Cerita Program Hamil Ketiga: Bersahabat dengan Viagra

Halloo…

Ada yang kangen nggak sama cerita program hamil saya? Nggak ya? Ya udah deh nggak apa-apa, hihi. Kali ini mau melanjutkan cerita program hamil ketiga sebelumnya. Setelah konsultasi pertama sama Prof Jacoeb akhirnya saya dan suami harus bersahabat sama Viagra. Iya, Viagra si obat kuat buat lelaki itu yang biasa juga disebut pil biru. Yang dulu hanya sering saya lihat di toko-toko obat kuat pinggir jalan, kini ternyata harus saya pakai juga.

(Baca juga: Cerita Program Hamil Ketiga: Hallo, Prof Jacoeb)

Setelah obat pascakonsul pertama diberikan, kami pun ikut anjuran buat memakai obat tersebut. Anjurannya, Provagin dan Viagra diberikan bersama misalnya Provagin masuk pas sore hari lalu Viagra pas malam sebelum tidur. Tapi, karena saya takut kalau seharian masuk obat dua kali lewat bawah dan ribet karena suami baru pulang malam akhirnya diubah dibagi dua. Provagin dulu setelah habis lalu giliran Viagra.

Drama Viagra

Pakai obat Viagra ternyata drama banget. Selain drama di harganya yang satu biji Rp 180 ribu aja gitu (saya sama sekali nggak nyangka kalau laki-laki yang suka pakai ini ternyata harus merogoh kocek lumayan karena harga per kapsulnya mahal) juga drama di pemakaian. Kalau Provagin yang bentuknya ovula (permukaannya licin dan hancur di dalam) bisa masuk dengan nyaman alias nggak menimbulkan rasa sakit. Sementara Viagra masuknya pakai drama karena tekstur obatnya kan seperti pil, kasar (karena harus dipotek jadi dua), dan keras karena bahannya dari tepung. Alhasil, pas pertama kali dipakai sakit banget.

kegunaan-viagra

viagra alias pil biru
viagra alias pil biru

Ternyata eh ternyata saya juga salah strategi. Sebelum dimasukan Viagra saya malah pakai Lactacyd dulu. Otomatis jadi kesat dan pas obatnya masuk sakit banget, perih. Karena suami nggak tega lihat saya pas dimasukin obat, ia mau stop dulu aja. Saya nggak mau dan menyuruh dia telepon ke SamMarie buat tanya cara pemakaiannya.

Kata pihak SamMarie untuk mengurangi sakit bisa pakai V-Gel. Itu lho gel pelumas yang biasanya dipakai buat alat USG transvaginal. Jadilah kami beli V-Gel. Harganya ternyata nggak mahal sekitar belasan ribu rupiah. Setelah pakai V-Gel alhamdulillah pemakaian obat jadi terasa lebih nyaman meski tetap saja ada perih-perihnya.

Long short story, Viagra sudah habis. Waktu juga sudah bergulir jadi hampir sebulan setelah pemakaian Viagra tapi haid tak kunjung datang. Kami pun berinisiatif ke SamMarie lagi buat konsultasi karena haidnya kok nggak muncul-muncul. Suatu hari suami akhirnya bikin perjanjian lagi di hari Senin. Tapi jelang sore hari kami batalkan karena ternyata hujan dan saya nggak mau maksain buat ke SamMarie hujan-hujanan, nanti malah sakit. Nggak apa-apa hilang uang pendaftaran Rp 35.000.

Jumatnya, kami daftar dan bikin perjanjian lagi buat konsultasi ke Prof Jacoeb. Katanya, pasien hari itu nggak banyak jadi kami dapat jatah masuk sekitar sebelum maghrib. Seperti biasa saya dan suami ngebut naik motor ke SamMarie dan ternyata sudah hampir Maghrib sampai sana. Setelah timbang badan dan tensi, adzan berkumandang. Dokter-dokter pun Solat Maghrib dulu termasuk Prof Jacoeb. Alhasil, kami harus menunggu sampai setelah Isya karena biasanya Prof Jacoeb turun lagi setelah adzan Isya.

(Baca juga: Cerita Program Hamil Ketiga: Balada Salah Jadwal)

Saat menunggu itulah saya diminta USG dulu. Seperti kunjungan yang pertama, USG-nya selalu dengan dr Nadir Chan. Kali ini USG transvaginalnya terasa agak sakit dan ngilu karena dr Nadir Chan teliti banget. Tongkat USG dibelokan kesana kemari buat melihat keadaan saluran reproduksi saya. Di ruangannya, dr Nadir sempat bilang kalau masih menutup dan lengket salurannya. Tapi saya dan suami belum tahu pastinya karena penjelasan lengkap harus nanti bersama Prof Jacob.

Bersahabat dengan Viagra

Setelah menunggu lama, setengah ngantuk, dan kedinginan (soalnya AC di ruang tunggu SamMarie dingin banget) kami dipanggil juga. Kami cerita sama Prof Jacoeb soal haid yang belum datang juga. Prof Jacoeb bilang irit banget haidnya nggak datang-datang. Dalam hati saya, iya juga sih, Prof. Stok pembalut saya selama setahun ini aman nggak berkurang.

Prof Jacoeb lalu membaca hasil USG. Kata Prof Jacoeb rahimnya belum terbuka semua ternyata. Tapi sudah ada sedikit yang terbuka. Saya dan suami masih bingung sebenarnya kenapa sih. Trus dijelaskan sama Prof Jacoeb kalau rahim saya terjadi perlengketan. Perlengketan ini bisa jadi disebabkan karena ada luka pas kuret dulu. Karena lengket ini, darah jadi nggak bisa turun ke bawah.

Memang, kata Prof, khasiat Viagra ke masing-masing orang beda-beda. Ada yang langsung terbuka tapi ada yang butuh beberapa periode. Bahkan, ia bercerita ada pasiennya yang berasal dari Cirebon harus 10 bulan pakai Viagra baru bisa haid karena sang istri sudah tidak haid 3 tahun. Ngebayangin Rp 1,8 juta x 10 bulan, Rp 18 juta bisa buat beli motor baru, hiks. Viagra oh Viagra.

Trus saya tanya soal Viagra yang setelah dipakai malah keluar lagi dalam bentuk gumpalan. Bahkan, di satu hari setelah hari terakhir pemakaian Viagra gumpalannya keluar semua setelah saya pipis. Besar sekali kayak remasan kertas tapi padat. Rasanya kayak pas melahirkan karena ada sesuatu yang besar dan menggumpal keluar. Ngilu-ngilu gimana gitu. Tapi kata Prof Jacoeb sih itu biasa dan nggak apa-apa karena Viagra kan memang bahannya tepung dan nggak bisa larut, cuma terserap. Yang penting adalah saat memasukkan harus dipastikan sampai ke mulut rahim.

Setelah selesai konsultasi, Prof Jacoeb memberi kami resep. Kali ini masih sama resepnya Viagra 10 tablet dan diulang sampai 6 kali pemakaian (berarti 6 bulan ya) kalau belum juga haid. Whoaaa berarti harus menyisihkan Rp 1,8 juta nih per bulan buat beli Viagra. Kata Prof Jacoeb, nanti kami ketemu beliau lagi kalau haidnya sudah datang atau setelah enam bulan pemakaian, sekitar bulan Maret atau April 2017.

Akhirnya kami pulang deh. Tadinya sempat mau tebus obat di farmasinya SamMarie tapi kami pengen cari Viagra dulu di luar siapa tahu lebih murah. Dan dua hari setelahnya kami ke apotek langganan dekat rumah ternyata ada lho Viagra-nya sama persis dan lebih murah, yeeaayy. Satu tabletnya cuma Rp 160ribu, beli 10 jadi Rp 1,6 juta. Lumayan kan beda Rp 200ribu, bisa buat jajan-jajan.

Oh ya, berikut biaya konsultasi kedua dan obatnya:

  • Biaya pendaftaran Rp 35.000
  • Konsultasi spesialis Prof. DR. dr. T.Z. Jacoeb, SpOG (K-FER) Rp 550.000
  • USG ginekologi dr Nadir Chan SpOG Rp 300.000
  • Viagra 10 kapsul Rp 1,6 juta
  • Total Rp 2. 485.000

Jadilah sekarang saya setiap bulan selama 10 hari selalu ada ritual pakai Viagra. Kami juga harus nabung Rp 1,6juta setiap bulan buat beli Viagra. Jadi, yang punya utang sama saya dan suami, bayar dooonk. Mayan nih kan bisa buat beli Viagra buat sebulan, haha. Hmmm, juga siapa itu yang suka nanya “Udah isi belum?” atau “Kapan hamil lagi?” muluk, tenggelamkan! Eh itu mah kata Bu Susi ya, hahaha.

(Baca juga: Ketika Mereka Bertanya “Kapan Punya Anak?” pada Perempuan yang Pernah Keguguran)

Doakan kami terus, ya!

ratna dewi

 

 

 

15 Comments
Previous Post
Next Post