Berulang Kali Diremehkan Orang Lain Membuat Saya Jadi Lebih Kuat

“Kamu cadel ya? Kalau sudah cacat bicara itu nggak bisa mengisi suara apalagi buat on-cam.”

Begitu ujar seorang atasan saya beberapa tahun lalu saat berada di tengah-tengah forum training reporter baru. Saya ingat, saat itu saya disuruh latihan dubbing naskah berita. Sayangnya, baru beberapa kata saya ucapkan mendadak saya diberhentikan dan keluarlah kata-kata seperti itu dari atasan saya.

Jujur saja, hati saya hancur saat itu. Betapa menyakitkan diremehkan orang di depan umum saat orang tersebut belum melihat performa kita secara keseluruhan. Walaupun yang meremehkan adalah seseorang yang berlabel atasan.

(Baca juga: Menjadi Orang Cadel Itu Tidak Mudah)

Untuk seorang reporter perkara on-cam atau tampil di depan layar bukan cuma masalah eksis atau ingin tampil. Muncul dan memberikan reportase di depan layar adalah salah satu tolak ukur pengembangan karir dan upgrade kemampuan diri. Meski saya bukan tipikal orang yang banci tampil alias maunya hanya tampil di depan layar kaca. Namun, sesekali tampil di layar bagi reporter TV adalah kebanggaan tersendiri. Kalaupun punya kelemahan, saya toh mau belajar dan membuka diri untuk menerima kritik.

Akan tetapi, saya akan merasa sangat kecewa kalau tidak diberi kesempatan apalagi diremehkan sebelum sempat berkembang hanya karena cacat bawaan saya, cadel. Siapa yang bisa menolak kalau takdirnya memang sudah cacat bicara? Ini memang salah satu kelemahan saya tapi bukan berarti saya nggak bisa maju dan menjadi lebih baik.

Buat saya, yang seperti itu sama halnya seperti meremehkan kemampuan seorang pelukis hanya karena jari-jari tangannya tak lengkap. Padahal banyak pelukis tuna daksa yang karyanya digemari di Eropa dan menjadi anggota Association of Mouth and Foot Painting Artists (AMFPA). Mereka tidak punya apa yang orang lain anggap sebagai modal penting seorang pelukis. Namun, yang perlu diingat adalah bahwa mereka masih punya kesempatan.

Berulang Kali Diremehkan

If you don’t see yourself as a winner, then you cannot perform as a winner – Zig Ziglar

Dalam hidup, saya sadar betul bahwa kita nggak bisa membuat semua orang sepakat dan sepemikiran sama kita. Walaupun orang itu satu darah sekalipun dengan kita.

Saya masih ingat, pertengahan tahun 2005 lalu kala saya nekat pergi ke Bandung sendiri untuk memutuskan kuliah jurusan ilmu komunikasi di sana. Bapak saya tidak pernah setuju saya kuliah jurusan komunikasi karena konon output lulusannya nggak jelas. Kata bapak, saya lebih baik kuliah di jurusan keguruan atau jurusan lain di universitas di dekat kampung halaman saya, Kutoarjo. Saya nggak mau. Bukannya saya meremehkan profesi guru atau PNS, melainkan karena passion saya ada di jurusan komunikasi. Saat itu, bapak bilang kalau saya nggak mungkin bisa di jurusan komunikasi.

“Ngomong saja jarang apalagi mau ngomong di depan umum atau masuk TV. Nggak mungkin bisa!” ujar beliau.

Saya sempat sakit hati. Untungnya ibu mendukung terus pilihan saya karena apa yang saya mau berarti akan saya jalani dengan senang. Akhirnya hanya dengan restu ibu saya berangkat dan kuliah ke Bandung. Sedih banget rasanya. Padahal, momen awal kuliah anak pertama biasanya disambut dengan sukacita dan excited oleh orang tua. Saya melihat banyak teman yang diantar oleh orang tuanya saat registrasi ulang. Sementara saya sendirian. Ibu saya nggak bisa mengantarkan karena harus berdagang. Sementara bapak? Nggak pernah setuju dan memandang sebelah mata kala saya mengambil jurusan ilmu komunikasi.

memesonaitu

Dalam perjalanan hidup saya, bukan satu atau dua kali saja diremehkan orang. Dari orang dekat hingga orang yang hanya bertemu muka ada saja yang memandang sebelah mata atas hal yang sedang atau akan saya lakukan. Rasanya memang nyesek banget. Saya ingat terakhir kali diremehkan dan dipandang sebelah mata yang ‘ngena’ banget di hati adalah tatkala memutuskan resign dari pekerjaan kantoran, memutuskan jadi freelancer, dan mengambil alih pembiayaan kuliah adik saya. Banyak orang yang memandang sebelah mata karena setelah resign justru malah memutuskan membiayai adik kuliah. Bagaimana mungkin?

“Kalau sudah nikah nggak mungkin bisa biayain adik kuliah. Apalagi udah nggak kerja lagi!” begitu kata seseorang yang diceritakan ibu saya.

Duh saya hanya ngelus dada. Paringono sabar. Terkadang saya ingin sekali membalikkan semua prasangka merendahkan orang-orang dengan makian. Akan tetapi, saya tahu itu bukan cara yang elegan. Hanya dengan pembuktianlah saya bisa membungkam dan mematahkan anggapan itu.

#MemesonaItu Menjadi Lebih Kuat Ketika Berulang Kali Diremehkan

memesona/me·me·so·na/ v sangat menarik perhatian; mengagumkan

Berkali-kali diremehkan dan dipandang sebelah mata itu nggak enak. Baper? Sedih? Kesal? Semua itu sudah pasti. Saya setuju jika kita nggak bisa membuat semua orang sepakat dan sepemikiran dengan kita. Tetapi saya nggak setuju jika ketidaksepakatan itu membuahkan akibat meremehkan, memandang sebelah mata, atau merendahkan kemampuan orang lain. Sangat tidak setuju.

Satu hal yang selalu saya terapkan dalam diri adalah saya nggak boleh berlama-lama untuk sedih, baper, dan kesal. Sedih boleh, baper boleh, kesal juga boleh tetapi seperlunya saja. Buat saya, cara membungkam orang-orang yang sering menyepelekan adalah dengan pembuktian. Karena #MemesonaItu buat saya adalah menjadi lebih kuat dan memberikan pembuktian kita bisa ketika banyak orang yang meremehkan kemampuan kita. Hal ini pulalah yang saya lakukan pada orang-orang yang dulu pernah menyepelekan saya.

Belasan tahun yang lalu saat bapak menyepelekan pilihan saya untuk masuk ke fakultas ilmu komunikasi terpatahkan saat saya diterima kerja di stasiun televisi. Bahkan, saya sudah kerja di televisi sebelum kuliah saya selesai. Setelah selesai kuliah saya pun diterima bekerja di stasiun televisi swasta nasional khusus berita. Apa semua itu saya raih dengan mudah? Tidak. Bahkan banyak kerikil terjal yang menghadang. Dari sekadar gagal lulus usulan masalah skripsi sampai lima kali hingga masalah keluarga. Namun, saya nggak menyerah. Saya harus buktikan sama bapak bahwa apa yang beliau prediksikan tidak benar. Bahwa apa yang beliau sepelekan dari saya bisa saya buktikan dengan kesuksesan.

Puncaknya adalah ketika saya sudah beberapa kali muncul di layar televisi untuk laporan langsung atau sekadar selintas on camera dalam berita yang saya liput.

“Katanya Mas A tadi lihat Mbak di TV. Emangnya itu beritanya Mbak yang liput?” tanya bapak saya penuh semangat ketika baru saja berpapasan naik sepeda dengan tetangga. Tetangga saya mengatakan baru saja melihat muka saya di televisi.

Saya hanya senyum.

Anakmu yang kamu sepelekan kemampuannya ini bisa jadi reporter televisi, bisa ngomong di layar kaca yang ditonton ribuan orang kok, Pak.

Saya juga sering memperlihatkan foto-foto ketika liputan dulu pada bapak dan ibu sambil membatin “Bapak, ini lho anakmu yang dulu kamu pandang sebelah mata bisa foto bareng presiden dan mantan presiden di saat nggak semua orang bisa merasakan itu”.

habibie laporan-langsung

Munculnya saya di televisi juga sebagai pembuktian pada sang atasan bahwa cadel bukan menjadi penghalang untuk bisa tampil dan memberikan informasi pada pemirsa. Saya cacat bukan berarti tidak bisa. Untuk yang satu ini, saya pun wajib berterima kasih sama mantan produser-produser saya yang selalu memberikan semangat untuk bisa on-cam.

Ada kalanya memang saya minder dengan cadel. Saya bahkan sempat beberapa kali menolak untuk laporan langsung dan on-cam dengan mengatakan bahwa saya cadel. Tapi produser saya nggak peduli itu. Cadel ataupun tidak, dua-duanya punya kesempatan yang sama untuk maju. Saya harus membuktikan itu.

Berkat dukungan produser pun akhirnya saya bisa mematahkan omongan atasan saya dan membuktikan padanya bahwa seorang cadel juga bisa berbicara di depan televisi asalkan diberi kesempatan untuk belajar. Ya, buat saya setiap orang bisa memesona kendati ia diremehkan asalkan ia bisa membuktikan bahwa apa yang orang remehkan dari ia adalah salah.

Kini, saya sudah tak lagi menjadi reporter televisi. Tapi masih saja ada orang meremehkan pekerjaan saya sebagai freelancer ketika dihadapkan oleh tanggung jawab sebagai penanggung biaya kuliah adik. Alhamdulillah, pintu rezeki Allah masih terbuka bagi saya. Saya memang tak lagi menjadi karyawan, tapi masih bisa membiayai uang jajan dan kuliah adik saya sampai saat ini. Allah memang Maha Adil. Bahkan ‘membantu’ saya untuk memancarkan pesona melalui kemurahan rezekinya.

(Baca juga: Menjadi Full Time Blogger dan Hidup yang “Pas-Pasan”)

Saya memang sudah tidak lagi memesona banyak orang lewat layar kaca tetapi Yang Maha Kuasa masih bisa memesonakan saya di depan adik dan keluarga. Salah satunya melalui kecukupan rezeki yang bisa saya berikan untuk kelangsungan studi adik.

Saat ini, saya masih terus berkarya di jalan lain yaitu di dunia blog dan digital. Untuk membuktikan pada orang bahwa saya masih bisa memesona di bidang ini, saya pun terus belajar. Saya bisa memesona orang lain dengan tulisan saya. Saya bisa memesona pembaca tulisan saya dengan inspirasi-inspirasi yang saya berikan. Salah satu pencapaian saya dalam memesona diri lewat karya adalah bisa menjadi narasumber stasiun televisi dengan membawa nama blog saya.

#MemesonaItu bisa menginspirasi orang lain lewat tulisan
#MemesonaItu bisa menginspirasi orang lain lewat tulisan

(Baca juga: Ketika Mantan Reporter Diwawancara)

Saya juga tidak gentar dengan omongan negatif atau perkataan yang merendahkan saya. Karena #MemesonaItu buat saya adalah mampu membalikkan omongan negatif menjadi sesuatu yang positif. #MemesonaItu adalah mampu bangkit, membuktikan diri, dan berusaha lebih baik ketika berkali-kali diremehkan oleh orang.

#MemesonaItu

Nah, itu arti memesona buat saya yang berkali-kali diremehkan oleh orang dalam hidup. Kalau buatku #MemesonaItu bisa bangkit dan membuktikan diri, kalau versi kalian apa? Yuk, share juga cerita #MemesonaItu versi kamu. Lumayan banget nih pemenangnya bisa mendapatkan mirrorless dan juga voucher belanja. Masih ada waktu sampai pukul 23.59 untuk ikutan kompetisi ini. Info lengkap soal kompetisi ini silakan cek di #memesonaitu.

memesona-itu-adalah

ratna dewi

 

 

45 Comments
Previous Post
Next Post