Menikmati Lebaran di Jakarta (Lagi)

Tahun ini karena nggak dapat surat izin mudik dari dokter kandungan, akhirnya dengan berat hati saya dan suami memutuskan buat berlebaran di Jakarta. Ini memang bukan pertama kalinya saya dan suami nggak mudik, tapi Lebaran tahun ini adalah pertama kalinya buat saya dan suami di lingkungan baru yaitu rumah kami yang sekarang.

(Baca juga: Lebaran di Tanah Rantau, Apa Enaknya?)

Selama hampir 3 tahun tinggal di rumah yang sekarang, kami belum pernah sekalipun merayakan Lebaran di sini. Kalau Idul Adha sih selalu di rumah, tapi kalau Idul Fitri pasti kamilah yang paling pertama mudik. Makanya saya agak ragu dan mellow ketika Lebaran kali ini nggak boleh pulang. Takutnya, nanti Lebaran kami jadi garing, sepi, dan susah nyari makan.

Bukannya tanpa sebab saya khawatir. Lebaran-Lebaran kami sebelumnya yang nggak mudik dirayakan di rumah kontrakan yang mana bertetangga dengan Tante dan sepupu-sepupu saya. Jadi tetap berasa kekeluargaannya, tetap bisa makan ketupat yang dikasih Tante saya, dan nggak sepi-sepi amat. Nah sekarang? Jarak dari rumah saya ke rumah Tante di Kemayoran aja lumayan jauh. Udah gitu keluarga Tante juga mudik ke Kutoarjo (yang mana biasanya jarang mudik), dan saya blasss nggak bisa bikin ketupat, huhuhu. Saya takut Lebarannya nggak berasa Lebaran.

(Baca juga: 7 Hal yang Membuat Mudik Lebaran 2016 Tak Terlupakan)

Setelah melewati drama mellow balikin tiket, akhirnya saya legowo juga untuk merayakan Lebaran di Jakarta karena suami pun ikhlas. Oh ya, satu hal lagi yang juga saya khawatirkan sebelumnya adalah suami jadi sedih karena nggak pulkam. Tapi toh dia ikhlas, jadi saya lumayan ringan menjalaninya.

Biar Lebarannya tetap terasa Lebaran, kami pun atur strategi dari sebelum Lebaran. Hmmm, sapa bilang Lebaran nggak mudik nggak bisa asyik? Ini yang saya dan suami lakukan biar walaupun Lebaran kami rayakan berdua tetapi tetap asyik-asyik aja.

1. Sedia makanan yang banyak

Inilah yang saya pikirkan ketika akhirnya kami ikhlas buat balikin tiket mudik dan berlebaran di Jakarta. Makanan. Saya takut pas hari H Lebaran sampai seminggu setelahnya, tukang sayur, warung, atau penjual makanan pada tutup dan mudik. Makanya yang pertama harus diamankan ya stok makanan baik itu bahan makanan mentah ataupun matang seperti camilan.

(Baca juga: Cara Membatalkan Sebagian Tiket Kereta Api dalam Satu Kode Booking)

Dari jauh hari sebelum Lebaran, saya udah bikin list makanan apa aja yang harus ada. Ya paling nggak untuk persediaan masak dan ngemil saya selama 7 harian. Maklum aja lah, bumil kan cepat lapar, hahaha. Takutnya kalau terlalu lapar trus nggak ada makanan, saya suka migrain. Pun banyak teman menyarankan buat sedia banyak makanan saat Lebaran tiba biar nggak kalang kabut. Yo wes, saya pun nurut aja.

Saya stock bahan makanan mentah dan matang. Dari daging sapi, tetelan, sayuran buat bikin sop, ayam kampung seekor, enthog seekor, ayam fillet, kelapa, sampai bumbu dapur. Sementara itu kalau cemilan saya sedia kukis khas Lebaran, kerupuk, sampai makanan kiloan. Lengkap kap deh biar nggak kelaparan, hahaha. Ehhhh ternyata pas Lebaran justru di luar perkiraan. Dulu pas masih di Kemayoran memang tukang dagang hampir semuanya pada tutup tapi ternyata berbeda saat di Ciledug. Pas hari H Lebaran banyak juga kok warung yang buka dari warung nasi padang, warteg, bakso, mie ayam, sampai fast food. Kalau kayak gini nggak bakal takut kelaparan deh.

2. Berkunjung ke rumah saudara terdekat

Saya dan suami sempat khawatir kalau Lebaran kali ini akan dilewati benar-benar berdua karena biasanya Tante dari suami yang rumahnya paling dekat dari kami mudik Lebaran setiap tahunnya. Tapi mungkin sudah diatur sama Yang Di Atas biar kami nggak kesepian banget, ehh ternyata si Tante nggak mudik tahun ini. Jadi aja saya dan suami bisa melewatkan setengah hari Lebaran dengan saudara biar nggak sepi-sepi amat.

Berkunjung ke rumah saudara terdekat memang satu hal yang bisa dilakukan biar Lebaran menjadi berasa Lebaran. Ya karena biasanya memang momen Lebaran adalah momen berkumpul bersama keluarga khususnya mereka yang jarang ketemu. Di momen inilah tali silaturahmi direkatkan kembali.

Buat yang masih punya saudara memang lebih afdol mengunjungi saudaranya saat berlebaran di tanah rantau. Kalau nggak ada ya mungkin bisa berkunjung dan silaturahmi ke rumah teman biar bisa merasakan hangatnya berkumpul saat Lebaran. Kalaupun nggak ada juga ya momen ini bisa dijadikan ajang silaturahmi sama tetangga sekitar. Pokoknya jangan lewatkan Lebaran sendirian karena akan makin berasa sedih dan sepinya. Berkumpulah dengan orang-orang dekat atau yang disayang.

3. Nonton film

Saat Lebaran tiba biasanya banyak film di bioskop yang sengaja launching-nya berbarengan dengan hari yang fitri ini. Ya, biar sekalian bisa buat hiburan keluarga saat hari libur. Baik itu film Indonesia maupun film luar negeri biasanya banyak yang tayang menjelang, saat, atau beberapa hari setelah Lebaran. Mungkin produser filmnya juga menganggap bahwa hari-hari libur jelang Lebaran adalah saat orang mau meluangkan waktunya bersama keluarga buat refreshing dengan menonton film. Tinggal pilih aja mau nonton film yang mana.

Buat saya dan suami yang nggak suka jalan ke mall tanpa tujuan, menonton film di bioskop adalah alternatif paling pas buat menghabiskan libur Lebaran di tanah rantau. Ya biar nggak bosan juga dengan suasana sepi di rumah karena bioskop kan rame orang dan saya sekalian bisa minta jajan. Ternyata bukan saya aja kok yang menghabiskan libur Lebaran bersama keluarga dengan menonton film. Pas saya scroll timeline, banyak juga teman yang nggak mudik yang memilih menghabiskan waktu dengan menonton film di bioskop.

Selain di bioskop, banyak juga parade film bagus yang tayang di televisi saat Lebaran. Biasanya sih film-film Indonesia. Nah, ini juga bisa dijadikan alternatif tontonan kalau malas ke bioskop yang konon juga ngantri saat libur Lebaran. Kan kalau di rumah bisa nonton film sambil ngemil ((NGEMIL)) lontong opor, hahaha.

4. Baca buku

Sejak tahu nggak ada harapan buat pulkam, saya mengumpulkan buku-buku yang pernah saya beli dan belum sempat dibaca buat dibuka kembali dan dibaca. Sejauh ini sih udah ada beberapa buku yang berhasil saya ´lahap´ dari Bulan Ramadan kemarin. Bosan juga kan kalau terus-menerus mainan hape atau cek socmed pas libur Lebaran (yang mengakibatkan badan semakin mager). Alhasil baca buku bisa jadi alternatif buat menghabiskan libur Lebaran.

Menghabiskan libur Lebaran dengan baca buku ini juga sekaligus jadi penebus dosa atas kebiasaan saya yang suka beli-beli buku tapi ditumpuk aja, dibaca beberapa, atau malah dibaca sebagian tapi nggak sampai habis. Sekalian juga saya ngurusin buku-buku yang akhir-akhir ini nggak sempat tersampul plastik karena saya juga semakin malas. Jadi deh libur Lebaran di perantauan ada faedahnya buat saya dan koleksi buku-buku tercinta.

5. Ngedraft tulisan di blog

Siapa yang Lebaran kali ini masih menyisakan hutang tulisan atau sponsored post? Lalu saya tunjuk diri sendiri. Mumpung libur Lebaran kali ini waktu lowongnya banyaaaakkk banget, jadilah saya sempatkan buat bikin draft dan nulis baik itu original content atau utang-utang sponsored post yang masih belum terbayarkan. Termasuk bikin postingan yang ini.

Ada hikmahnya juga kok ternyata kalau menghabiskan Lebaran di Jakarta dan nggak mudik tahun ini, asal mau mencari dan mengambil hikmahnya. Kalau mau melihat ke atas dan terpaku sama orang-orang yang bergembira karena mudik Lebaran, ya pasti akan sedih terus-menerus. Tapi kan nggak bisa gitu juga, masa Lebaran mau sedih-sedihan.

Saya juga masih harus bersyukur karena masih bisa menikmati suasana Lebaran meski tanpa keluarga besar. Masih bisa silaturahmi sama tetangga dan saudara, makan opor ayam dan rica-rica enthog (makanan khas keluarga saya), ngemil nastar dan kastengel, sampai bagi-bagi rezeki angpau ke saudara. Bandingkan dengan teman-teman saya yang ada di luar Indonesia atau masih harus kerja saat Lebaran. Mungkin apa yang mereka alami nggak seberuntung saya. Makanya saya juga harus pintar-pintar belajar mengambil hikmah.

Berbahagialah kalian yang bisa menghabiskan libur Lebaran di kampung halaman bersama keluarga tercinta. Saya di tanah rantau, mencari kebahagiaan Lebaran dengan cara saya sendiri. Selamat Lebaran, mohon maaf lahir dan batin ya.

 

2 Comments
Previous Post
Next Post