sebuah tempat makan ala Paris yang terletak di Mall Sky Avenue. Richard Café memiliki tempat makan yang unik yang kalau dilihat dari atas, meja dan kursi untuk makan terletak di bangunan yang berbentuk kelopak bunga. Style penyajian hidangannya pun sangat fancy, ada makanan pembuka, main course, dan dessert.

Selain tempatnya yang unik dan instagramable, kafe ini juga memiliki signature drink yang tak kalah unik yaitu kopi yang dibuat dengan proses cold drip selama 6 jam. Kopi tersebut dimasukkan ke dalam alat seperti jam pasir lalu ditunggu tetesannya (dimana air tetesannya adalah lemon infused water) selama beberapa jam hingga akhirnya baru bisa dinikmati. Unik banget, kalau saya udah nggak sabaran pengen langsung glek, telan!

Siang itu, saya memilih English Breakfast Tea sebagai minuman makan siang. Maklum saja, saya nggak terlalu suka kopi. Padahal minuman unggulan di Richard Cafe ini adalah kopinya, tapi ya gimana saya nggak biasa ngopi. Toh English Breakfast Tea-nya juga tak kalah enak kok.

Makanan pembuka kami siang itu adalah Escargot. Iya, makanan Perancis yang terkenal ada bekicotnya itu. Escargot ini dihidangkan dengan pendamping roti baguette yang telah dipanggang. Rasa Escargot sedikit banyak kok mirip sup krim jamur ya di lidah saya, haha. Maklum lidah ndeso. Tapi sejauh saya makan saat itu sih enak-enak aja dan masih nyetel di lidah.

Sementara untuk main course kami ditawari salmon atau ayam. Saya pun memilih salmon. Menu yang bernama Saumom Roti ini sejatinya adalah irisan baked salmon yang disajikan dengan dressing Lemon Butter Sauce dan disajikan bersama kentang serta wortel yang telah dipanggang. Rasa Saumon Roti ini cukup masuk di lidah saya apalagi setelah dicampur dengan perasan lemon dan sausnya. Salmonnya pun lembut banget, jadi nggak butuh effort banyak buat menelan, langsung lep!

Selain makan menu pilihan sendiri, nggak afdol juga kalau saya nggak icip-icip menu orang lain. Apalagi Astari yang sudah kenyang mempersilakan siapa saja buat mencicip menu pesanannya yaitu Poulet Chasseur yaitu daging ayam yang diberi mushroom sauce dan disajikan dengan salad serta french fries. Menu yang ini pun tak kalah enaknya, sangat cocok di lidah saya. Oh ya, menu-menu di Richard Café ini memang jarang yang menggunakan nasi sebagai sumber karbohidratnya. Mereka kebanyakan menggunakan kentang yang mungkin disesuaikan dengan lidah Paris, tempat dimana konsep café ini terinspirasi.

Acara makan-makan belum selesai tatkala piring-piring main course sudah diambil oleh pelayan. Acara makan siang saat itu ditutup dengan dessert berupa Cremebrulle sebuah makanan penutup yang terbuat dari campuran susu, krim dan kuning telur. Rasa Cremebrulle ini manis dan lembut di mulut. Karena rasa mayoritas Cremebrulle adalah manis, sangat cocok ketika dimakan sambil minum English Breakfast Tea. Makanan penutup ini pun sukses membuat perut saya begah siang itu akibat kekenyangan. Kekenyangan tapi puas banget!

APPETIZER-MAIN COURSE-DESSERT

Makan Malam di Coffee Terace

FAM Trip di Resorts World Genting sejatinya bukan cuma keliling dari satu destinasi wisata ke destinasi wisata lain di Genting tetapi juga keliling dari satu tempat makan ke tempat makan lainnya. Kali ini tempat makan pamungkas yang saya cobain adalah Coffee Terace yang lokasinya masih di Mall Sky Avenue.

(Baca juga: FAM Trip’s Diary: Kekenyangan di Bubbles & Bites hingga Mengenal Sejarah Genting di The Visitors Galleria)

Coffee Terace adalah tempat makan sagala aya kalau kata orang Sunda, alias semua ada. Konsep tempat makan ini adalah all you can eat. Jadi ketika masuk, kita bisa mengambil dan memilih makanan apa saja yang terhidang di buffet. Banyak varian makanan di sana mulai dari Western, Asian, Chinese, Japanese, Taste of Malaysia, buah-buahan, kue-kue kecil, es krim, sampai minuman.

THE BUFFETS


THE DESSERTS

Karena pas banget dengan waktu makan malam, saya (dan teman lainnya pun) sedikit kalap. Saya mengambil makanan Japanese (sushi dan sashimi), buah-buahan, dan kue-kue kecil. Sementara di meja, makanan-makanan lain sudah terhidang karena teman-teman pun kalap mengambil banyak makanan seperti saya. Alhasil kita saling icip pas sudah sampai meja karena khawatir cuma lapar mata dan semuanya diambil.

Selain makanannya yang amat beragam, ruangan di Coffee Terace pun sangat luas dan mampu menampung ratusan orang. Nggak heran kalau banyak rombongan wisatawan yang makan di tempat ini. Makanannya bisa mewakili lidah manapun. Saya malam itu cukup puas dengan makan sushi, sashimi, buah, ngemil beberapa kue kecil, dan icip-icip makanan teman di kanan kiri. Malam itu pun saya bisa tidur nyenyak karena perut kenyang.

Anyway, ini adalah tulisan terakhir saya tentang FAM Trip di Malaysia. Trip ke Malaysia ini adalah salah satu trip favorit saya di tahun ini. Pasalnya, saya yang anak bawang banget di dunia blogging dan social media bisa bertemu dengan mereka-mereka yang sudah mumpuni dan lama berkecimpung di dunia tersebut. Awalnya, saya merasa inferior karena memang belum seberapa pengalaman dibanding mereka, follower belum seberapa, ditambah lagi PV blog juga pas-pasan. Saya udah menyangka bakal dikucilkan karena secara hitungan angka-angka masih jauh di bawah banget.

Ternyata nggak dooonk!!!

Peserta FAM Trip ini asyik-asyik banget. Mereka yang followernya sudah banyak dan namanya sudah dikenal sangat amat humble dan ramah. Jauh dari prasangka saya sebelumnya. Aaahh thanks to Jay, Alicia, dan Resorts World Genting yang sudah arrange FAM Trip ini. Saya bukan cuma bisa dapat pengalaman, jalan-jalan gratis, tetapi juga teman baru plus pelajaran yang diambil dari mereka.

 

 

7 Comments
Previous Post
Next Post