Cerita Program Hamil Ketiga: Menghadapi Berbagai Tes Laboratorium

Halloooo…

Akhirnya bisa melanjutkan lagi nih cerita tentang program hamil ketiga yang akhir-akhir ini progress-nya sudah lumayan banyak. Bulan lalu akhirnya yang ditunggu-tunggu yaitu menstruasi datang juga setelah looooong loooong time awaiting. Setelah menstruasi datang, barulah segala cek laboratorium bisa dimulai. And here we are, menghadapi berbagai cek laboratorium yang nggak hanya menyita waktu dan tenaga tetapi juga uang.

(Baca juga: Cerita Program Hamil Ketiga: Bye Viagra, Welcome Menstruasi)

Setelah menstruasi datang, kewajiban saya sebagai pasien adalah melapor tanggal hari pertama haid ke suster di SamMarie. Lapornya hanya via telepon ke SamMarie dan bilang “Mau lapor haid”, maka bagian penerimaan telepon akan langsung ngeh dan menyambungkan langsung ke perawatnya Prof Jacoeb.

Saat itu saya haid pada tanggal 23 Agustus 2017. Suster menghitung kewajiban saya untuk periksa:

  • Cek hormon di hari ke 7-8 jatuh pada tanggal 29 Agustus 2017
  • HSG di hari ke 8-9 jatuh pada tanggal 31 Agustus 2017
  • USG Folikel di hari ke 11-12 jatuh pada tanggal 2 September 2017
  • Cek hormon dan mikrokuretase dihari ke 21-22 jatuh pada tanggal 12 September 2017

Selain cek yang telah ditentukan tanggalnya itu, ada beberapa tes laboratorium yang bisa dibarengi sekalian seperti tes darah lengkap, tes urine, tes TORCH, dan cek sperma.

Namun, selama menunggu cek lab ini saya sedikit bingung. Pasalnya, di kertas terakhir yang diberikan Prof Jacoeb ditulis tanpa mikrokuretase namun yang di-check list hanya tes hormon di hari ke 7-8 dan 21-22. Ini berarti yang cek HSG dan USG Folikel masih gambling apakah dilakukan atau tidak. Sementara itu, saya juga belum pernah tes HSG. Khawatirnya saya dan suami adalah kalau ada satu step yang terlewati maka kami akan mengulang dari awal lagi. Selain rugi biaya, otomatis kami juga rugi tenaga dan waktu.

Belum lagi saya sudah merencanakan buat jalan-jalan ke Lombok sama Cenie, sahabat saya. Apalagi Cenie juga sudah mengajukan cuti tanggal 3-8 September 2017 jadi susah buat ditarik kembali. Saya jadi bingung dan cuma bisa menjanjikan ke Cenie kalau semua keputusan dilakukan setelah saya cek lab tahap pertama yaitu tanggal 29 Agustus 2017, termasuk keputusan membeli tiket pesawat.

Cek Laboratorium Tahap 1

Sebelum cek lab tahap pertama ini, suster dari SamMarie akan menelepon dan mengingatkan kita bahwa ada jadwal cek lab. Saya dan suami juga harus puasa dulu 10-12 jam sebelumnya. Hari itu, kami bermaksud cek hormon FSH dan LH (untuk saya), cek darah lengkap (untuk saya dan suami), tes TORCH (untuk saya), dan cek sperma (untuk suami).

Begitu sampai di SamMarie, kami pun langsung disuruh ke laboratorium yang letaknya di belakang dekat apotek. Jangan bayangkan lab disini besar ya, karena ukurannya relatif kecil kayak kamar. Tapi alat-alatnya sepenglihatan saya sih lengkap. Sebelum ambil darah, saya ungkapkan dulu kebingungan status saya apakah hanya cek hormon atau ada tindakan lain (HSG, USG Folikel, dan mikrokuretase) juga. Beruntung, petugas lab juga sangat membantu saya untuk proaktif menanyakan pada susternya Prof Jacoeb. Saya memberikan 2 kertas rujukan (di pemeriksaan tahun 2016 lalu dan yang terbaru di bulan Juli 2017 lalu). Kata petugas lab setelah konfirmasi, kertas yang terbarulah yang jadi rujukan. Jadi kertas rujukan yang lama dibuang.

Setelah semuanya terang, saya dan suami pun melakukan pengambilan darah. Pengambilan darah kali ini lumayan menyita tenaga. Pasalnya saya belum makan dan minum sama sekali. Suami pun begitu. Saya diambil 5 tabung darah, sementara suami hanya 2 tabung. Selain darah, kami pun harus menampung urin juga. Namun, hanya suami saya yang hari itu menampung urin karena saya masih haid khawatir tercampur darah. Jadi, pengambilan urin saya dilakukan di hari ke 21-22.

Setelah itu, saya dan suami ke laboratorium andrologi bermaksud untuk cek sperma. Syarat cek sperma adalah puasa mengeluarkan sperma selama minimal 3 hari dan maksimal 5 hari. Ternyata, syarat yang ini tidak terpenuhi oleh suami yang sudah lebih dari 7 hari tidak mengeluarkan sperma. Petugas pun menyarankan untuk cek di lain hari lagi dan memenuhi persyaratan cek sperma.

Kami lalu melanjutkan ke pembayaran. Sambil menunggu pembayaran, saya konfirmasi lagi status saya sama suster. Saat disinilah suster bingung lagi, apakah saya harus melakukan HSG, USG Folikel, dan mikrokuretase juga. Saya juga sambil memberikan kertas rujukan terakhir dari Prof Jacoeb yang berisi hanya ceklis tes hormon.

(Baca juga: Cerita Program Hamil Ketiga: Hallo, Prof Jacoeb)

Sambil menunggu kejelasan status saya, proses pembayaran kami pun selesai. Saya sih sudah mengira cek darah lengkap dan hormon akan habis lebih dari 10 juta. Sebelumnya saya sudah membaca beberapa tulisan yang memuat program hamil di Prof Jacoeb dan memang hampir semuanya cek lab itu menghabiskan dana belasan juta. Tapi pas petugas kasir membeberkan biaya cek lab kami hari itu sebesar Rp 11 juta sekian, tetap saja ada yang mencelos. Ya sudahlah, toh rezeki bisa dicari lagi.

Setelah pembayaran selesai, saya masih menunggu kabar kejelasan status saya. Nggak berapa lama, suster pun datang dan memberitahukan kalau di status saya Prof Jacoeb menulis ‘hanya cek hormon saja’. Itu artinya saya nggak perlu HSG, mikrokuretase, ataupun USG folikel. Saya bahkan sampai menegaskan sama susternya dan bilang mau keluar kota. Makanya saya khawatir takut kalau pas tanggal cek, pas saya di Lombok. Suster pun bilang, silakan keluar kota dan kembali lagi saat hari ke 21-22 haid untuk cek tahap selanjutnya.

Yippieee, hari itu pun saya langsung mengabari Cenie kalau kami jadi ke Lombok tanggal 3 September 2017. Pulang dari SamMarie, saya dan suami pun kalap makan nasi padang karena beralibi lemas habis ambil darah, hahaha.

Cek Laboratorium Tahap 2

Masa penantian untuk cek lab tahap 2 saya habiskan dengan jalan-jalan di Lombok. Namun, sebelum itu sempat ada telepon dari Sam Marie yang mengingatkan saya untuk HSG dan USG folikel. Bahkan, sampai telepon ke suami saya. Saya jadi bimbang lagi deh, padahal tiket dan semua persiapan untuk ke Lombok udah fix. Saya cuma takut ada step yang terlewati dan harus mengulang lagi dari awal.

Saya tanya ke suami gimana enaknya. Kata suami, kami mending berpedoman sama status terakhir yang dikatakan suster saat cek lab tahap 1 di SamMarie. Kalau memang harus mengulang, pilihannya ada 2 yaitu mengulang semua tahap atau putar haluan dan balik lagi ke dr Budi Wiweko untuk program hamil.

(Baca juga: Tak Bisa Ke Lain Hati)

Satu hari sebelum hari ke 21-22 haid (12 September 2017) saya pun ditelepon kembali oleh pihak SamMarie yang mengingatkan untuk mikrokuretase. Iya, yang diingatkan adalah mikrokuretase karena butuh puasa terlebih dahulu sebelum prosesnya dilakukan. Saya pun bilang ke suster bahwa Prof Jacoeb tidak merekomendasikan untuk mikrokuretase. Setelah sempat bingung sampai menelepon 3 kali, akhirnya suster membenarkan bahwa saya tidak perlu mikrokuretase.

Hari Selasa, 12 September 2017 saya pun datang ke SamMarie setelah selesai jadi narasumber buat acara Ayo Hidup Sehat di TV One. Saya datang untuk cek darah, setor sampel urine, dan cek sperma untuk suami. Enaknya di SamMarie adalah bisa cek lab kapan pun (karena laboratorium buka 24 jam) dan cek sperma siang (lab andrologi buka hingga pukul 18.00). Sementara dulu saat di Klinik Yasmin RSCM Kencana, cek sperma harus sebelum jam 10.00 pagi.

Saya pun langsung menuju laboratorium untuk ambil darah. Kali ini cuma diambil 2 tabung dan tanpa puasa ter;ebih dahulu. Tapi ya tetap aja saya lemas, soalnya belum makan dari pagi dan hanya ngemil kue sus saat di Studio Evo. Selain ambil darah, saya juga menyetor sampel urin untuk diteliti.

Setelah selesai dari Laboratorium Westerindo (nama lab di SamMarie) kami pun menuju lab andrologi di sampingnya untuk tes sperma. Alhamdulillah, hari itu semua syarat terpenuhi dan suami pun bisa cek sperma sekalian. Setelah memberikan sampel sperma, petugas pun memberikan kami sedikit penjelasan. Petugas lab mengambil sampel cairan sperma dan memperlihatkan pada kami melalui layar komputer yang telah terhubung dengan mikroskop.

Kata petugas, sperma suami saya secara kasat mata relatif banyak dan ada. Pasalnya, beberapa kasus justru ada cairannya namun tidak ada sperma sama sekali di dalamnya. Kasus seperti ini yang biasanya jadi lama penanganannya saat program hamil. Kami juga ditunjukkan bagaimana ciri sperma yang normal dan abnormal. Namun, saat itu petugas belum bisa memberikan analisis yang banyak karena analisis menyeluruh akan dilakukan dalam beberapa hari. Setelah selesai semuanya (termasuk dengan cek darah, urine, dan hormon), dokumen-dokumennya akan dijadikan satu dan disetorkan ke Prof Jacoeb untuk dianalisis.

Total cek lab (tidak termasuk HSG, mikrokuretase, dan USG folikel) tahap 1 dan 2:

  • Biaya cek darah lengkap dan hormon istri: Rp 2.108.000
  • Biaya cek darah suami: Rp 1.503.000
  • Tes TORCH: Rp 7.895.000
  • Cek lab hari ke 21 haid: Rp 1.584.000
  • Cek sperma suami: Rp 1.466.000

TOTAL JENDERAL CEK LAB: Rp 14.556.000

Fiuuuhhhh, lumayan lah ya harga satu motor. Eits, tapi kan katanya nggak boleh itung-itungan kalau buat kesehatan. Jadi, doakan saja saya dan suami bisa tetap diberikan kelancaran rezeki agar kita bisa tetap menjalankan ikhtiar program hamil ini dengan baik. Doakan juga semua hasil cek lab kami baik sehingga bisa terus maju ke tahap-tahap selanjutnya dalam program hamil.

Semoga postingan ini bermanfaat untuk kamu yang mau program hamil.

 

 

7 Comments
Previous Post
Next Post