7 Hal yang Membuat Mudik Lebaran 2016 Tak Terlupakan

momen-tak-terlupakan-saat-lebaran

Mudik Lebaran tahun ini adalah mudik kedua setelah saya menikah. Lebaran-Lebaran sebelumnya saya biasa melewatkannya di Jakarta karena masih bertugas sebagai reporter. Kalau mudik tahun lalu masih diselimuti duka karena saya baru keguguran dan ibu mertua baru kecelakaan, maka mudik tahun ini lebih berwarna-warni karena ada suka dan duka.

tugu-purworejo
Tugu Kabupaten Purworejo

Saya dan suami mudik ke Kabupaten Purworejo, sebuah kota kecil di selatan Pulau Jawa. Saya dan suami sama-sama berasal dari Purworejo hanya berbeda kecamatan, saya di Kecamatan Kutoarjo sementara suami Kecamatan Butuh. Maka, tak sulit buat kami untuk membagi waktu akan mudik kemana karena setiap hari saya dan suami bisa bolak-balik sekaligus. Lebaran tahun ini juga ada hal-hal yang tak terlupakan, bahkan tak akan bisa terulang di Lebaran-Lebaran berikutnya.

1. Mudik Asyik dengan Kereta Api

Pengalaman pertama mudik dibuka dengan perjalanan pulang menggunakan kereta api. Saya selalu menggunakan kereta api ketika mudik Lebaran karena nyaman, bebas macet, dan langsung sampai. Iya, langsung sampai karena rumah saya mepet stasiun dan ibu saya punya warung di stasiun. Jadilah, turun kereta berarti sudah sampai rumah. Kereta api juga punya memori sendiri di hidup saya karena saya dibesarkan di lingkungan stasiun.

(Baca juga: Tips Mudik Lebaran Menggunakan Kereta Api)

Dulu waktu kecil, saat Lebaran tiba biasanya saya dan kawan-kawan seumuran jadi asongan dadakan yang menjajakan dagangan di antaranya kipas, koran bekas, dan tisu di kereta api. Kami mengasong tanpa paksaan dan naik turun sambil menawarkan dagangan rasanya ada kesenangan tersendiri. Namun, seiring pembenahan fasilitas di kereta api, sekarang sudah tidak ada lagi fenomena seperti itu.

mudik dengan kereta api sekarang sudah sangat nyaman
mudik dengan kereta api sekarang sudah sangat nyaman

2. Drama Mencari Sinyal

Pulang ke kampung berarti akan dihadapkan pada susahnya sinyal. Apalagi jika di kampung suami. Untuk mencari sinyal di ponsel, kami harus ke tengah sawah atau depan kuburan terlebih dahulu. Alhasil, setiap mau posting blog saya harus bawa-bawa laptop ke tengah sawah dan tethering sinyal internet dari ponsel. Saya dan suami biasanya mencari sinyal setelah Solat Subuh sambil melihat matahari terbit dan menghirup segarnya udara pagi. Untungnya, sebelum mudik, saya sudah nyicil menuliskan beberapa postingan dan disimpan di-draft. Jadi, begitu sampai rumah tinggal posting.

mencari-sinyal
mencari sinyal di tempat jemuran

Sementara itu kalau di rumah saya, sinyal internet yang lancar harus di ruang terbuka. Itu sebabnya, saya dan suami harus ke tempat jemuran di lantai dua kalau mau mendapatkan sinyal yang bagus. Repot memang bagi saya dan suami yang sehari-hari bergantung sama internet. Jadi maklum saja kalau selama di kampung saya juga susah blogwalking dan membalas pesan dari teman-teman. Tetapi ada untungnya juga dari drama susah sinyal ini. Paling tidak, kami jadi bisa berinteraksi dengan keluarga dan tetangga tanpa ‘diganggu’ asyiknya main handphone. Kami juga benar-benar bisa sejenak merasakan asyiknya liburan tanpa diganggu bunyi ‘ting’ pertanda email tugas masuk.

3. Berburu Senja dan Matahari Terbit di Pedesaan Purworejo

Siapa bilang berburu sunset dan sunrise harus ke pantai atau pegunungan? Di belakang rumah pun bisa. Ini serunya ketika saya pulang kampung. Setiap hari, saya dan suami bisa melihat sunrise dan sunset dari belakang rumah jika cuaca bagus dan tidak hujan. Kalau dari tempat suami, saya bisa melihatnya dari sawah di belakang rumah. Sementara kalau dari rumah saya bisa melihat sunrise dan sunset sekaligus aktivitas di stasiun kereta api dari tempat jemuran di lantai dua belakang rumah.

sunrise
sunrise di sawah dekat rumah suami
sunset
sunset di belakang rumah
sunrise-di-stasiun
melihat sunrise dari pinggiran stasiun

Sunset dan sunrise tidak hanya kami temui di belakang rumah, tetapi banyak tempat di pedesaan Purworejo yang bisa dinikmati untuk melihat indahnya kuasa Tuhan itu. Kebanyakan, pedesaan-pedesaan di Purworejo memang terdiri dari sawah-sawah atau perbukitan. Jadi kalau pas waktunya matahari terbit atau tenggelam, bisa dilihat sewaktu-waktu. Tak ada bangunan-bangunan gedung tinggi yang menutupi seperti halnya di Jakarta. Inilah satu hal yang paling dirindukan jika pulang kampung.

4. Menikmati Kuliner yang Dirindukan

Belum lengkap rasanya kalau mudik Lebaran tak mencicipi kuliner khas kampung halaman. Ini juga satu hal yang paling dirindukan kalau pulang kampung. Hobi jajan makanan khas daerah inilah yang akhirnya menular juga pada suami yang pada mulanya bukanlah orang yang suka jajan. Makanya, mumpung lagi di rumah saya puas-puasin makan kuliner khas sana.

bakmi-jowo
bakmi Jowo godog (rebus) yang nggak boleh dilewatkan kalau pulang kampung

Ada banyak kuliner yang bisa dicicip kalau lagi di Purworejo. Yang paling wajib saya nikmati adalah Bakmi Jowo. Bakmi Jowo disini adalah bakmi dengan mie berbentuk pipih yang dimasak (goreng/rebus) dengan sayur dan bumbu khas serta suwiran ayam minus telur. Jadi, tidak seperti Bakwi Jowo yang suka dijual di Jakarta yang memakai campuran telur bebek/ayam. Nah, Bakmi Jowo yang paling saya sukai adalah Bakmi Jowo Kangen, Pak Edi yang tempatnya ada di pojok timur Pasar Kutoarjo.

(Baca juga: Mudik)

Kuliner lainnya yang biasanya dicicipi adalah dawet ireng. Dawet ireng ini banyak ditemukan di sepanjang Jalan Raya Prembun-Kutoarjo-Purworejo. Namun, yang asli ada di sebelah wetan (timur) Jembatan Butuh yang notabene dekat rumah mertua. Selain bakmi dan dawet ireng, ada makanan khas lain yang dicoba yaitu geblek dan clorot. Geblek, baik yang mentah maupun matang, biasanya bisa didapatkan di pasar-pasar tradisional. Harganya murah dan rasanya enak. Oh ya, saya juga sempat jajan soto disana. Karena saya suka sekali soto dan soto di Kutoarjo iyu beda karena kuahnya bening, pakai ayam kampung, dan disajikan pakai mangkuk kecil yang khas. Pokoknya segar deh.

dawet ireng khas Jembatan Butuh
dawet ireng khas Jembatan Butuh
clorot
satu ikat clorot di Pasar Kutoarjo harganya Rp 10.000 saja
soto-ayam-kampung
soto ayam kampung banyak dijumpai di Kutoarjo dan Purworejo

Selain jajanan, saya juga rindu kuliner rumahan. Syukurlah, saya bisa mencoba lontong opor, sambal goreng kentang, dan rica-rica enthog. Iya, saya masak sendiri karena ibu saya nggak bisa memasak. Selain makanan itu, saya juga sempat makan rendang buatan ibu mertua dan makanan-makanan lain saat silaturahmi di tempat saudara seperti tape ketan dan pecel. Makanan-makanan itu tentu tidak bisa saya nikmati saat di Jakarta. Duh, saya jadi ngiler lagi nih saat menuliskan ini.

5. Menikmati Keramaian di Alun-Alun Kota

Di daerah, alun-alun biasanya dipakai sebagai tempat berkumpul orang-orang. Dua alun-alun yang cukup ramai di Purworejo adalah Alun-Alun Purworejo dan Kutoarjo. Beruntung saya sempat menghabiskan waktu di dua tempat ini. Oh ya, di Alun-Alun Purworejo dan Kutoarjo ini terdapat penjual makanan tenda yang berjajar di sepanjang trotoar alun-alun. Makanannya sederhana, dari sekadar wedang ronde, angkringan, bakso, bakmi, sampai ayam kampung goreng.

Di alun-alun inilah saya menikmati suasana kota kecil tempat saya bersekolah. Alun-alun juga jadi tempat saya buat ketemuan dengan beberapa teman. Alasan berkumpul di alun-alun adalah gampang dicari tempatnya dan banyak tempat makanan. Jadi, sewaktu-waktu lapar tinggal melipir ke tenda makanan. Sementara itu, saya dan suami menghabiskan satu malam untuk menikmati susu jahe di Alun-Alun Purworejo. Oh ya, Alun-Alun Purworejo juga nggak kalah sama Alkid (Alun-Alun Kidul) di Yogyakarta karena di Alun-Alun Purworejo juga terdapat mobil hias dengan lampu warna-warni yang juga ada di Alkid.

alun-alun-purworejo
di malam hari banyak orang berkumpul di Alun-Alun Purworejo
Kampung Ramadan Wirotaman, salah satu acara Ramadan di Alun-Alun Kutoarjo
Kampung Ramadan Wirotaman, salah satu acara Ramadan di Alun-Alun Kutoarjo
alun-alun-kutoarjo
salah satu sudut di Alun-Alun Kutoarjo

6. Wisata Dadakan Ke Hutan Pinus Pentulu Indah

Satu hal yang saya sesali saat Lebaran di rumah adalah makan terlalu banyak dan berakibat diare beberapa hari. Bukan hanya saya yang diare tetapi juga suami, adik ipar, dan ibu mertua. Karena diare ini akhirnya rencana saya dan suami untuk berkeliling membingkai wisata Purworejo gagal karena kami masih bolak-balik ke kamar mandi. Saya sempat sedih karena nggak bisa berkeliling Purworejo padahal sudah direncanakan dengan matang. Dalam angan-angan saya sudah saya reka-reka apa yang akan saya foto dan tulis dalam blog. Tetapi semuanya gagal karena kerakusan saya saat Lebaran, hiks.

Beruntunglah saat silaturahmi ke tempat kakak ipar di Kebumen, adik ipar saya pengen jalan-jalan di tempat wisata dekat rumah kakak ipar. Akhirnya, kakak suami saya mengusulkan ke Bukit Pentulu Indah. Bukit Pentulu Indah adalah hutan pinus yang sudah dikelola sebagai tempat wisata dan ada tempat foto kekiniannya seperti di Kalibiru. Akhirnya, dengan berbekal google maps, saya, suami, dan adik ipar ke Pentulu Indah dengan menggunakan motor. Saat itu sore hari. Cuaca masih panas dan kami sampai di Pentulu Indah pukul 16.00 setelah perjalanan satu jam.

bukit-pentulu-indah
memandang Perbukitan Menoreh dari Bukit Pentulu Indah
hutan-pinus-pentulu-indah
Bukit Pentulu Indah, salah satu tempat wisata di Kebumen
pentulu-indah
bisa foto kekinian juga ala anak-anak masa kini di hutan pinus

Sayang, cuaca cepat sekali berubah. Saat akan pulang ke rumah sekitar pukul 17.00 hujan deras datang. Kami terpaksa menunggu sampai pukul 17.30 dan akhirnya nekat menerobos hujan karena hari semakin malam. Pentulu Indah dan kami takut terjadi longsor karena tempatnya yang berbukit. Akhirnya, terpaksa kami pulang di antara derasnya hujan. Sepanjang perjalanan hujan deras. Perjalanan pulang yang bisa ditempuh selama 1,5 jam akhirnya kami tempuh selama 3 jam. Sampai rumah, kondisi kami sudah kedinginan, basah, dan nggak karuan tapi kami puas sudah bisa foto-foto dan tidak penasaran lagi dengan tempat wisata semacam hutan pinus yang memang sedang trend.

7. Lebaran Terakhir dengan Kakek

Ini adalah satu hal yang tak bisa terulang di Lebaran-Lebaran tahun depan. Lebaran tahun ini adalah Lebaran terakhir dengan satu-satunya kakek yang kami punyai yaitu kakek dari suami saya, ayah ibu mertua saya. Masih terbayang ketika hari Lebaran kami halal bihalal dan seseruan di rumah beliau dan lima hari berikutnya Mbah Kakung, begitu beliau disapa, pergi meninggalkan kami selamanya. Saya, suami, kami kaget karena Mbah Kakung tidak sakit dan meninggal ketika tertidur. Padahal, beberapa jam sebelumnya, Simbah masih minta dibangunkan karena ingin menonton Final Euro.

Beruntung, Lebaran kali ini kami masih bisa bertemu simbah dan masih bisa bercengkerama. Lebaran esok, kami hanya bisa mengunjunginya di makam. Selamat jalan, Mbah Kakung. Halal bihalal dengan Mbah Kakung pada Lebaran kemarin menjadi momen tak terlupakan di Lebaran tahun ini.

upacara-pemakaman
prosesi pemakaman kakek

Banyak hal yang tak terlupakan memang selama lebih dari dua minggu saya mudik. Duh, rasanya pengen terus di kampung dan nggak mau balik ke ibukota. Pengen punya semakin banyak hal-hal yang tak terlupakan dalam hidup. Oh ya, ngomong-ngomong unforgetable moment, ada satu acara juga nih yang bisa didatangi dan bisa dijadikan momen tak terlupakan apalagi buat para muslimah dan hijaber. Acaranya adalah Hari Hijaber Nasional. Di acara ini bakal ada fashionshow, talkshow, tausiyah, aneka lomba, dan juga bazar. Acaranya juga dimeriahkan dengan berbagai public figure terkenal seperti Alyssa Soebandono dan Dude Harlino. Penasaran dengan acaranya? Nih, catet ya acara, tempat, dan tanggalnya.

  • Nama Acara: Hari Hijaber Nasional,
  • Tanggal: 07 Agustus 2016 – 08 Agustus 2016
  • Tempat: Masjid Agung Sunda Kelapa,  Menteng, Jakarta Pusat

hari hijab nasional

 

ratna dewi

44 Comments
Previous Post
serunya-dunia-anak-kembar
Next Post
thai-alley-scbd