Cerita Program Hamil Ketiga: Food Response Test

Kalau ditanya apa bagian paling menyedihkan dari program hamil kali ini adalah nggak boleh makan makanan yang biasa saya makan. Bukan lagi tentang sakitnya suntik ILS, ambil darah, atau menghadapi kenyataan tagihan di kasir yang nilainya lumayan. Kalau untuk 3 hal itu, kayaknya saya udah baal dan berprinsip insyaallah rezeki pasti ada aja. Tapi kalau disuruh mengurangi atau bahkan tidak makan makanan yang biasa saya makan, huhuhu menyedihkan sih.

Dan itu terjadi sama saya.

Jadi begini ceritanya. Saya harus menjalani Food Response Test (FRT) atau uji respon makanan sebagai bagian dari proses ILS. FRT ini gunanya untuk mengetahui saya alergi terhadap makanan apa saja atau gampangnya disebut tes alergi makanan. Tadinya saya dan suami sempat bingung ini tes gimana dan faedahnya buat apa, bahkan sempat berpikiran buat nggak usah menjalankan tes ini tapi ternyata jadi juga setelah bertanya kanan kiri.

(Baca juga: Cerita Program Hamil Ketiga: Suntik ILS dan Tes ASA)

Jadi, gampangnya FRT ini adalah tes untuk mengetahui di tubuh kita ada alergi terhadap makanan apa saja. Saat alergi makanan itulah, antibodi saya bekerja lebih keras sedangkan si antibodi ini sedang berada dalam proses ´dijinakkan´ melalui suntik ILS. Setelah tahu makanan apa saja yang mengandung alergi, barulah jadi tugas saya buat menghindarinya.

Selain tes alergi makanan seharusnya ada tes alergi benda lainnya seperti debu, bulu, kecoa, dll tapi entah mengapa nggak disarankan oleh Prof Jacoeb buat dites ke saya. Padahal pas saya tanya ke Nanda, teman saya yang sama-sama promil di Prof Jacoeb, dia justru harus menjalani tes alergi lengkap. Ya sutralah nggak apa-apa, kan lumayan ngirit juga, ihik.

FRT ini dilakukan oleh dokter spesialis kulit dan kelamin. Seperti biasa, kalau di Sammarie, tempat saya promil, harus terlebih dahulu daftar dan janjian kalau mau konsultasi sama dokter termasuk SpKK (spesialis kulit dan kelamin). Oh ya, ada satu syarat yang saya ingat kalau mau FRT ini yaitu tidak boleh mengonsumsi antibiotik sebelumnya atau harus dijeda 3 hari jika ingin tes. Sedangkan saya sendiri masih mengonsumsi antibiotik (isoprinosine) buat terapi TORCH di hari Selasa dan Rabu. Itu artinya Hari Sabtu adalah hari yang tepat buat FRT. Pas banget dengan jadwal praktik spesialis kulit di Sammarie Wijaya yang ada di Hari Sabtu.

(Baca juga: Cerita Program Hamil Ketiga: Baca Hasil Lab dan Panen Obat)

Sebelumnya, saya udah janjian dengan dokter spesialis kulit. Namun, karena macet banget di perjalanan akhirnya pas sampai sana dokternya keburu pulang, hahaha. Sampai saya dan suami diteleponin beberapa kali sama pihak RS-nya gara-gara dokternya nungguin. Untung masih ada dokter kulit selanjutnya yaitu dr Cut Natya Rucitra, SpKK atau dr Tita yang juga anak Prof Jacoeb. Saya pun akhirnya melakukan FRT sama beliau.

Harus nunggu sekitar 20-30 menit sih untuk dipanggil oleh dr Tita. Ya sudah lah ya saya nurut aja, salah saya juga kenapa datang telat. Saat sudah dipanggil dan masuk ke dalam ruangan, yang ada di bayangan saya untuk FRT harus ambil darah dulu di lab. Eh ternyata salah. FRT justru dilakukan di dalam ruangan praktik dokter.

(Baca juga: Cerita Program Hamil Ketiga: Menghadapi Berbagai Tes Laboratorium)

Kira-kira begini step test-nya:

  1. Pertama-tama, dr Tita dibantu dengan suster membersihkan kulit tangan saya dan menggambar garis di tangan saya, dibuat kotak-kotak menjadi 21 bagian. Digambarnya beneran pakai pensil dan penggaris lho.
  2. Ke 21 bagian kotak itu akan diberi semacam zat ekstrak dari makanan sehari-hari yang bisa dikonsumsi, antara lain: udang, kepiting, bandeng, kakap, kuning telur, putih telur, coklat, kacang mete, kacang tanah, kedelai, tomat, wortel, kerang, nanas, kopi, susu sapi, teh, ayam negeri, tongkol, cumi-cumi, dan gandum.
  3. Selanjutnya 21 macam zat ekstrak itu diteteskan di atas kulit dan di setiap tetesannya dokter akan mencungkil sedikit permukaan kulit dengan ujung jarum kecil.
  4. Nah tahapan selanjutnya inilah yang paling membosankan karena saya harus menunggu sekitar 20 menit untuk tahu reaksi seperti apa yang terjadi di kulit. Selama itu pula saya nggak boleh menggerakkan tangan saya. Reaksi yang terjadi selama atau setelah 20 menit itu bisa berbeda-beda, bisa membuat kulit kemerahan atau bentol. Atau kalau yang parah banget punya alerginya bisa gatal-gatal bahkan bengkak.
  5. Setelah 20 menit berselang, tetesan ekstrak makanan di atas kulit saya dihapus untuk dilihat reaksinya. Beberapa ada yang kemerahan, beberapa ada yang bentol keciiiilll, namun kebanyakan sih nggak ada reaksi apa-apa.

Adapun cara membaca hasil FRT ini kira-kira seperti ini:

  • Jika hasilnya negatif (-) berarti zat yang diujikan aman buat saya alias nggak menimbulkan pengaruh apa-apa. Saya boleh makan makanan tersebut tanpa takut terkena alergi.
  • Jika hasilnya positf 1 (+1) berarti saya tidak boleh memakan zat makanan tersebut, tetapi saya boleh memakan turunannya.
  • Jika hasilnya positif 2 (+2) berarti saya tidak boleh memakan zatnya langsung maupun turunannya.
  • Jika hasilnya positif 3 (+3) atau lebih dari itu berarti saya benar-benar pantang atau harus menghindari makanan tersebut beserta turunannya.

Dari hasil FRT di kulit saya, hasil yang didapat adalah:

  • Angka uji udang +2
  • Angka uji bandeng +1,5
  • Angka uji kopi +4
  • Angka uji ayam negeri +2
  • Angka uji tongkol +1
  • Angka uji cumi-cumi +1
  • Selain itu negatif

Kesimpulannya, dr Tita hanya menyarankan saya buat menghindari: udang, kopi, dan ayam negeri. Hmmm, perkara gampang-gampang susah sih ini buat saya. Buat menghindari udang masih okelah karena saya nggak maniak-maniak amat dan jarang makan seafood. Sementara kopi saya blass nggak suka dan bukan coffee lover, sebulan sekali aja belum tentu ngopi. Sedangkan ayam negeri ini nih yang paling susah.

Okelah saya nggak makan daging ayamnya, tapi kan kalau makan bubur, nasi goreng, nugget, mie, semua-muanya ada ayamnya dan rata-rata ayam negeri, huhuhu. Tapi saya harus bisa lah, ya paling nggak sedikit-sedikit mengurangi. Dimulai dari mengganti menu ayam goreng atau bakar dengan ikan, lele, bebek, atau ayam kampung. Dan itu yang sedang dan masih saya lakukan sampai saat ini. Walau kadang-kadang masih colongan makan ayam negeri sih karena nggak ada pilihan lauk lainnya.

Oh ya, buat rincian biaya Food Response Test ini nanti akan saya update lebih lanjut ya, soalnya kuitansi pembayarannya keselip entah dimana. Yang saya ingat sih masih ratusan ribu biayanya, belum sampai jutaan. Nanti kalau kuitansinya sudah ketemu, saya janji akan update harganya.

 

 

9 Comments
Previous Post
Next Post