Cerita Program Hamil Ketiga: Suntik ILS dan Tes ASA

“Angkanya tinggi nih, suntik ILS ya,” begitu kira-kira kalau tidak salah kalimat yang dilontarkan Prof Jacoeb setelah melihat hasil uji Antibody Sperm Autoimmune (ASA).

Saya nggak ngerti awalnya apa yang dimaksud Prof Jacoeb. Bahkan setelah keluar dari ruangan konsultasi saat itu. Yang saya paham hanyalah antibodi tubuh saya terlalu tinggi hingga menyebabkan sperma yang masuk dianggap benda asing. Belum sampai membuahi, si sperma sudah mati duluan. Begitulah kira-kira.

Dari beberapa sumber yang saya baca, gampangnya begini, tubuh perempuan memiliki kadar ASA yang tinggi sehingga membuat antibodi menyerang terlebih dahulu ke sperma. Ibarat sebuah kerajaan, antibodi berada di garis depan gerbang dan menyerang sperma sebelum masuk dan berhasil membuahi sel telur. Sperma dianggap musuh dan dimatikan. Wanita dengan antibodi sperma tinggi akan memberikan reaksi berlebihan terhadap protein pada sperma, sehingga sperma ditolak dan menjadi tidak berfungsi. Oleh karena itu, antibodi yang terlalu tinggi dan ‘ganas’ ini harus ditaklukan dengan suntik ILS (Imunisasi Leukosit Suami) atau yang sering juga disebut PLI (Paternal Leukocyte Immunization).

Sebelumnya nih saya perlihatkan dulu foto hasil tes ASA yang pertama:

Gampangnya, antibodi dalam tubuh saya terlampau tinggi ketika bertemu sperma. Jadi, sebelum sempat sperma membuahi sel telur sudah diserang oleh antibodinya yang berada di mulut rahim. Sperma jadi seolah seperti virus yang dilumpuhkan. Belum juga indehoy ketemu sel telur, eh si sperma ini udah keburu mati.

Nah, konon standard untuk hamil normalnya adalah 1:64. Sementara saya hasil yang di luar normalnya masih 1:16384 alias antibodinya terlalu tinggi. Oleh karena itu, saya dan suami punya pekerjaan rumah harus mengubah hasilnya naik 8 tingkat dengan suntik ILS. Namun, sebelum suntik ILS ini terlebih dahulu harus didahului dengan pra-ILS.

Pra-ILS

Ada tahapan sebelum menuju ILS yaitu Pra-ILS. Pra ILS adalah kami terlebih dahulu berkonsultasi pada dokter yang menangani kami yaitu dr Sundari. Saat Pra-ILS, dokter menjelaskan ketentuan ILS antara lain:

  • Suami harus menjalani beberapa tes terlebih dahulu, antara lain tes HIV dan tes virus (HCV, Rubella, Tokso) untuk mengetahui tidak ada penyakit menular yang diidap suami dan bisa ditularkan melalui darah
  • Disarankan memakai kondom saat berhubungan intim kecuali saat masa subur
  • Disarankan untuk mengikuti Food Respon Test (nanti selanjutnya akan saya ceritakan di satu artikel tersendiri) untuk mengetahui makanan apa saja yang menyebabkan alergi sehingga antibodi jadi naik
  • Imunisasi dilakukan 3 kali per 3 minggu sekali

Setelah mengetahui hasil tes darah suami saat Pra-ILS, baru deh dinyatakan apakah bisa maju untuk ILS atau tidak. Alhamdulillah, darah suami saya bersih, nggak ada terkandung penyakit dan virus apapun jadi bisa langsung maju untuk ILS beberapa minggu kemudian. Oh ya, nanti berapa biaya pra-ILS, ILS, sampai tes ASA saya total jenderal di bawah ya.

Tes ILS

Prof Jacoeb menyarankan saya buat suntik ILS selama 3 kali lalu dilanjut evaluasi. Saya menjalani 3 kali suntik ILS setiap Hari Rabu dengan frekuensi 3 minggu sekali. ILS ini dilakukan 3 kali selama 1 periode, setelah itu akan dilakukan tes ASA (mencampurkan darah dengan sperma) dan evaluasi hasil. Setelah hasil didapat barulah diperoleh keputusan apakah hasilnya sudah baik dan stop ILS atau harus dilakukan ILS satu periode lagi.

Awalnya, sebelum ILS saya dan suami masih sempat gamang. Pertama, kami belum ngerti sepenuhnya tentang ILS ini. Sungguh! Apalagi ada Food Respon Test juga yang bikin saya bingung, apakah harus dilakukan sebelum atau saat ILS. Sampai-sampai saya terlebih dulu nanya Nanda, teman saya yang pernah wawancara buat program acaranya, Ayo Hidup Sehat. Karena dia juga sama kasusnya, suntik ILS dan harus menjalani tes alergi. Tapi setelah chat sama Nanda saya jadi sedikit ngeh tentang proses ini.

(Baca juga: Rasanya Jadi Narasumber di Program Ayo Hidup Sehat TV One)

ILS ini praktisnya adalah menyuntikkan sel darah putih suami ke istri. Sebelum disuntikkan, suami akan diambil darahnya terlebih dahulu di laboratorium. Kemudian darah tersebut diproses untuk dipisahkan antara sel darah merah dan darah putih. Prosesnya memakan waktu selama 1,5-2 jam. Hasilnya adalah sel darah putih suami yang siap disuntikkan ke istri.

Nah, karena antibodi yang tinggi inilah saya harus melakukan Food Respon Test (tes alergi makanan) buat tahu makanan apa saja yang bisa memicu alergi. Karena saat kita alergi, si antibodi ini semakin kuat buat melindungi tubuh kita. Antibodi melemah justru saat kita sakit. Di beberapa kasus yang pernah saya baca, pasien antibodi ini justru disarankan dokter buat berhubungan saat si istri nggak enak badan karena di situ si antibodi lagi lemah.

Pada ILS pertama kali, saya dan suami masih gagap tentang bagaimana teknisnya. Kami pun datang jam 5 sore kurang karena jadwal praktik dr Sundari adalah jam 5. Ternyata dokternya baru datang jam 05.30 sore. Setelah dipanggil, kami dikasih tahu sama dokternya tentang teknis suntik ILS ini. Untuk langkah pertama, suamilah yang dilakukan tindakan terlebih dahulu dengan diambil darahnya di lab.

Karena masih pertama, kami masih gagap dan belum tahu strateginya. Jadilah kami harus menunggu 1,5-2 jam di RS. Rasanya tentu bosan banget apalagi RS-nya jauh dari keramaian. Udah gitu, saya dan suami kelaparan karena nggak sempat makan takut telat dan dokternya keburu datang. Karena have no idea dan perut keroncongan, kami pun memutuskan buat makan di tempat terdekat. Tempat makan paling dekat ya warung pecel lele di depan RS yang berupa warung tenda.

Sambil menunggu waktu saya dan suami pun makan di situ. Sayangnya, habis makan saya merasa bersalah karena kontradiktif sama apa yang saya lakukan. Lho kenapa? Lha wong saya hitungannya kan lagi berobat, berusaha sehat lha kok makannya pecel lele yang notabene jauh dari sehat, digoreng pakai oli samping (saya menyebut minyak hitam bekas goreng lele dengan oli samping), plus makannya di warung sebelah got. Gimana nggak merasa bersalah coba.

Akhirnya di ILS kedua dan ketiga saya punya strategi. Biasanya kami usahakan suami duluan yang sampai di RS buat ambil darah di lab. Sementara saya bisa berangkat nyantai naik Transjakarta. Jadi ketika suami udah selesai ambil darah, dia tinggal jemput saya di Terminal Blok M sebelum Maghrib. Waktu menunggu pun jadi nggak begitu menjenuhkan.

Biasanya setelah jemput saya, kami bisa makan atau kemana dulu sebelum akhirnya hasil sel darah putihnya jadi. Atau kalau lagi malas kemana-mana, kami bawa cemilan dari rumah dan menghabiskan waktu di RS dengan browsing, nonton TV (kalau channel di ruang tunggu RS lagi bagus), Youtube-an, atau streaming lagu buat membunuh waktu. Biar nggak boros saat streaming lagu, bisa banget nih beli JOOX VIP murah dari Tokopedia. Pokoknya selama ada smartphone di tangan dan cemilan di tas, waktu menunggu nggak berasa. Apalagi kalau Hari Rabu pasien ILS cenderung sedikit dibandingkan Sabtu.

Walaupun sudah sering tubles sana tubles sini pakai jarum suntik selama program hamil, tapi bagi saya suntik ILS ini adalah proses yang paling menyakitkan. Sebelum suntik yang pertama, dokter mewanti-wanti jika bisa saja terjadi efek setelah imunisasi seperti pegal, gatal-gatal, atau bengkak. Namun jika efeknya parah, bisa balik ke RS buat mendapatkan penanganan.

Dan benar saja ternyata suntikan ILS sakit banget. Jarumnya disuntikan di daerah tangan antara pergelangan tangan dan sebelum lengan. Walaupun saya udah bolak-balik kena suntikan pas ambil darah, suntikan yang ini rasanya asoy banget. Padahal sebelumnya juga sudah dioles kapas alkohol terlebih dahulu. Tapi tetap saja efek pegalnya berlangsung lama dan kerasa sakit.

Saya bahkan mengamati setiap perempuan yang habis keluar dari ruangan suntik ILS mukanya nyengir penuh kesakitan semua dengan tangan disangga. Sungguh pengorbanan buat dapat anak itu berat, Jenderal! Sleding satu-satu nih buat yang nanyain ‘Kok nggak hamil-hamil?’ *mendadak emosi jiwa*

(Baca juga: Jangan Katakan Ini Pada Perempuan yang Belum Memiliki Anak)

Tes ASA

Setelah menjalani 3 kali suntik ILS, kami pun direkomendasikan untuk uji ASA kembali buat mengetahui apakah PR yang diberikan sudah berhasil. Uji ASA ini adalah dengan cara mencampurkan darah ke dalam sperma.

Untuk uji ASA, suami saya terlebih dahulu diambil sampel spermanya di RS. Setelah itu barulah saya (di hari yang sama) diambil darahnya di lab. Tes ASA dilakukan pada 24 Januari 2018.

Beberapa minggu setelah Tes ASA, kami pun ke Prof Jacoeb buat mengetahui hasilnya. Ada sedikit berita baik karena hasilnya naik 3 tingkat. Tapi juga masih ada PR lagi karena masih harus naikin 5 tingkat lagi. Prof Jacoeb pun menyarankan kami buat suntik ILS sebanyak 1 periode lagi which is 3 kali suntik. Setelah itu baru tes ASA lagi.

Jadilah sekarang saya baru mau mulai suntik ILS lagi per Hari Rabu. Doakan ya semoga nanti hasilnya baik jadi nggak perlu mengulang suntik 1 periode lagi.

Biaya ILS dan ASA

  • Pra ILS (konsultasi dan cek laboratoriun): Rp 3.702.000
  • ILS ke 1 (konsultasi dan biaya suntik) : Rp 1.115.000
  • ILS ke 2 (biaya suntik): Rp 945.000
  • ILS ke 3 (biaya suntik): Rp 945.000
  • Tes ASA: Rp 941.000

Semoga postingannya bisa mencerahkan kalian-kalian yang akan program hamil atau memiliki kondisi yang mirip saya ya. Tetap semangat! Insyaallah rezeki sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa.

 

 

9 Comments
Previous Post
Next Post