Menjadi Orang Cadel Itu Tidak Mudah

sulitnya-menjadi-orang-cadel

Ada yang nonton ILC (Indonesian Lawyer Club), Selasa 1 Maret 2016 lalu dengan tema “PSSI antara Hidup dan Mati”? Terasa ada yang tidak biasa. Bukan, bukan karena tema atau orang-orangnya. Terasa sedikit mengganggu ketika Yusuf Suparman (Biro Hukum Kemenpora) adu debat dengan Effendi Ghazali (Pengamat komunikasi politik). Kenapa? Adakah yang ngeh? Iya, karena mereka berdua sama-sama cadel.

Kenyataannya lafal orang cadel terkadang sulit dipahami karena ada huruf-huruf yang memang terdengar tidak jelas atau berbunyi tidak semestinya. Iya, itulah kenyataannya bahwa omongan orang cadel terasa sangat mengganggu karena ketidakjelasan artikulasi. Dan itu juga yang saya alami seumur hidup saya.

Kalo yang sudah pernah ketemu saya atau dekat dengan saya, pasti tahu benar kalo saya cadel. Saya cadel atau tidak mampu mengucapkan huruf R. Dari kecil, saya memang nggak bisa mengucapkan huruf R. Kata orang, pengucapan R saya terdengar AR (ahhr) atau nyaris L. Pas saya dengar sendiri rekaman suara-suara saya memang iya. Apalagi kalo ada huruf R dan L dalam satu kata atau kalimat, praktis saya susah melafalkannya dan suka terbolak-balik.

Cadel adalah ketidakmampuan lidah untuk berbicara atau mengatakan huruf-huruf tertentu. Orang cadel yang biasa ditemui umumnya tidak bisa melafalkan huruf R, L, atau D. Cadel disebabkan  saat kekuatan lidah dan fungsi koordinasi terganggu, maka pelafalan kata atau huruf juga ikut terganggu. Kebanyakan orang cadel mengalami masalah pengucapan huruf ‘R’.

Saya nggak pernah tahu kenapa saya cadel. Orang tua juga nggak pernah memeriksakan secara khusus penyebab saya cadel. Kalau orang lain ngomong R dengan pangkal lidah ke atas/langit-langit mulut, saya dari dulu ngomong R dengan pangkal lidah mendorong gigi bagian bawah. Kalo orang normal bisa bergetar lidahnya saat bilang R, saya nggak. Pernah saya coba ngomong R dengan pangkal lidah menuju ke langit-langit mulut tapi tetap saja nggak bisa. Lidah nggak bergetar dan malah terasa geli. Akhirnya, kembali saya ngomong R dengan lidah ke arah gigi bawah.

Dikutip dari National Geographic, seseorang yang berbicara cadel pun bisa saja karena pembawaan sejak lahir atau kultur sekitar. Namun juga bisa terjadi karena kerusakan otak yang mengakibatkan terganggunya saraf ke-12 yang memengaruhi lidah. Kebayakan orang mengira cadel disebabkan lidah yang pendek, tetapi sebenarnya ini disebabkan karena adanya perbedaan pada bagian yang bernama frenulum linguae.

Frenulum linguae dapat dilihat ketika Anda menggerakkan lidah ke atas. Terdapat seperti jaringan yang menghubungkan antara dasar mulut dan lidah. Perbedaan panjang dan pendek frenulum linguae inilah yang menyebabkan lidah sulit bergetar, sehingga pada akhirnya menyebabkan kesulitan pelafalan salah satu jenis huruf.

Oke, saya nggak akan membahas soal cadel lebih dalam dari sudut pandang medis atau kesehatan. Tapi saya akan mengungkapkan hal-hal apa yang biasanya dialami dalam perjalanan hidup orang cadel. Daannn, jadi orang cadel itu nggak mudah karena memang beda ((MEMANG BEDA)) kayak tempat kerja saya dulu, haha. Apalagi buat saya yang cadel huruf R. Berikut fakta-fakta soal orang cadel yang saya kumpulkan berdasarkan pengalaman dan pengetahuan saya:

Orang Cadel Itu Rentan Di-bully

Karena berbeda dengan yang lain apalagi terlihat lucu kalo melafalkan sesuatu yang satu hurufnya terdengar beda, maka orang cadel rentan banget di-bully. Dari yang memang di-bully cadel sampai diledekin suruh mengatakan kalimat tertentu. Atau bahkan kadang orang lain menirukan cara kita ngomong dengan dicadel-cadelkan. Kalo udah gitu suka KZL deh.

Zaman kecil saya sering banget dibanding-bandingkan dengan anak yang lebih kecil/muda dengan bilang “tuh si A aja bisa bilang R, masa kamu nggak bisa”. Atau sering banget suruh bilang kata-kata “ulerrr melingkerrr di pagerrr muterrr-muterrr” lalu diketawain karena nggak berhasil.

Orang Cadel Sering Ditertawakan

Karena tidak mampu mengucapkan huruf tertentu maka kata-kata yang keluar dari orang cadel sering dianggap aneh dan ditertawakan. Entah apanya yang dianggap lucu. Apalagi bagi mereka yang sepenuhnya cadel “R” yang kemudian pengucapannya jadi “L”.

Saya punya pengalaman memiliki teman cadel yang seperti ini. Pada waktu sekolah, apabila giliran dia membaca doa di kelas, pastilah teman-teman lainnya tidak khusyuk berdoa dan justru cekikikan. Hal ini karena doa yang diucapkannya jadi terdengar janggal misalnya “kepada guru-guru kami” terdengar menjadi “kepada gulu-gulu kami”.

Orang Cadel “R” Sering Dibilang Kurang Makan Pedas

Pas waktu kecil saya emang nggak suka pedas. Makan atau beli makanan apapun pasti yang nggak pedas atau nggak pakai cabe. Entah kenapa, orang sering bilang saya nggak bisa bilang R karena nggak suka makan pedas. Saya nggak tahu dari mana asalnya kok bisa dihubungkan antara makan pedas dan kemampuan mengucap huruf R.

Alhasil, karena dendam dan sering diolok nggak bisa makan pedas, saya pun jadi memberanikan diri buat makan pedas. Sejak SMP saya mulai beranikan diri makan pedas dan ternyata makanan pedas emang nagih. Jadinya sampai sekarang saya suka banget makan pedas dan semakin menjadi-jadi (bagian ini jangan ditiru). Dan ternyata saya tetap saja belum bisa ngomong R.

Orang Cadel Sering Dibilang Lidahnya Pendek, Biar Panjang Harus Sering-Sering ‘Melet’

Saya baca beberapa artikel memang ada hubungannya antara lidah yang pendek dengan cadel atau ketidakmampuan mengucapkan huruf tertentu. Makanya, sejak kecil saya sering dibilang punya lidah pendek. Jadilah beberapa orang bilang saya harus sering-sering ‘melet’ atau menjulurkan lidah keluar. Konon dengan begitu lidah saya bisa panjang dan bisa mengicapkan huruf R.

Nyatanya, sering menjulurkan lidah nggak menghasilkan apa-apa. Yang ada mulut saya pegal dan kering. Dan sampai sekarang tetap saja nggak bisa ngomong R. Hmm, orang cadel memang suka dijejali mitos yang macam-macam dan sialnya saya suka percaya-percaya aja tuh.

Cadel Satu Huruf Biasanya Diikuti Ketidakmampuan Mengucap Huruf Lain

Kalo ini untungnya tidak terjadi sama saya. Saya cadel huruf R tapi huruf lain masih normal kecuali harus mengucap R dan L di satu kalimat atau kata yang berdekatan. Dari beberapa teman saya, yang tidak mampu mengucap huruf D secara kuat biasanya diikuti dengan susah untuk mengucapkan huruf L secara kuat pula. Saat mengucapkan huruf D dan L, pangkal lidah tidak berada di langit-langit mulut melainkan keluar. Karena ini pula, pengucapan huruf D dan L terdengar aneh dan berbeda dengan kebanyakan orang.

Orang Cadel Suka Dianggap Remeh di Bidang-Bidang Pekerjaan Tertentu

Ada beberapa bidang-bidang kerja tertentu yang menuntut pengucapan atau artikulasi yang sempurna. Biasanya keberadaan orang cadel tidak diterima di bidang kerja ini. Kalau pun diterima, pasti akan diremehkan karena dianggap cacat suara dan tidak enak didengar. Bidang-bidang kerja itu biasanya pengisi suara (voice over), dubber, penyiar radio, dan reporter media elektronik. Makanya, jarang sekali kan kita dengar penyiar radio yang cadel. Malahan saya nggak pernah dengar.

Pengalaman pribadi saya sebagai reporter, awal pelatihan stand up (reportase live) saya sudah dicap oleh atasan saya dahulu tidak akan bisa stand up. Hal ini karena suara saya cadel jadi terdengar tidak jelas. Selain itu, saya nggak akan terpakai untuk dubbing atau LOT (live on tape/ reportase tidak langsung reporter ketika liputan tertentu). Wah sakit rasanya hati ini. Dan nggak berapa lama, sang pejabat kantor saya itu out entah kenapa. Tuhan memang adil. Tapi, seiring berjalannya waktu, stand up saya akhirnya diterima. LOT saya juga nggak jadi masalah. Jadi kenapa harus meremehkan terlebih dahulu orang cadel?

Orang Cadel Bisa Jadi Artis atau Public Figure

Orang cadel ternyata juga bisa jadi artis lho. Sebut saja Aming, Joy Tobing, dan juga Asmirandah. Kalau didengar artikulasi mereka cadel. Namun, mereka toh tetap bisa melenggang jadi artis. Kalo mendengar Joy Tobing ngomong akan terdengar jelas kalau dia cadel, tapi ketika menyanyi kekurangan itu nyaris tertutupi oleh suaranya yang dahsyat.

Eh tapi ada juga lho presenter berita yang cadel. Ada yang pernah memperhatikan nggak? Kalo yang sering melihat Sekilas Info di RCTI pasti tahu Riyanka Putra. Wajahnya ganteng, suaranya empuk, tapi cadel. Tapi, reportasenya bagus jadi nggak masalah ketika dia cadel. Ada juga pengamat politik, Effendi Ghazali yang sering wira-wiri di televisi. Bang Eggi, begitu dia biasa disapa, cadel huruf R tetapi nyatanya beliau tetap dipakai sebagai pengamat komunikasi politik karena memang analisis-analisisnya yang tajam. Ini membuktikan ketika orang cadel bisa menunjukan kelebihannya yang lain, maka kelemahannya akan tertutupi.

Orang Cadel Bisa Jadi Pejabat

Sering dengar Menteri Perhubungan, Ignasius Jonan ngomong? Iya, beliau adalah salah satu pejabat yang cadel. Jonan cadel huruf “R” tapi toh performanya tetap oke-oke saja. Kalau sudah begini, saya dan semua orang cadel patut bersyukur karena untuk jadi pejabat di Indonesia boleh yang cadel. Jadi, orang cadel bebas untuk jadi pejabat. Tidak ada larangan bahwa yang cadel dilarang jadi pejabat. Cacat bicara ini lantas tidak membuat Presiden takut ketika sang menteri speech, artikulasinya jadi nggak jelas dan terkesan seperti kumur-kumur.

Jangan Minder, Karena Orang Cadel itu Unik

Jadi cadel itu takdir, bukan pilihan. Jadi, bagi orang tua yang memiliki anak kecil yang memang organ pengucapannya normal ajarilah anak-anak Anda untuk melafalkan kata-kata dengan benar sejak kecil. Kalo yang memang sudah cadel jangan berkecil hati karena orang cadel itu unik. Menjadi cadel itu berbeda dari yang lain. Jadi sisi postif orang cadel itu mudah diingat karena ada karakteristiknya. Orang cadel juga kuat mental karena sudah terbiasa di-bully.

Last but not least, jangan minder jadi orang cadel karena masih banyak orang atau bidang pekerjaan yang tidak memandang dia cadel atau nggak. Masih banyak profesi yang mengedepankan kinerja daripada memandang dia cadel atau tidak, termasuk jadi blogger bukan?

 

ratna dewi

 

49 Comments
Previous Post
Next Post
[LK-BL] Poster Twitter