Menanti Senja di Pantai Kuta Lombok

“Kak beli gelangnya, Kak,” suara beberapa bocah menyambut saya dan Cenie kala memasuki areal Pantai Kuta, Lombok.

Setelah memarkirkan motor dengan biaya Rp 5.000, saya dan Cenie dengan gampangnya masuk ke kawasan Pantai Kuta Lombok. Tidak ada tiket masuk untuk menuju pantai ini, yang ada hanyalah karcis parkir kendaraan baik itu roda 2 atau 4.

Tidak sulit untuk mencari Pantai Kuta Lombok karena letaknya tidak sampai 1 km dari penginapan kami di Kuta Indah Lombok Hotel. Hanya menempuh 2 perempatan lalu belok ke kanan. Kalau dari sentral Kuta Lombok, Pantai Kuta bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Letaknya tak jauh dari kios-kios penjual souvenir yang letaknya di pinggir jalan menuju Kuta. Walau awalnya saya dan Cenie nyasar karena salah belok, toh akhirnya kami menemukan juga letak Pantai Kuta Lombok di kawasan Mandalika yang saat itu sedang dalam proses pembangunan.

(Baca juga: Drama Tabrakan Mobil hingga Menginap di Airy Rooms Kuta Indah Hotel)

Ketika baru menjejak pasir Pantai Kuta Lombok, sontak kumpulan anak yang sedang bermain bola di sana berlarian mengejar kami dan menawarkan barang dagangannya yaitu gelang. Gelang-gelang yang berasal dari tali dan manik-manik kecil mereka perdagangkan pada para wisatawan yang masuk ke area Pantai Kuta.

Dengan gaya yang sedikit memaksa khas anak kecil, mereka menawarkan gelang-gelangnya pada saya dan Cenie. Saya tersenyum sambil melihat-lihat apa yang mereka jual sementara Cenie justru lebih serius melihat barang dagangan mereka. Iya, Cenie si penyuka gelang-gelang etnik dengan muka seriusnya akhirnya menjadi bahan serbuan anak-anak ini. Ketika kami masih melihat-lihat, ada lagi satu dua orang anak yang berjalan menghampiri kami hingga akhirnya Cenie benar-benar dikerubuti bocah-bocah penjual gelang. Sementara saya memilih keluar dari kerumunan karena tidak tertarik dengan gelang-gelang atau aksesoris etnik.

Mendengar celotehannya yang lucu, saya sesekali tersenyum melihat interaksi Cenie dan bocah-bocah itu. Mereka dengan polosnya menawarkan gelang-gelang kepada Cenie dengan harga Rp 25.000 untuk 5 gelang. Sesekali Cenie menawar sambil cekikikan. Anak-anak itu pun menepis tawaran Cenie dengan guyonan. Pemandangan hangat sore itu menjelang senja di Pantai Kuta Lombok.

“Kamu kalau nawarin gelang ke bule-bule gimana ngomongnya?” tanya Cenie

“Buy one bracelet, Mister,” kata seorang anak laki-laki dengan logat Lomboknya yang terdengar lucu. Kontan saya dan Cenie tertawa terbahak.

Beberapa dari mereka lalu memperkenalkan diri dan menyebutkan namanya. Salah satu anak mengaku bernama Ana Banana. Mendengar dia mengucap itu saya dan Cenie pun langsung terbahak.

Setelah lama dikerubuti bocah penjual gelang, Cenie pun berhasil menawar Rp 20.000 untuk 5 gelang yang dibeli dari 2 bocah penjual yang berbeda. Setelah itu kami pun berjalan keluar dari kerumunan mereka walau sesekali masih ada yang memelas minta dibeli. Tapi ya gimana lagi, masa iya saya dan Cenie harus bawa pulang banyak gelang yang sama, hihihi.

Menikmati Pantai Kuta Lombok saat Surut

Saya dan Cenie berjalan menuju perairan. Sore itu, air laut sedang surut jadi kami bisa berjalan agak ke tengah. Untuk berjalan menuju tengah, saya harus berhati-hati karena saya harus melewati karang-karang yang lumayan licin dan tajam. Untungnya saya memakai sandal jadi kaki masih terlindungi dari karang-karang itu.

Selain kami berdua, ada beberapa wisatawan yang juga sedang menikmati Pantai Kuta kala itu. Namun jumlahnya tidak banyak, masih bisa ditolerir dan masih nyaman untuk hitungan sebuah pantai. Di bagian pantai agak ke tengah banyak beberapa warga lokal yang sepertinya sedang mencari sesuatu. Cenie lah yang pertama kali mengobrol dengan mereka ketika saya masih sibuk mengambil gambar sore itu.

Saya berjalan ke arah Cenie yang sedang asyik mengobrol. Cenie lalu mengatakan sama saya kalau kakak-kakak itu sedang mencari tanaman di laut yang bentuknya mirip anggur laut dan ganggang laut. Awalnya, saya dan Cenie mengira kalau mereka sedang mencari nyale atau cacing laut tapi ternyata dugaan kami salah. Mereka sedang mencari anggur dan ganggang laut untuk dimakan.

Hah dimakan? Emangnya enak? Entahlah kalau buat lauk, tapi saya sempat nyobain anggur laut berwarna hijau yang ukurannya kecil-kecil itu. Si kakak ngasih lihat ke saya trus hanya dicuci sebentar di air laut. Rasanya asin dan teksturnya kayak anggur tapi kecil-kecil gitu. Yah mirip kalau kita ngeletusin pulpy gitulah karena kecil-kecil kan.

Kata kakaknya, tanaman-tanaman yang mereka cari itu nanti buat dimakan. Saya kira awalnya bakalan buat semacam urap trus direbus terlebih dahulu, ternyata saya salah. Tanaman-tanaman itu nantinya cuma dicuci pakai air bersih lalu sudah bisa dimakan pakai nasi atau sambal. Ya mirip-mirip lalapan gitu lah. Seru juga ya ternyata, jadi penasaran rasanya kayak gimana kalau sudah dicampur nasi atau sambal.

(Baca juga: Sulitnya Cari Makanan yang ‘Nyetel’ di Lidah di Gili Trawangan)

Sore itu, bukan cuma satu dua orang yang mencari ganggang laut di Pantai Kuta Lombok. Ada banyak masyarakat lokal yang mencarinya. Mereka membawa kantung-kantung plastik dan ember sebagai wadah. Kegiatan ini mereka lakukan biasanya saat air laut surut. Dan sore itu saya dan Cenie merasa beruntung karena bisa menikmati Pantai Kuta Lombok saat air laut surut.

Menanti Senja di Pantai Kuta Lombok

Sore itu saya dan Cenie masih meneruskan mengeksplore Pantai Kuta setelah berbincang sejenak dengan penduduk lokal. Kami menunggu sunset di sana. Saya pun berjalan di antara pasir pantai yang menurut saya bentuknya sangat unik. Iya, pasir Pantai Kuta tidak halus seperti halnya pantai-pantai yang sebelumnya pernah saya singgahi. Pasir pantainya berwarna putih kekuningan namun bentuknya sedikit lebih besar dari pantai-pantai biasanya. Kalau bisa saya deskripsikan, bentuk pasirnya menyerupai ketumbar atau merica, berbutir-butir besar.

Karena bentuknya yang seperti merica, saya pun sedikit kesulitan untuk berjalan tanpa alas kaki di pasir Pantai Kuta. Kalau jalan di tempat yang sedikit turunan, rasanya kayak merosot-merosot gitu kakinya. Mungkin karena si pasir merica (begitu biasa masyarakat sana menyebutnya) jadi buyar-buyar gitu pas diinjak.

Semakin sore, beberapa pencari ganggang laut berangsur-angsur menjadi sedikit. Namun, justru beberapa pengunjung yang membawa keluarganya semakin berdatangan. Mungkin juga mereka sama seperti saya yang ingin menikmati matahari perlahan menghilang di balik bukit. Dan sekitar pukul 17.30, sunset mulai terlihat. Cahaya matahari yang berpendar lama-kelamaan berwarna jingga dan seolah ditelan perbukitan di sekitar Pantai Kuta Lombok.

(Baca juga: Kisah ‘Mengejar Matahari’ di Gili Trawangan)

Cahaya matahari perlahan mulai menghilang. Warna jingga di langit pun perlahan pudar. Semuanya berganti perlahan gelap. Namun, satu hal yang terlihat begitu magis di mata saya adalah langit yang berwarna merah muda sebelum semuanya berubah menjadi gelap. Pemandangan ini begitu indah, begitu magis, dan membuat saya begitu terpesona.

Saat matahari mulai menghilang, saya masih berada di Pantai Kuta Lombok bersama Cenie. Kami sengaja tidak ingin lekas pulang karena memang letak Pantai Kuta yang dekat dengan penginapan. Kami pun menghabiskan petang itu sambil berjalan di atas pasir merica dan menikmati air pantai yang perlahan mulai pasang. Sore itu begitu syahdu. Kami habiskan waktu dengan berjalan dan ngobrol hingga hari pun menjadi gelap.

 

3 Comments
Previous Post
Next Post