Cerita Program Hamil Ketiga: Hallo, Prof Jacoeb

Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Padahal nunggunya cuma satu hari, haha. Tapi ya ini adalah kali pertama saya bersua lagi sama dokter kandungan setelah satu tahun ‘putus hubungan’ dulu. Rasanya deg-degan. Agak trauma juga ke dokter kandungan karena nggak tahu kenapa akhir-akhir ini ‘vonis’ yang diberikan sama dokter kandungan kurang bersahabat sama saya dan suami. Jadilah kami rehat sejenak.

(Baca juga: Cerita Program Hamil Ketiga: Balada Salah Jadwal)

Setelah dapat nomer antrian 15 yang diprediksi jam 19.30, saya dan suami pun berangkat dari kantornya sekitar jam 19.00. Agak gambling juga sih mengingat hari itu Hari Jumat dan jam-jam sadis pulang kantor. Melewati daerah macet pula. Jadi kami pasrah saja sambil suami selip sana-sini bak Valentino Rossi biar bisa cepat sampai ke SamMarie.

Alhamdulillah, kami sampai di SamMarie jam 19.35. Telat sedikit nggak apa-apalah. Ternyata pasiennya lumayan banyak juga hari itu. Saya pun konfirmasi ke resepsionis dan resepsionis meneruskan ke suster. Nggak berapa lama, saya pun dipanggil suster buat ukur tensi dan berat badan. Tensi dan berat badan saya saat itu normal.

Trus suster tanya-tanya beberapa pertanyaan. Pas pertanyaan “Haid terakhir kapan?” saya bilang lupa tanggalnya tapi yang pasti udah lama banget sekitar Bulan November 2015 lalu. Iya, habis itu sampai saat ini nggak tahu kenapa nggak muncul juga haidnya. Memang dari zaman gadis dulu haid saya nggak teratur bisa sebulan sekali, tiga bulan sekali, dua minggu setelah bersih haid lagi, ya begitulah.

Lalu, susternya heran. Kok bisa? Saya cerita aja pascakuret Juli 2015 lalu saya cuma haid satu kali di Bulan November 2015 lalu setelah itu nggak haid sama sekali sampai sekarang. Saya juga cerita kalau sebelumnya pernah kuret karena blighted ovum (BO) di tahun 2015 dan pernah IUFD di November 2014 lalu dilahirkan normal.

(Baca juga: Part-Us)

Setelah selesai cek-cek dari suster, saya pun disuruh menunggu buat USG. Suster meminta saya buat pipis dulu biar kosong kandung kemihnya. Nggak berapa lama setelah pipis, saya pun dipanggil buat USG. Nah, disini terlihat bedanya dari program hamil saya sebelumnya karena ternyata dokter yang USG sama dokter konsultasi program hamil berbeda. Dokter yang khusus buat USG sendiri, dikerjakan sama dr Nadir Chan, SpOG.

Seperti program hamil sebelumnya, USG-nya selalu transvaginal. Namun kali ini ada tindakan swab vagina sebelum dimasukkan alat USG. Swab vagina adalah pemeriksaan cairan dari vagina dengan usapan. Prosesnya mirip-mirip papsmear, dimasukkan alat untuk mengambil cairan vagina. Rasanya agak ngilu karena saya belum pernah papsmear. Setelah swab vagina, lalu di USG transvaginal seperti biasa. Setelah selesai, kami disuruh menunggu lagi di luar untuk dipanggil ke ruangan Prof Jacoeb.

Menunggu dipanggil ke ruangan Prof Jacoeb ternyata lama juga. Saya pasien no 15, sementara yang masuk baru no 10. Jadi nunggu dulu deh dan lumayan lama karena kayaknya disambi ada tindakan. Prof Jacoeb beberapa kali keluar masuk ruangan. Sambil menunggu, saya melihat-lihat sekeliling. Ternyata yang konsultasi disini memang kebanyakan pasien suami istri yang sedang program hamil. Ini yang bikin saya lebih suka program hamil di dokter kandungan subspesialis fertilitas karena pasiennya senasib. Saya nggak terintimidasi sama pasien lain dengan perut-perut buncit yang mau kontrol kandungan.

(Baca juga: Berbagai Pertimbangan Sebelum Memilih Dokter Kandungan)

Satu pasien di dalam ternyata butuh waktu lumayan lama, sekitar 20-30 menit. Jadi kami sampai lapar nunggunya. Sementara AC di ruang tunggu SamMarie dingin banget. Saya dan suami sampai pindah-pindah tempat duduk. Yang saya suka dari SamMarie adalah di papan informasinya ada doa-doa untuk mendapatkan anak perempuan/laki-laki, doa Nabi Zakaria, sampai foto-foto keberhasilan pasien program hamil Prof Jacoeb. Lumayan religius juga kliniknya. Bahkan sebelum swab vagina, dr Nadir Chan aja baca bismillah dulu. Jarang-jarang saya dengar dokter baca bismillah dulu kalau mau tindakan.

Setelah menunggu sekitar 2 jam, kami dipanggil juga. Saat itu jam sudah menunjukkan pukul 21.30. Semakin malam ternyata pasiennya banyak yang berdatangan. Saya pun masuk ke ruangan Prof Jacoeb. Lalu seperti biasa saya cerita kami pengen program hamil. Prof Jacoeb sempat tanya kami ingin punya berapa anak. Saya jawab 3. Lalu beliau bilang dengan “Umur kamu segini (29 tahun) masih bisa punya 11 anak”. Saya dan suami senyum-senyum.

Lalu saya cerita riwayat medis saya dulu dari haid nggak teratur, prolaktin tinggi, IUFD, BO, dikuret, divonis uterus bicornis, sampai akhirnya membawa kami ke hadapan beliau. Lalu Prof Jacoeb menulis beberapa instruksi dan resep di kertas untuk cek-cek lab dan segala macam.

(Baca juga: Mengenal IUFD)

Oh ya, ini beberapa point yang saya dapatkan setelah konsultasi sama Prof Jacoeb:

  • Berita baiknya, Prof Jacoeb bilang bahwa saya pernah hamil dan bisa hamil. Ini poin positif.
  • IUFD dan BO bisa berulang kalau memang ‘lahannya’ jelek. Hamil itu ibarat menanam padi di sawah. Kalau lahan atau benihnya jelek ya akan gagal lagi. Padahal beberapa dokter yang saya temui dulu bilang kalau IUFD dan BO nggak akan atau kecil kemungkinannya untuk berulang.
  • Hasil USG memperlihatkan rahim saya nggak uterus bicornis tapi tipis dan ada perlengketan di dindingnya. Makanya saya nggak haid-haid karena jalan ketika darah luruh tertutup. Nah, untuk membukanya harus menggunakan viagra. Iya, viagra obat kuat pria itu. Tapi penggunaannya pervaginam ya alias dimasukan lewat vagina dan didorong sampai ke mulut rahim.
  • Swab vagina hasilnya menunjukan banyak bakteri di vagina. Saya heran, kok bisa banyak bakteri. Kata Prof Jacoeb bisa saja dari air atau pas saya pipis di tempat umum toiletnya kotor. Nah, bakteri ini harus dimusnahkan karena katanya kalau bakterinya banyak kerja sperma akan lebih berat. Ibaratnya satu sperma harus menggendong berat banyak bakteri. Prof Jacoeb pun memberi saya resep Provagin yang penggunaannya dimasukkan dalam vagina, Lactacyd, dan antibiotik.
  • Saya curhat kalau ASI saya masih keluar, trus tanya apakah ada kemungkinan hormon prolaktinnya masih tinggi. Prof Jacoeb bilang wajar karena pernah melahirkan. Kalau hormon, nanti dicek ke lab.

Intinya, banyak pekerjaan rumah yang menanti setelah keluar dari ruangan Prof Jacoeb. Saya harus kembali lagi ke SamMarie kalau sudah haid. Nah, sekarang harus mengusahakan sampai haid dulu nih dengan menggunakan viagra. Nanti kalau sudah cek lab dan segala macamnya mudah-mudahan saya cepat hamil. Namun suami menimpali “Bukan hanya cepat hamil tapi bisa hamil dan lancar sampai melahirkan. Karena kalau hamil aja sih sudah pernah dua kali”. Amiiinnn.

(Baca juga: FAQ Tentang Program Hamil)

Oh ya, berikut pekerjaan rumah buat kami:

Istri:

  • Telepon ke perawat Prof Jacoeb di hari pertama haid. Bilang saja sama resepsionis mau lapor haid sama suster nanti akan disambungkan.
  • Tes hormon prolaktin, FSH, LH, AMH di hari ke-7 atau 8 haid
  • HSG di hari ke-9-10 haid
  • USG folikel di hari 11-12 haid
  • Mikrokuretase di hari 21-22 haid
  • Tes hormon estradiol 17, estriol, progesteron, testosteron di hari 21-22 haid
  • Ambil darah untuk dicampur dengan sperma untuk menguji antibodi sperma
  • Tes TORCH
  • Tes hematologi untuk uji kekentalan darah, hati, kolesterol, hepatitis, dan HIV
  • Tes glukosa (diabetes)

Catatan: semua cek harus dilakukan dalam satu siklus datang bulan alias nggak boleh menclak-menclok. Kalau ada yang bolong satu harus mengulang semuanya.

Suami:

  • Tes sperma
  • Cek antibodi sperma
  • Tes darah (hematologi) untuk uji kekentalan darah, hati, kolesterol, hepatitis, dan HIV
  • Tes glukosa (diabetes)
  • Tes urine lengkap
PR-nya banyak sekali
PR-nya banyak sekali

Fiuh, lumayan banyak kan tes-tesnya? *kekepin kantong nih*. Yang pasti harus siap mental dan kantong. Doakan kami yah biar rezekinya selalu lancar terus.

Berikut biaya konsultasi dan obat di pertemuan pertama dengan Prof Jacoeb kali ini:

  • Administrasi pasien baru Rp 50.000
  • Biaya laboratorium Rp 31.350
  • Biaya konsultasi dengan Prof Jacoeb Rp 550.000
  • Biaya vagina swab Rp 60.000
  • Biaya jasa dokter dr Nadir Chan Rp 300.000
  • Biaya obat apotik (4 ovula Provagin, 10 tablet antibiotik, dan 1 botol Lactacyd) Rp 273.900
  • Viagra 10 tablet Rp 1.850.500 (viagra menyusul beberapa hari kemudian karena pas hari itu barangnya kosong)

Total biaya di pertemuan pertama Rp 3.115.750. Fiuuhhh, hela nafas dulu. Untung total biaya di pertemuan pertama ini bisa di-reimburst di kantor suami karena indikasinya haid yang tidak lancar. Resikonya memang plafon reimbursment untuk istri di kantor suami saya menipis alias hampir habis. Tahu sendiri kan kalau biaya kontrol fertilitas nggak ada yang ditanggung asuransi manapun. Makanya saya suka KZL kalau ada yang nanyain “Kapan hamil?” mulu atau mencibir ikhtiar kami.

(Baca juga: Untukmu Para Perempuan yang Sedang Berjuang Mendapatkan Momongan…)

Untuk obat, Provagin dan viagra harus dimasukkan via Miss V. Lactacyd digunakan di pagi hari untuk membersihkan obatnya. Sementara antibiotik diminum sampai habis. Obatnya kelihatannya sepele nih namun ternyata buat memakai obatnya banyak drama. Nanti saya ceritakan di postingan selanjutnya.

Doakan kami selalu ada rezeki ya biar bisa selalu mengusahakan program hamil ini. Semoga informasinya berguna bagi kalian para pejuang momongan. Semangat!

 

ratna dewi

 

14 Comments
Previous Post
Next Post