Menikmati Cita Rasa Kuliner dari Pulau Leebong hingga Belitung Timur

Pergi jalan-jalan rasanya nggak afdol jika tanpa berwisata kuliner. Begitu juga saya ketika ngetrip bersama para travel blogger ke Belitung baru-baru ini. Beberapa tempat makan kita coba dari yang jenisnya makan berat hingga makanan ringan. Semuanya meninggalkan kesan sendiri-sendiri di lidah.

Seperti yang sudah-sudah saya sangat hafal kalau menginjakkan kaki ke Pulau Sumatra, makanan khas laut pasti jadi pilihan atau bahkan selalu ada dalam hidangan-hidangan yang dijamukan. Betul saja, selama sekitar 4 hari di Belitung saya pun mencicip beberapa olahan yang berasal dari laut. Berikut beberapa rekapan kuliner yang saya coba ketika trip ke Pulau Leebong dan Belitung.

(Baca juga: Menjumput Keindahan di Pulau Leebong, Belitung)

1. Mencicipi Cita Rasa Kuliner Pulau Leebong

Sampai di Pulau Leebong, pengelola berbaik hati dan tahu betul kalau perut kami keroncongan. Tak lama setelah sampai, berbagai makanan pun dihidangkan. Seperti yang sudah saya duga sebelumnya, olahan laut akan menjadi menu utamanya. Benar saja, cumi goreng tepung, sup bakso ikan, kepiting goreng, ayam kecap, ikan ayam-ayam bakar, hingga pepes ikan krisi terhidang dengan apik di atas meja. Dari semua menu yang dihidangkan tersebut, mata saya tertuju pada satu menu yaitu pepes ikan sulir. Menu yang membuat penasaran.

(Baca juga: Menikmati Pulau Leebong Saat Turun Hujan)

beberapa menu makan siang di Leebong Resto

Daripada penasaran berkepanjangan saya pun mencobanya dan terkejut. Pasalnya bumbu pepes di Belitung -Leebong khususnya- ternyata berbeda dengan pepes-pepes di Pulau Jawa. Jika di Pulau Jawa khususnya tanah Sunda pepes identik dengan harum bau daun kemangi dan daun bawang, di Leebong lain. Bumbu pepes di Leebong didominasi oleh rempah-rempah khususnya kunyit. Hal ini terlihat sekali ketika saya membuka pepes dan bekas warna kuning menempel di tangan. Pun ketika memakannya, kunyit sangat terasa.

pepes ikan sulir bungkus daun simpor

Pepes ini memberikan sensasi dan kekayaan rasa tersendiri dari rasa pepes yang sebelum-sebelumnya pernah saya makan. Pemilihan ikan sulir untuk diolah menjadi pepes pun membuat bumbu menyerap pada bagian-bagian ikan. Ikan sulir ini bentuknya tidak begitu besar dan kalau menurut saya hampir mirip ikan kembung. Uniknya lagi, di Leebong pepes ikan tidak dibungkus menggunakan daun pisang melainkan daun simpor yang bentuknya mirip daun jati.

Pepes ini sangat cocok dimakan bersama nasi putih hangat. Oh ya, hati-hati makan pepes ini bersama nasi putih hangat bisa bikin nambah berkali-kali, hihi. Duuuhh, saya jadi ngiler pengen makan pepes ikan krisi ala Leebong Resto nih ketika menuliskan hal ini.

2. Jauh-Jauh ke Belitung Timur demi Gangan RM Sinar Laut

beberapa menu di RM Sinar Laut Ayung BB

Dari Januari 2017 lalu ketika suami saya ke Belitung untuk pertama kalinya dia jatuh cinta sekali sama gangan. Kata suami saya makanan ini enak sekali padahal yang saya tahu ia tidak begitu suka kepala ikan. Sejak saat itulah, ia sering bilang “kalau ke Belitung jangan lupa makan gangan” dan saya pun jadi penasaran seenak apa gangan yang diidolakan suami saya ini.

Pucuk dicinta ulam tiba. Hari kedua di Belitung saya dan teman-teman pun berkesempatan untuk mencicipi gangan di RM Sinar Laut atau Ayung BB yang terletak di Pantai Serdang, Belitung Timur. Bukan perkara mudah untuk menuju ke rumah makan tersebut karena kami yang start dari Belitung Barat harus menempuh perjalanan sekitar 2 jam untuk menuju Belitung Timur. Apalagi hari itu hujan di hampir sepanjang jalan dan kami menemui 4 titik banjir yang harus dilewati. Namun semuanya terbayarkan ketika sampai di RM Sinar Laut.

Rumah makan yang satu ini cukup sederhana namun yang datang ke sana bukan cuma orang-orang biasa. Bangunan rumah makan sebenarnya biasa saja khas tempat-tempat makan di pinggir pantai tetapi yang makan di sini adalah wisatawan-wisatawan seperti kami, wisatawan asing, pejabat hingga mantan pejabat. Buktinya adalah foto-foto yang terpajang di bagian atas rumah makan. Ada beberapa wajah terkenal yang nampak di situ. Salah satu yang paling gampang dikenali adalah wajah mantan gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Bahkan, saat kami makan pun tiba-tiba datang Yusril Ihza Mahendra yang langsung masuk ke dapur dan memilih ikan untuk dipesannya.

Sambil menunggu makanan datang kami pun disuguhi kerupuk ikan tenggiri. Pak Ayung memberi tahu kami bahwa kerupuk itu enak dimakan dengan cocolan sambal terasi. Kami pun menurut dan setelah dicoba ternyata enak. Sambal terasinya segar karena ada harum jeruk purut di sana.

gangan ikan ketarap

Setelah menunggu beberapa lama makanan pun keluar. Gangan, udang saus tiram, ikan ayam-ayam bakar, cah kangkung, dan cumi goreng tepung pun terhidang di sana lengkap dengan sambal dan nasi putihnya. Rasanya tak sabar untuk menyantapnya setelah 2 jam kami menahan lapar selama perjalanan menuju Belitung Timur. Namun karena makan bersama rombongan blogger, saya pun harus sabar karena makanan harus difoto dulu, hihihi.

Gangan adalah makanan pertama yang saya ambil. Maklum saja saya penasaran dengan rasanya setelah suami saya terus-menerus cerita soal gangan. Gangan sebetulnya adalah kepala ikan yang dimasak lempah kuning. Mengapa hanya kepalanya? Karena tubuh ikan biasanya sudah dipakai untuk bahan baku bakso ikan. Ikan yang dipakai bisa ikan apa saja namun yang paling enak adalah kepala ikan ketarap. Dan saat itu gangan ikan ketarap pun benar-benar ada di depan mata saya.

Mencicipi gangan enaknya memang saat masih hangat. Kuahnya begitu nikmat, perpaduan antara manis, sedikit asam, dan gurih. Beruntung saat itu gangan yang disuguhkan adalah ikan ketarap utuh dengan badan dan ekornya. Saya pun mencoba daging ikan yang sudah diambil ke mangkuk kecil dan ternyata rasanya cocok sekali di lidah saya. Dagingnya empuk dan bumbu gangannya pun meresap di dalamnya. Pas sekali dinikmati saat cuaca mendung dan sedikit dingin di sore itu.

Tak cuma gangan yang menyita perhatian saya, hampir seluruh menu yang terhidang di meja rumah makan yang telah berdiri dari tahun 2003 itu seolah melambaikan tangan meminta untuk saya coba. Satu-persatu pun saya coba menu yang ada di sana. Selain gangan, saya suka dengan cah kangkung dan ikan ayam-ayam bakar. Bahkan saya dan Mas Arif (suami Mbak Katerina) adalah orang terakhir yang masih menggerogoti kepala ikan ayam-ayam.

3. Pedas dan Menantangnya Kepiting Saus Padang di RM Dynasty

Perjalanan balik dari Belitung Timur ke Belitung Barat memang makan waktu yang cukup lama yaitu sekitar 2 jam perjalanan. Perut yang tadinya kenyang pun lapar kembali karena dingin di sepanjang perjalanan. Akhirnya, mobil yang kami tumpangi pun sampai ke restoran seafood Dynasty. Restoran ini terletak di Tanjung Pandan, Belitung. Saat kami tiba sekitar pukul 20.00, restoran ini cukup ramai oleh para pengunjung.

Tak butuh waktu lama kami menunggu hingga akhirnya makanan pun keluar. Air liur rasanya pengen menetes tatkala melihat menu-menu yang terhidang. Ada sup perut ikan, cah tauge, ketam isi, gurami asam manis, dan ‘si tokoh utama’ kepiting saus padang. Kepiting saus padang jadi primadona menu malam itu karena warnanya yang merah dan menggelora seolah menantang untuk dimakan saat itu juga. Eits, namun sebelum makan tak lupa kami mengabadikan menu-menu yang terhidang di sana.

menu malam itu di RM Dynasty

Untuk mengawali makan saya mencoba ketam isi. Ketam isi ibarat appetizer atau menu pembuka untuk menuju ke menu-menu selanjutnya. Ini adalah kali pertama saya mencoba ketam isi dan ternyata rasanya unik seperti makan bakso berbalut kepiting.

Selanjutnya saya mengambil nasi dan beberapa lauk-pauk. Tentunya kepiting saus padang tak luput dari perhatian saya. Saya ambil beberapa bagian dari kepiting dan saya sisihkan terlebih dahulu. Ya, save the best for the last. Makan kepiting memang enak setelah makan nasi usai. Sambil makan nasi saya comot sedikit bumbu saus padang kepiting dan ternyata enak tapi pedas, haha. Bagi saya yang sudah tobat pedas ini agak-agak menggoda. Coba kalau saya masih doyan pedas seperti dulu, tanpa ba bi bu, nasi panas sama bumbu saus padang bisa bikin makan nambah berkali-kali.

gurami asam manis
ketam isi ala RM Dynasty
kepiting saus padang

Secara keseluruhan hidangan di RM Dynasty cocok di lidah saya. ‘Jagoan’ makanan si kepiting saus padang pun saya nikmati terakhir. Rasanya cocok di lidah saya. Apalagi bumbu kepitingnya yang pedas dan kaya rempah. Sambil makan, owner RM Dynasty -Ibu Yuli- pun menyambangi kami dengan ramah dan menjelaskan satu per satu menu yang terhidang di meja makan. Tak lupa ia pun menanyakan bagaimana cita rasa makanan yang terhidang. So pasti untuk kami yang kelaparan dan baru menempuh perjalanan jauh selama 2 jam ini begitu nikmat.

Saat kami datang, RM Dynasty lumayan penuh. Beberapa meja bahkan sudah tereservasi. Maklum saja, mungkin malam itu adalah malam minggu jadi restoran penuh oleh pengunjung. Walaupun begitu, restoran masih bisa muat rombongan kami. Selain tempat makan yang kami tempati, resto ini juga memiliki semacam aula besar yang bisa menampung banyak orang. Jadi nggak khawatir deh kalau kamu mau ke Belitung dan bawa rombongan, resto ini bisa jadi pilihan makan untuk beramai-ramai.

4. Jatuh Cinta dengan Pisang Goreng Pasir OS Kopi Kong Djie

Ke Belitung jangan lupa untuk mampir di kedai-kedai kopi di sana. Iya, masyarakat Belitung sangat suka dengan budaya ngopi. Menurut Ko Darmawan saat menjemput kami beberapa waktu sebelumnya, budaya ngopi sudah ada dari zaman dahulu. Ngopi dulunya dilakukan oleh para pekerja pelabuhan (sekarang PT Pelindo) sebelum melakukan pekerjaannya. Namun kini, minum kopi tampaknya sudah membudaya di Belitung. Itu sebabnya kita dapat dengan mudah menemukan kedai-kedai kopi di beberapa tempat di Belitung.

Salah satu kedai kopi yang terkenal adalah Kedai Kopi Kong Djie. Selepas dari RM Dynasty, kami masih melanjutkan malam di gerai OS Kopi Kong Djie ditemani rintik hujan. Kopi Kong Djie ini sudah jadi brand tersendiri di Belitung. Kedainya pun sudah memiliki cabang di mana-mana, dari yang berkonsep jadul sampai dengan yang kekinian. Satu hal yang unik dan khas dari kedai Kopi Kong Djie adalah deretan ceret-ceret besarnya yang selalu dipajang.

Kopi Kong Djie sudah berdiri dari tahun 1945. Bangunan pertamanya terletak di sudut jalan di depan sebuah gereja Regina Pacis. Lebih tepatnya berada di pinggir jalan raya yang menghubungkan Tugu Batu Satam dan Pantai Tanjung Pendam. Kedai ini berdekatan dengan pasar dan pelabuhan. Namun sayang, waktu itu saya dan kawan-kawan hanya sempat lewat sebentar di depannya dan tak sempat mampir karena kondisi tempat yang tak memungkinkan saat hari mulai hujan.

Namun kami tidak kecewa. Pasalnya kami tetap bisa mencoba bagaimana nikmatnya Kopi Kong Djie di gerai OS Kopi Kong Djie di Jalan Mat Daud, Tanjung Pandan. Ini adalah gerai Kopi Kong Djie cabang ke 8 dari 12 cabang dengan mengusung tema yang lebih kekinian karena konsepnya seperti cafe namun tetap menghidangkan kopi legendaris Belitung. Selain menjual makanan dan minuman, tempat ini juga menjual kenyamanan dan kekinian. Hal ini terlihat dari beberapa spot yang terlihat instagramable dan cocok untuk menjadi latar foto.

Di malam yang dingin sedikit gerimis itu saya pesan kopi susu dan pisang goreng pasir. Sementara yang lain ada yang pesan telur setengah matang atau teh panas. Makanan-makanan di OS Kong Djie memang cocok dijadikan camilan saat dingin dan turun hujan. Tak berapa lama menunggu, akhirnya makanan pun datang.

Saya bukan coffee addict. Pengetahuan kopi saya sependek ini cuma sebatas enak-nggak enak dan bikin deg-degan atau nggak setelah diminum. Ternyata, Kopi Kong Djie ini cocok di lidah saya meski agak sedikit kemanisan. Iya, karena sebenarnya saya nggak suka manis (bahkan gula halus di atas pisang goreng pasir pun saya singkirkan). Kopinya pun nggak berefek deg-degan di dada saya. Bagi yang pengen merasakan Kopi Kong Djie di rumah, di sini pun terdapat bubuk kopi Kong Djie kemasan yang bisa dibawa pulang sebagai oleh-oleh.

Tami dan bubuk Kopi Kong Djie
kopi susu yang saya pesan

Sementara itu pisang goreng pasir yang saya pesan pun begitu menggoda. Apalagi malam hari itu hujan semakin deras dan dingin. Pisang goreng pasir yang ada di OS Kong Djie pun rasanya cocok sekali untuk menemani malam itu. Meski perut sudah kenyang karena makan di RM Sinar Laut Ayung BB dan Dynasty, tetapi tetap saja magnet pisang goreng pasir begitu kuat. Saya sampai pesan satu lagi pisang goreng pasir tanpa gula halus. Soalnya nagih sih. Sampai sekarang rasa pisang goreng pasir OS Kong Djie masih terbayang dan tak terlupakan. Bahkan, saya sampai mencoba-coba bikin sendiri di rumah kalau kangen sama pisang goreng pasir tersebut.

pisang goreng pasir dengan taburan gula halus

5. Bernostalgia di Rumah Makan Jadoel Timpo Duluk

Ini adalah tempat makan terakhir yang saya sambangi ketika vakansi di Belitung. Kami datang ke Timpo Duluk di siang hari dalam rangka merayakan ulang tahun Mas Elton, suami Ima Satrianto. Rasa penasaran pun datang karena nama rumah makan ini memang begitu terkenal, bahkan sudah masuk beberapa media massa untuk diliput. Bahkan, nama Timpo Duluk juga sudah terkenal di kalangan wisatawan asing. Saat saya makan di situ pun terlihat beberapa bule yang juga makan di Timpo Duluk.

Sebenarnya Rumah Makan Timpo Duluk ini adalah rumah makan dengan konsep jadul. Bangunan yang menjadi tempat makan berupa rumah lama yang tetap dipertahankan keasliannya sehingga pengunjung bisa makan sekaligus bernostalgia. Selain itu, di dalam ruangan tempat makan pun didekorasi dengan ornamen-ornamen jadul dari perangkat elektronik kuno, sepeda kuno, perkakas dapur, hingga foto-foto yang membuat ketika makan orang seperti masuk ke mesin waktu.

salah satu sudut ruangan di RM Timpo Duluk
RM Timpo Duluk tampak depan
makan di antara perkakas-perkakas kuno

Salah satu makanan yang khas dari Timpo Duluk adalah nasi bedulang. Nasi bedulang ini mirip nasi bancakan kalau di tanah Jawa karena sama-sama untuk makan besar beberapa orang. Nasi bedulang terdiri dari nasi, lauk, sayur, dan sambal. Namun, karena siang itu kami sudah lapar dan khawatir tidak nampol kalau makan nasi bedulang akhirnya diputuskan memesan menu sendiri-sendiri saja. Menu yang saya pesan hari itu adalah paket ayam goreng sambal Timpok Dulu (3 hari ini saya bosan dengan seafood jadi beralih makan ayam dulu) dengan minuman es jeruk Belitung. Sedangkan Manda, si empunya acara memesankan kami berego untuk dimakan bersama-sama.

Tak perlu menunggu lama, makanan yang dipesan pun datang. Sebelum makan tentunya kami tak lupa mendokumentasikan semuanya. Menu yang saya pesan rupanya tidak salah. Ayam gorengnya enak dan lembut di lidah. Yang paling juara adalah sambalnya, segar dan pedas, cocok untuk menemani nasi dan ayam goreng. Di tengah pedas yang menyerang lidah, es jeruk Belitung pas sekali berjodoh dengan makanan siang itu. Segar dan bikin saya dejavu dengan es jeruk yang biasa diminum di kampung halaman, Kutoarjo.

Selain makan menu utama, saya pun mencoba berego yang sudah dipesan Ima. Berego adalah makanan seperti lontong yang terbuat dari tepung terigu dan sagu. Teksturnya kenyal seperti kue lapis namun tawar. Berego dimakan dengan kuah kari ikan dan sambal. Saya pun mencicipi sedikit berego yang ada di meja. Rasa rempah-rempah adalah rasa yang dominan dalam kuah kari, pas sekali dipasangkan dengan berego yang tawar. Kalau suka pedas, sambal yang terhidang bisa menambah segarnya makan berego siang itu.

berego di Timpo Duluk

Setelah makanan habis kami pun bersantai sejenak. Itu adalah terakhir kami mencicipi cita rasa kuliner Belitung dalam trip saat itu. Ah rasanya tak mau move on dari kuliner Belitung yang masih sangat membekas di lidah. Terima kasih Belitung atas alam yang indah dan juga kekayaan kuliner yang memanjakan lidah. Semoga kelak saya bisa mencicipi kuliner Belitung lebih banyak lagi.

Buat yang mau tahu lebih banyak lagi keseruan saat berburu kuliner di Belitung, bisa simak video di bawah ini:

10 Comments
Previous Post
Next Post