Home Sweet Home, Seperti Apa Sih?

Sejak saya kecil, saya suka berangan-angan tentang rumah impian saya. Karena kebanyakan nonton tv, saya suka bermimpi punya rumah yang besar. Saya pengen punya rumah kayak di sinetron-sinetron yang punya ruang makan khusus dan kolam renang. Maklum, adegan-adegan di televisi yang banyak dilakukan di meja makan sambil sarapan atau makan malam membuat saya berangan kalau punya rumah dengan meja makan besar itu asyik banget. Meja makan jadi tempat berkumpul, makan, dan ngobrol bareng.

Semakin bertambah umur saya semakin menyadari bahwa untuk punya rumah besar kayak di sinetron itu berat banget. Bukan mustahil ya, tapi berat banget karena saya realistis. Saya nggak bilang mustahil karena siapa tahu suatu hari saya dapat rezeki nomplok bisa beli rumah macam di lingkungan elite Pondok Indah. Saya pun akhirnya mengubah kriteria rumah idaman saya. Tapi yang pasti sampai sekarang saya masih punya impian punya rumah yang dilengkapi dengan kolam renang. Semoga suatu saat saya bisa mewujudkannya.

Ngomong-ngomong soal home sweet home, rupanya tak melulu soal interior rumah yang asyik yang menunjang rumah jadi homy banget. Home sweet home itu bagi saya mencakup faktor eksternal dan internal seperti lingkungan, interior, dan kondisi sosial di luar rumah. Ini dia kriteria home sweet home ala saya:

1. Rumah tanpa beban

Di tengah keterbatasan saya dan suami, kami patut bersyukur karena di usia muda sudah memiliki rumah sendiri. Rumah itu berada di pinggiran Jakarta dan kami beli secara cash. Jujur, saya dan suami lebih senang membeli rumah secara cash agar tidak ada beban kredit bertahun-tahun. Buat kami, cicilan kredit itu jadi beban sekali yang bisa membatasi ruang gerak kita selama bertahun-tahun. Eits, tapi saya tidak menyalahkan teman-teman yang saat ini sedang berikhtiar memiliki rumah dengan cara KPR. Kalau jalannya memang memiliki rumah dengan KPR ya tidak apa-apa.

Rumah tanpa beban buat saya juga berarti bebas sengketa baik itu sengketa surat menyurat, kepemilikan, anggota keluarga, ataupun jalan. Tinggal di rumah dengan persengketaan tidaklah mengenakan. Bukan nyaman yang didapat tetapi malah beban berat.

2. Lingkungan rumah baik

Siapa sih yang tidak ingin punya rumah di tempat yang bersih dan sehat untuk tumbuh anak-anak hingga menikmati hari tua? Pastinya itulah impian semua orang. Tidak banjir, rawan kebakaran, dan bersih (tidak dekat dengan TPU atau pasar) jadi beberapa kriteria lingkungan yang mendukung untuk sebuah rumah.

Lingkungan rumah yang sehat dan nyaman kalau menurut saya juga bebas dari hewan-hewan kayak tikus, kecoa, belatung, kalajengking, atau kelabang. Soalnya saya pernah tinggal di kontrakan dengan hewan-hewan itu semua dan hidup berasa terancam setiap detiknya. Apalagi saya orangnya penakut sama serangga. Selain itu, makanan juga jadi sering tercemar gara-gara banyak binatang itu.

3. Kondisi sosial sekitar rumah mendukung

Kondisi sosial atau lingkungan sekitar rumah jadi faktor yang menentukan juga untuk sebuah rumah menjadi nyaman. Percuma juga punya rumah yang bagus dan besar kalau kondisi sosial sekitar rumahnya tidak nyaman misalnya rawan kriminalitas, lingkungannya ngebronx sering tawuran, atau lingkungan tidak mendukung bagi anak-anak.

Selain itu, tetangga rumah yang baik juga berpengaruh membuat rumah jadi nyaman. Tahu sendiri kan tetangga jadi keluarga terdekat kita. Tetangga rumah yang rese akan jadi duri dalam daging yang akhirnya membuat tinggal di rumah pun jadi tidak nyaman. Oleh karena itu, penting banget sebelum membeli rumah melihat kondisi lingkungan sosial di sekitarnya.

4. Interior pendukung rumah

Banyak sekali tema interior rumah , dari yang minimalis, victorian klasik, shabby chic, hingga monokromatik. Apalagi kalau mau mencontek katalog dari IKEA, duh rasanya oke banget interiornya. Buat saya, apapun temanya yang penting interior rumah ditata bersih dan rapi. Oh ya, saya juga dengan rumah yang memiliki interior yang lucu-lucu dan instagramable banget.

(Baca juga: Resolusi Tahun Baru di Rumah Baru)

Punya rumah yang instagramable dan bertema itu nggak mudah ternyata. Saya pun pernah mengalaminya saat akan mengisi rumah saya setelah pindah dari kontrakan. Ternyata barang-barang yang unik dan instagramable itu harganya juga nggak murah. Akhirnya, saya nggak jadi mengangkat tema tertentu untuk rumah kami. Sekarang yang penting perabotan di rumah saya warnanya nggak saling tabrak, rapi, dan bisa menyimpan barang-barang.

sudut membaca ini jadi bagian paling saya sukai di rumah
sudut membaca di rumah yang membuat saya selalu bergairah buat membaca

Oh ya, satu yang paling penting buat saya adalah jangan suka simpan ‘sampah’ di rumah. Sampah disini adalah barang-barang yang tak terpakai misalnya kertas bekas, kardus, atau perabot bekas. Barang-barang yang sekiranya sudah nggak terpakai mendingan dijual atau dibuang. Soalnya kalau rumah kebanyakan barang malah kesannya jadi berantakan dan mengundang binatang kayak tikus atau kecoa buat datang.

5. Ada cinta di dalamnya

Apalah artinya memiliki rumah kalau kamu tak pernah rindu untuk pulang – Ratna Dewi

Ini adalah hal yang paling penting dari sebuah rumah. Percuma juga memiliki rumah bagus kalau anggota keluarga di dalamnya malah saling berkonflik dan tidak harmonis. Percuma juga punya rumah mewah kalau waktumu banyak habis di luar dan tidak menikmati rumah dari hasil jerih payah sendiri. Rumah yang penuh kehangatan sangat nyaman untuk dihuni dan menjadi tempat yang tumbuh yang bagus untuk anak-anak. Nggak apa-apa rumah kecil asal didapat dari uang yang halal dan bukan hasil korupsi. Nggak apa-apa rumah yang sederhana asal di dalamnya penuh cinta dan kehangatan serta disinari dengan doa-doa setiap hari. Dan semoga rumah kita semua selalu penuh cinta ya.

(Baca juga: Menciptakan Cara #BahagiaDiRumah Setelah Resign dari Pekerjaan)

Bersyukurlah dengan seperti apapun rumah yang kamu tinggali. Bagi yang belum memiliki rumah sendiri, saya doakan juga agar secepatnya diberi rezeki agar bisa menikmati rumah dari jerih payah sendiri. Tentang rumah impian, saya sampai sekarang masih bermimpi punya rumah di Pondok Indah, yang bagian kawasan elitnya. Sampai-sampai kalau lewat Pondok Indah saya berdoa dan bilang dalam hati “suatu saat saya bisa punya rumah kayak begini”, hihihi. Soalnya kata suami saya, kalau mau punya rumah yang diinginkan, pas lewat depan rumahnya berdoa aja.

Nah, ini kriteria home sweet home versi saya, kalau kalian bagaimana? Share juga, yuk!

ratna dewi

33 Comments
Previous Post
Next Post