Lebaran di Tanah Rantau, Apa Enaknya?

Hari Raya Lebaran selalu identik dengan mudik ke kampung halaman. Para perantau berbondong-bondong memadati tempat-tempat transportasi dari mulai terminal, pelabuhan, stasiun, sampai bandara. Kota-kota besar kayak Jakarta mendadak sepi ditinggal penghuninya. Namun, ternyata ada lho sebagian orang yang nggak bisa ikut keriuhan mudik Lebaran ini.

Mereka-mereka yang tak punya uang untuk pulang, berada di situasi tak memungkinkan, kehabisan tiket, hingga yang harus tetap tinggal di tanah rantau demi loyalitas pada pekerjaan adalah sebagian orang yang tak bisa mudik Lebaran. Saya pun pernah masuk dalam bagian itu.

Pengalaman pertama kali saya Lebaran tidak pulang ke rumah adalah saat harus job training di salah satu media televisi nasional. Karena job training sebagai wartawan pas banget berbarengan dengan Lebaran, alhasil saya pun harus tetap tinggal di tempat saudara di Jakarta. Itu pertama kalinya saya berlebaran di Jakarta dan tidak pulang kampung.

(Baca juga: Mudik)

Dua tahun kemudian hal tersebut terulang kembali. Saya kembali merayakan Lebaran di tanah rantau. Profesi sebagai wartawan yang ditugaskan melaporkan kabar mudik Lebaran membuat saya nggak bisa pulang kampung. Saya pun terpaksa harus melewati Lebaran dengan teman-teman seprofesi. Hal ini juga berlanjut sampai 2 tahun kemudian tepatnya tahun 2014. Setelah menikah, saya pun masih beberapa tahun nggak bisa mudik Lebaran karena profesi wartawan yang nggak kenal kata libur. Saya baru bisa menikmati sensasi pulang kampung pada tahun 2015 hingga sekarang.

Ketika Lajang Berlebaran di Tanah Rantau

Sewaktu masih belum menikah dan ngekost, saya sudah merayakan Lebaran di tanah rantau. Bersama teman-teman seprofesi, saya merayakan malam takbiran dan Lebaran hari pertama di Jakarta. Sedangkan Lebaran hari kedua, saya sudah berada di Nagrek untuk tugas arus mudik. Rasanya gimana? Jangan ditanya, sedih banget. Jauh dari orang tua dan keluarga plus masih ngekos pula.

Mulai merasa mellow adalah sejak H-2 ketika orang-orang sudah beranjak liburan dan pulang kampung. Jakarta pun perlahan sepi. Bahkan kos-kosan ditinggal pemiliknya mudik. Puncaknya adalah ketika H-1 Lebaran alias malam takbiran. Malam takbiran adalah malam dimana kita biasa menghabiskan waktu bersama keluarga sambil mempersiapkan keperluan Lebaran besok. Makanan khas seperti opor ayam, ketupat, rendang, atau sambal goreng kentang mulai tercium baunya di dapur. Sementara saya saat itu sebagai anak kost justru semakin kesulitan untuk mencari makan karena banyak penjual makanan tutup dan mudik. Sedihnya.

(Baca juga: Bebas Baper Saat Merayakan Idul Adha di Perantauan)

Saya ingat betul dulu akhirnya saya dan beberapa teman reporter yang akan tugas arus mudik akhirnya bikin acara sendiri di kost untuk mengurangi kesedihan. Waktu itu saya dan teman kost saya yang juga reporter, Indri, mengundang teman reporter kami untuk ke kost, masak-masak, dan makan bersama. Akhirnya terkumpul 5 orang yang bisa datang ke kost. Saya, Indri, Dharma, Kak Ollie, dan Anjas, 3 reporter perempuan dan 2 reporter laki-laki.

Kami akhirnya memasak bersama dari bikin sayur bening, nyambel, goreng ayam, hingga goreng kerupuk. Walaupun hasil jadinya seada-adanya banget, tapi ngumpul berlima di malam takbiran kala itu jadi syahdu karena saya pun termasuk 4 orang teman saya lainnya nggak merasa kesepian. Sebelum makan di aula kost, kami sempat mengabadikan momen kebersamaan ini. Sayangnya, fotonya entah sudah kemana hilang di hape BB saya.

Paginya, saat Hari Lebaran tiba saya, Indri, dan Kak Ollie pun menginap bareng di kost saya biar pas berangkat ke kantor bisa barengan. Kami Salat Ied di masjid dekat kost. Setelah salat nggak ada makanan enak terhidang, karena lapar kami pun mengorek-ngorek sisa nasi dan akhirnya dimasak dengan bumbu instan. Akhirnya jadilah nasi goreng seadanya yang rasanya nggak karuan. Beda sama rasa opor ayam atau rica-rica enthog yang sering saya makan saat Lebaran di kampung. Tapi tak apa, kami tetap bersyukur. Nggak lama, jemputan ke kantor pun tiba. Saat sampai di kantor barulah hidangan khas Lebaran ada di sana. Sebagai anak kost yang haus perbaikan gizi, kami pun tanpa ba bi bu langsung mengambilnya.

Lebaran bersama Keluarga Baru di Tanah Rantau

Setelah menikah dan memiliki keluarga kecil, saya masih menjalani Lebaran di tanah rantau. Alasannya adalah susah izin cuti ketika masih kerja jadi wartawan, walaupun pada saat itu saya sudah nggak bekerja sebagai wartawan daily atau harian. Saat Lebaran dan H+1 Lebaran biasanya saya libur dan kalaupun memang ada jadwal liputan akan digantikan oleh teman saya yang non-Muslim. Meskipun begitu, saya tetap saja nggak bisa mudik karena waktu 2-3 hari saja nggak cukup buat saya pulang ke kampung halaman.

Rasanya cukup sedih karena Lebaran pertama sebagai suami istri justru dilewatkan di tanah rantau. Suami saya yang biasanya mudik setiap Lebaran jadi mengalah dan memutuskan untuk menemani saya di Jakarta saat itu. Walaupun sedih, namun di sisi lain saya juga senang. Pasalnya, Lebaran di tanah rantau kali ini saya nggak merasa kesepian karena ada suami. Saya pun bisa tetap makan makanan khas Lebaran seperti opor ayam walau harus memasak sendiri.

(Baca juga: 7 Hal yang Membuat Mudik Lebaran 2016 Tak Terlupakan)

Biar nggak sepi-sepi amat, saya memilih merayakan Lebaran di tempat saudara yang kebetulan rumahnya dekat dengan kontrakan saya saat itu. Walaupun suasana Lebaran di Jakarta berbeda jauh dengan di kampung halaman saya, Kutoarjo, namun tetap saja ada rasa bahagia karena Lebaran saat itu saya lewatkan bersama orang-orang tercinta.

Setelah Hari H Lebaran, saya tetap bekerja seperti biasa dan di sinilah letak enaknya kala Lebaran di Jakarta karena jalanan yang biasanya macet mendadak sepi. Iya, sepi ditinggal para penggunanya mudik. Nah, kalau sisi nggak enaknya sih kami jadi susah cari makan karena warung-warung atau tukang jualan pada tutup dan mudik. Sedangkan mall pun, khususnya mall dekat rumah saya, masih tutup dan sepi saat Hari Lebaran.

So far sih menurut saya mudik ke kampung halaman adalah momen terbaik yang bisa dilakukan kala Lebaran tiba. Merayakan Hari Lebaran bersama sanak keluarga dan orang tua di kampung itu tak tergantikan oleh apapun walau secara cost memang menghabiskan biaya yang nggak sedikit. Namun, memang ada kalanya orang tak bisa ikut euforia mudik Lebaran karena beberapa hal. Nah, biar nggak sedih dan Lebarannya nggak garing, coba deh simak tip dari saya saat kita terpaksa harus merayakan Lebaran di tanah rantau:

  1. Datang dan bersilaturahmilah ke tempat saudara yang masih tinggal satu kota, berada di tempat saudara membuat kita nggak sepi-sepi amat saat momen Lebaran tiba.
  2. Kalau memang nggak ada saudara yang tinggal satu kota, datang dan berkumpullah dengan teman-teman lain yang berada di satu kota, bisa itu teman kuliah, seprofesi, satu kampung, satu komunitas, dan lain sebagainya.
  3. Rencanakan dan lakukan hal-hal menarik dengan saudara atau rekan di tanah rantau, misalnya memasak bersama atau liburan ke tempat-tempat yang mengasyikkan.
  4. Biar nggak merasa sepi, kamu bisa jalan-jalan ke pusat keramaian seperti mall atau tempat wisata.
  5. Berkunjunglah ke tempat tetangga samping kanan dan kiri rumah agar kita bisa tetap menikmati hangatnya suasana Lebaran.
  6. Jangan lupa stok makanan yang banyak sebelum Lebaran karena dikhawatirkan saat Lebaran banyak toko atau warung yang tutup berhari-hari.
  7. Untuk membunuh rasa sepi, kamu juga bisa menyediakan banyak buku atau game di rumah yang sewaktu-waktu dapat dinikmati kala libur.

Hmmm, ada lagi nggak yang mau menambahkan tipnya? Nanti share di kolom komen ya.

Tahun ini alhamdulillah tahun ketiga saya mudik Lebaran bersama suami. Setelah resign dari pekerjaan sebagai reporter, saya selalu bisa dan menyempatkan untuk pulang ke kampung halaman saat Lebaran. Kasian ibuk saya kesepian kalau saya nggak pulang dan beruntungnya 3 tahun ini saya bersama suami masih diberi kesempatan serta rezeki untuk menikmati euforia mudik. Kalau kalian gimana?

 

ratna dewi

4 Comments
Previous Post
Next Post