Inilah Suka Duka Ketika Kamu Memutuskan Memilih Pasangan Hidup Seorang Programmer

Apa yang ada di benakmu jika mendengar kata programmer? Tak sedikit pasti membayangkan programmer identik dengan orang yang pintar karena terus menerus berada di depan laptop, nerd, dan bahkan penyendiri. Atau justru yang terpikirkan adalah seseorang yang sedang serius meretas suatu sistem atau biasa disebut hacker?

Perkiraanmu memang nggak salah. Programmer itu profesi yang bisa bermakna luas apalagi kalau disandingkan dengan era digital atau internet sekarang ini. Pekerjaan programmer juga jadi salah satu pekerjaan yang dipandang keren dan millenials karena selalu bersentuhan dengan teknologi. Bahkan, pekerjaan yang dipandang mengutamakan logika, detail, dan konsentrasi tinggi ini konon cocok ditekuni oleh penderita Syndrome Asperger dan autis.

Bicara soal programmer, profesi ini sangat lekat buat hidup saya. Bukan, bukan saya yang programmer. Saya mah reporter yang pensiun dini lalu memutuskan jadi blogger. Yang berprofesi sebagai programmer adalah suami saya.

(Baca juga: Inilah Saya, Mantan Wartawan yang (Beruntung) Memilih Menjadi Blogger)

Suami saya adalah seorang programmer lulusan universitas negeri di Bogor dan kini bekerja di sebuah perusahaan media. Selain sebagai karyawan, ia juga terbiasa mengerjakan beberapa project lepas untuk membangun sebuah website.

Saya sudah hampir empat tahun hidup sama dia sebagai suami istri dan berpacaran dengannya selama 3,5 tahun. Jadi total saya sudah berdampingan dengan si programmer ini selama hampir delapan tahun. WOW. Lama juga ya nggak kerasa. Tapi selama itu juga saya jadi tahu serba-serbi hidup dengan seorang programmer. Ternyata hidup dengan seorang programmer cukup seru juga.

Nah, buat kamu yang punya pasangan programmer pasti pernah merasakan hal-hal yang saya rasakan berikut ini. Oh ya, yang baru mau punya pasangan seorang programmer boleh dibaca lho biar nggak kaget pas nanti memutuskan menikah dengan seorang programmer.

1. Jangan termakan api cemburu kalau dia lebih banyak menatap layar komputer daripada wajahmu

Dulu sebelum menikah suami saya sudah mewanti-wanti kalau waktunya akan dihabiskan dengan pekerjaan coding. Sampai-sampai dia bilang “Ntar kalau kita honeymoon aku bawa laptop ya, kita makan malam tapi aku ngoding” pas saya mengusulkan candlelight dinner ala-ala pas honeymoon.

Programmer dan layar komputer atau laptop itu bak soulmate, nempel terus kayak perangko. Apalagi kalau lagi ada deadline atau project besar. Mata mereka hampir nggak lepas dari layar laptop dan coding sheet seharian. Jadi jangan cemburu kalau mereka lebih banyak menatap pekerjaannya daripada menatap wajahmu.

Trus saya nggak pernah cemburu gitu? Pernah dooonk. Ada saatnya suami saya ya sibuk di kantor ya sibuk juga di rumah. Udah mah pulang malam terus trus pas libur di rumah masih buka laptop ketak-ketik coding sheet yang menurut saya membosankan banget (karena warnanya hitam, nggak ada menarik-menariknya sama sekali). Sedihnya, saya nggak dilirik atau cuma dilirik sesekali padahal udah berbagai macam gaya saya lakukan demi menarik perhatiannya.

(Baca juga: Berkompromi dengan Kebiasaan Buruk Pasangan, Bisa Nggak Sih?)

Saya pun pernah dari sekadar ngomel, ngambek, banting pintu, nangis, sampai buang hapenya gara-gara dia balasin email pekerjaan muluk padahal hari libur. Tapi, itu tak menyurutkan niatnya untuk coding. Jadilah sekarang daripada saya menghabiskan waktu dengan emosi jiwa mendingan pakai cara lain. Cara ini bisa juga dipraktikin buat kalian yang suka KZL sama pasangan yang notabene programmer dan sibuk banget.

Caranya adalah: coba lihat dia lagi ngerjain project apa, lihat nilai project-nya, bantuin dia  bikin invoice, trus kekepin ATM-nya, hahaha.

2. Kesan pertama tidak begitu menggoda, tapi justru kaku kayak kanebo kering

Banyak teman bilang saat pertama kenal dengan suami sering langsung menebak kalau suami saya orangnya pendiam banget dan malu. Tapi tahukah kamu, beberapa orang yang saya kenal sebagai programmer (dan internet geek) biasanya memang kaku ketika pertama kenal dengan orang baru. Mereka agak segan untuk mengajak bicara duluan dan lebih banyak diam. Padahal, kalau sudah lama kenal nanti juga mereka terbiasa ngobrol. Apalagi kalau ngobrolnya nyambung misalnya masalah internet, website, atau apalah-apalah itu yang berhubungan dengan pemrograman.

Masuk akal memang karena mereka mungkin kebanyakan terbiasa ‘bergaul’ dengan benda mati. Pekerjaan programmer kan menuntut konsentrasi tinggi dan detail maka tak jarang mereka mau berlama-lama ‘bercumbu’ dengan laptop atau PC. Ketika bekerja pun mereka asyik mengulik pekerjaan sendiri dan jarang ngobrol. Jadi maklumlah kalau pekerjaan mereka memang jarang berbicara dan berinteraksi dengan orang.

coding sheet sahabat sehari-hari para programmer
coding sheet sahabat sehari-hari para programmer

Ini jelas beda sekali dengan dunia saya dimana teman-teman saya kebanyakan reporter yang setiap hari bergaul dan bertemunya dengan orang khususnya orang baru. Pekerjaannya adalah berbicara. Jadi, ketika ngobrol pun sangat luwes. Sementara kalau suami saya kan ngobrolnya pakai bahasa pemrograman, hahaha, nggak dink. Ngobrolnya ya pakai Bahasa Indonesia.

Oh ya, malah ada yang bilang kalau punya pasangan programmer itu nggak romantis karena ya sikap kakunya itu. Eh, tapi bagian nggak romantis ini tergantung individu orangnya sih. Kalau suami saya sih jauh dari kata romantis.

3. Akan banyak orang sekitar yang menganggapnya pintar dan ‘ngerti komputer’, tapi tak jarang ada yang datang sekadar minta tolong mereparasi gadget

Dulu sewaktu masih jadi wartawan saya pernah mewawancarai seorang siswi sebuah SMA swasta di Jakarta yang memiliki nilai ujian tertinggi se-DKI. Ia diterima kuliah di sebuah universitas di Australia dan bercita-cita jadi programmer. Dari situlah saya semakin beranggapan kalau mereka yang jadi programmer itu adalah orang-orang pintar.

Jelas saja saya bilang gitu soalnya programmer memang orang yang dituntut punya logika yang kuat. Mereka harus bisa menyelesaikan masalah secara berurutan dan terstruktur. Di luar mereka yang nyemplung jadi programmer secara otodidak, saat si calon programmer kuliah mereka dituntut untuk belajar matematika, algoritma, aljabar, dan lain-lain. Menurut saya yang anak IPS, mata kuliah ini berat-berat banget.

Belum lagi saat bekerja yang ada di hadapan mereka adalah layar PC dan raut muka yang serius. Tak salah rasanya jika orang menganggap mereka orang pintar atau jenius. Tapi tahukah kamu, saking orang menganggapnya pintar dan ‘ngerti komputer’ banyak yang akhirnya sering meminta tolong untuk benerin laptop, komputer, tab, atau handphone pada programmer?

Source: twitter
Source: twitter

Kalau suami saya sih iya. Setiap saudara atau orang dekat kami ada masalah sama gadgetnya pasti menghubungi suami saya. Padahal, kadang masalahnya bukan pada software tetapi hardware. Tapi karena cap ‘ngerti komputer’ yang disandang suami saya kadang dia juga harus jadi tukang reparasi atau install ulang gadget. Apakah programmer yang ada di dekatmu juga seperti itu?

4. Bersyukurlah atas pekerjaannya yang sangat fleksibel, tapi…

Berterimakasihlah pada internet karena dengan adanya internet waktu kerja seorang programmer bisa sangat fleksibel. Artinya, dia tidak terikat waktu kerja seperti kebanyakan karyawan yang 9-5 pm. Programmer bisa mengerjakan pekerjaan secara remote dari tempat mana pun yang penting ada koneksi internet dan aliran listrik. Oleh karena itu, banyak programmer yang memutuskan untuk bekerja lepas dari rumah karena pekerjaannya toh bisa dilakukan tanpa harus ke kantor.

Namun, pekerjaan dengan waktu dan tempat yang fleksibel ini jangan dikira santai ya. Memang seorang programmer bisa bekerja dari rumah dan nggak harus pakai baju formal tapi toh tetap saja namanya sudah menerima pekerjaan ya harus konsekuen.

Nggak jarang, mereka tidur beberapa jam saja dan waktunya lebih banyak dihabiskan dengan duduk di depan laptop untuk mengerjakan pekerjaan. Apalagi kalau deadline pekerjaan sudah mepet. Jangan heran kalau programmer bisa bekerja dari mana saja tapi kemana saja juga bawa pekerjaan, bahkan saat liburan sekali pun. Jadi, yang punya pasangan programmer harus mengerti benar ritme kerjanya yang tak terduga. Ditambah lagi saya juga masih harus cerewet mengingatkan dia supaya makan dan istirahat dengan benar.

5. Jangan paksa dia berpakaian formal karena setelan ternyaman baginya adalah tema kasual

Dulu saya suka membayangkan punya suami yang kerja di depan laptop pakai baju rapi seperti kemeja, dasi, dan celana bahan tetapi setelah bersuamikan programmer semua itu pupus. Celana jeans dan kaos jadi kostum sehari-hari suami saya, bahkan ketika ke kantor. Dia hanya rapih pakai kemeja seragam kantor saat mau mewawancarai karyawan baru dan meeting. Itu pun baru-baru ini setelah naik jabatan.

Saya pernah membelikan kemeja buat dipakai ke kantor tapi toh tetap saja kaos oblong dan celana jeans yang dipakainya. Apalagi kalau di rumah, ia bisa coding sambil pakai celana pendek atau telanjang dada.

“Ngapain pakai baju rapi-rapi, yang penting kan ini (isi kepala) dan hasil kerja”, ujarnya.

Dalam hati saya bilang benar juga sih. Saya lihat di beberapa perusahaan berbasis IT memang gaya busana pekerjanya terutama programmer atau yang berhubungan dengan IT juga kasual. Contoh paling gampang lihat saja Mark Zuckerberg yang setiap hari pakai bajunya itu-itu saja.

6. Dia ingin di segala aspek kehidupannya berbau digital karena prinsip programmer adalah ‘efektif efisien’

Punya pasangan programmer berarti harus siap mengerjakan apa-apa serba digital. Koneksi internet, menurutnya, mempermudah segala pekerjaan. Contoh kecilnya: sebelum menikah saya biasanya transfer uang via ATM, saat sesudah menikah semua transaksi bank harus lewat internet atau mobile banking. Dari sekadar transfer dana, bayar listrik-air-internet-TV kabel, bahkan bayar pajak pun diusahakan lewat internet. Prinsipnya, segala sesuatu dengan koneksi internet itu sangat mudah dan jangan biarkan waktu terbuang percuma hanya untuk di perjalanan atau mengantri secara manual.

Awalnya, saya sebel kenapa segala sesuatunya harus berubah. Padahal kan menurut saya praktis-praktis aja tuh kalau bayar segala sesuatu di ATM. Tapi ternyata alur pikir programmer adalah ‘efektif efisien’ dalam mengerjakan sesuatu. Walaupun berat hati saya harus belajar lebih banyak hal lagi biar nggak gaptek dan bisa mengimbangi alur pikir seorang programmer. Alhasil, sekarang pun saya jadi merasakan sekali manfaatnya. Thanks to technology yang sudah mempermudah hidup.

Yak, begitulah beberapa hal yang saya rasakan punya pasangan seorang programmer. Sampai sekarang saya juga masih berproses terus menyesuaikan diri memahami cara kerja dan pola pikir programmer, kok. Kan belajar seumur hidup toh?

Nah, buat kamu yang punya pasangan programmer share juga yuk pengalamanmu punya pasangan seorang programmer!

 

ratna dewi

47 Comments
Previous Post
Next Post