Vlogging Bebas Ribet dengan Alat dan Media Sederhana

Telat banget!

Kemana aja, Dew?

Di saat vlog udah booming dan vlogger udah bejibun, saya bahkan baru memulainya. Wes rapopo, mending dimulai daripada tidak sama sekali. Padahal tadinya saya nggak ada niat buat ngevlog, maklum sudah bosan tampil di layar #uhuk. Tadinya juga mikir akan ribet banget kalau ngevlog. Apalagi nggak punya sarana yang mumpuni.

Bukannya tanpa alasan saya bilang gitu. Ngevlog itu kegiatan yang cukup rumit menurut saya. Kita harus punya storyboard (paling nggak di kepala) apa-apa saja yang harus disampaikan, eksekusi, bikin alur cerita, lalu ngedit bisa sampai berjam-jam, terakhir upload. Tambah berat lagi pas saya mikir mau ambil gambar pakai apa, ngedit pun pakai apa. Pokoknya dulu di pikiran saya ngevlog ribet banget deh.

Ternyata eh ternyata, sekarang malah suka. Ketagihan lebih tepatnya. Apa-apa di-videoin. Sebelum pergi atau ada acara kemana pasti prepare buat ambil video. Lumayan kan buat isi konten Youtube. Nge-vlog itu ternyata mengasyikkan.

(Baca juga: Mengapa Menjadi YouTuber?)

Sebelum saya bilang ngevlog itu mengasyikkan, saya sempat malas ikutan trend ngevlog karena minder. “Gue nggak punya kamera yang mumpuni, trus mau ngedit pakai apa?” begitu batin saya. Memang sih ada kamera mirrorless tapi mirrorless yang saya punya nggak praktis buat ngevlog. Selain screen-nya nggak bisa diputar, pun nggak ada colokan audionya. Padahal video kan harus enak didengar audionya. Minimal audionya bersih nggak kresek-kresek dan gambar nggak goyang. Pokoknya saya takut hasilnya jelek.

Hati kecil saya berteriak #cailah, kalau nggak dimulai dari sekarang kapan lagi. Vlog yang bagus kan dimulai dari yang jelek. Banyak juga kok vlogger yang memulai vlog-nya dengan kamera seadanya tapi sekarang mereka udah oke banget. Contohnya, Natasha Farani aja memulai video Youtube-nya dengan tutorial hijab yang diambil menggunakan kamera laptop. Pun dengan Agung Hapsah yang sekarang lagi happening itu. Awal tertarik bikin video ia justru menggunakan webcam. Bahkan Kaesang memulai Pilok-nya dengan cerita sederhana, dari dalam kamar kost, yang diambil pakai kamera hape. Semuanya bisa bagus asal mau belajar dan memulai.

Nge-Vlog Pakai Peralatan Sederhana (Dulu)

Eh kok ada kata-kata dulu di dalam kurung. Iya, itu doa saya biar nantinya bisa beli kamera, clip on wireless, additional mic, tripod, dan PC yang oke buat ngevlog. Pengennya kayak Kaesang, lama-lama pakai kamera yang bagus. Duh Pak Jokowi, beliin aku juga donk! #siapaelo Kalau saya sih udah usaha merengek sama suami tapi malah dicuekin. Huhu.

Saya ingat satu kalimat dari Edho Zell pas lagi nyari tutorial editing i-movie yaitu:

“Kalian memotivasi diri dulu, menggunakan apa yang ada dulu, belajar dari Youtube dulu.”

Jadinya saya pakai alat apa yang ada di sekeliling saya. Jangan manja minta ini itu dulu kalau belum dimulai #zoominzoomout. Okelah. Saya menulis ini juga tanpa ada maksud menggurui, hanya ingin berbagi cerita.

1. Ambil gambar pakai hape

FYI, beberapa vlog saya diambil dengan menggunakan kamera ponsel. Lebih tepatnya sih kamera ponsel suami saya yaitu Nokia Lumia 730. Kamera ponsel ini adalah kamera ponsel yang paling bagus dari semua ponsel lain yang ada di rumah. Lebih jernih dan nggak terlalu sering ndut-ndutan nyari fokus sendiri. Namun, namanya kamera ponsel pasti banyak kelemahannya. Sensornya lemah dan sangat terbatas. Kalau untuk merekam di cahaya remang nggak begitu bagus. Tapi kalau di outdoor worth it banget kok.

(Baca juga: Serunya Belajar Jadi Influencer dari Linda Kayhz dan Lulu Elhasbu di Acara Ngobrol Cantik)

dengan peralatan seadanya saya beranikan nge-vlog
dengan peralatan seadanya saya beranikan nge-vlog

Pengennya sih ke depannya saya punya kamera sendiri yang mumpuni buat ngevlog, plus additional mic, dan tripod-nya. Kalau perlu punya clip on wireless. Banyak maunya, huh! Biarin lah. Semoga kelak bisa membeli barang-barang wishlist ini deh ya. Tahu sendiri kan kalau nge-vlog pakai kamera ponsel terbatas banget. Gambar jadi sering over, under, atau nggak keluar warna aslinya karena resolusi yang terbatas. Harga memang menentukan kualitas sih ya.

2. Ngedit pakai Movie Maker? What?!?!

Dulu saya pernah ngedit film pakai Ulead, tapi sepertinya aplikasi ini udah nggak ada deh. Tadinya saya mau ngedit pakai aplikasi editor video di hape, tapi karena nggak kuat (video terlalu besar kapasitasnya) jadi malah lemot banget. Akhirnya saya pakai I-Movie mumpung laptop suami adalah Mac. Namun sayang, kesempatan ngedit menggunakan I-Movie hanya hari Sabtu, Minggu, atau libur karena selebihnya laptop dipakai suami saya buat kerja. Tapi rasanya kok lama banget kalau harus nunggu weekend untuk sekadar ngedit video. Akhirnya saya nekat ngedit pakai Movie Maker. Yap, Movie Maker bok yang jadul itu.

Tapi ternyata saya bisa loh. Bahkan bumper vlog saya pun dibuat pakai Movie Maker. Wes, nggak apa-apalah sebelum punya device yang bisa dipakai buat ngedit pakai Sony Vegas atau Adobe Premier, saya bertahan pakai Movie Maker dulu, hiks. Movie Maker relatif mudah dipakai buat ngedit, apalagi buat pemula. Pas buat saya yang suka menyesuaikan beat atau tempo lagu dengan mood gambar. Tapi sayangnya, aplikasi sederhana pasti juga itu-itu saja variasinya. Kalau kamu yang suka eksplore sesuatu pasti bosan bosan bosan banget pakai Movie Maker. Jadul gitu loh!

3. Audio nggak jelas? Bhaayyy…

Menurut saya audio adalah unsur penting dalam sebuah video. Saya nggak terlalu suka nonton video yang audionya banyak noise, kecil banget suaranya, atau malah over. Nah, kalau lagi mobile dulu saya pakai headset yang ada lubang mic-nya. Lumayan sih membantu. Tapi kalau di suasana yang ramai atau angin kencang ya sudah bhaayyy. Yang kedengeran justru noise-nya daripada suara sendiri.

clip on murah, nggak sampai Rp 7000
clip on murah, nggak sampai Rp 7000

Untung beberapa hari yang lalu suami saya beliin clip on kabel. Harganya murah meriah banget cuma Rp 7000 di online. Lumayan banget kok kalau buat ambil gambar, clip on ini bisa dicantelin di baju dan membantu menangkap audio. Tapi ya namanya barang murahan mah pasti beda sama yang mahal. Kalau noise-nya gede banget ya tetap saja suara kita bhaayy.

4. Lain-lainnya yang perlu diperhatikan

Ada beberapa alat tambahan lain yang saya pakai buat ngambil gambar misalnya tripod dan gorilla pod. Kalau lagi mobile, saya ambil gambar dengan handheld (menggunakan tangan). Nah, untuk yang ini saya biasakan pakai gorilla pod. Selain lebih nyaman, gambar juga relatif lebih stabil walau tetap goyang. Kalau ambil gambar detail atau wawancara biasanya saya pakai tripod. Sayangnya, kadang ada saat-saat tertentu yang saya nggak bisa pakai tripod pas ambil gambar misalnya ribet, ruangannya terlalu banyak barang, atau sempit.

beberapa peralatan nge-vlog murah meriah yang saya punya
beberapa peralatan nge-vlog murah meriah yang saya punya

Tripod dan gorilla pod lumayan mengurangi guncangan di gambar. Buat saya, gambar yang terlalu shaky itu nggak enak dilihat (padahal gambar saya banyak yang masih shaky juga). Di I-Movie ada caranya sih biar gambar shaky. Tapi saya pengen membiasakan buat ambil gambar nggak goyang. Susah memang. Banget! Tapi ya diusahakan lah ya.

Tip Tambahan

Apalah saya ini, sok iye banget ngasih tip-tip ambil gambar padahal subscriber juga masih bisa dihitung dengan jari, haha. Nggak apa-apalah, saya mau berbagi sedikit siapa tahu berguna kan. Kalau nggak juga nggak apa-apa, biar tulisan ini jadi pengingat saya kalau mau ngevlog dan edit video.

  • Voice over biasanya saya pakai kalau audio di video semuanya bapuk alias nggak bisa dipakai. Saya nggak mau memaksakan audio yang nggak enak masuk di video. Kalau udah begini mending saya off kan semua volume video lalu saya ganti pakai voice over aja biar lebih enak didengar. Kayak vlog saya yang tentang Batik Purworejo. Eh taunya malah vlognya jadi macam liputan feature news di tv, krisis identitas, haha. Untuk merekam voice over biasanya saya pakai aplikasi recording di hape. Sebenarnya bisa langsung dari program editing di PC-nya sih, tapi saya belum pernah nyobain.
  • Stock shot, hmm apa ya namanya kalau di awam. Pokoknya kalau istilah broadcasting-nya tuh stock shot. Jadi biasanya saya lebih suka banyakin shot gambar dari segala angle. Belanja gambar, istilahnya. Biar lebih enak pas ngedit. Atau bisa di-insert kalau ada gambar utama yang jelek komposisi atau terlalu goyang. Kalau gambar bercerita, usahakan shot-nya urutan. Misal aktivitas memasak, usahakan semuanya urut mulai dari memotong, memasukan bumbu, aduk-aduk, sampai masakan matang. Biasanya satu stockshot itu sekitar 6-10 detik biar lebih gampang memotong gambarnya.
  • Pede itu suatu keharusan kalau mau memulai vlog. Harus tahan malu pasalnya dimana-mana ngomong sama kamera. Kalau orang yang tahu sih pasti maklum. Kalau yang nggak tahu pasti akan heran dan menganggap “apaan sih?”. Jadi memang harus tahan malu. Nah, biasanya kalau lingkungan nggak mendukung buat ngomong on camera, biasanya saya mending banyakin gambar lalu dibikin voice over saja. Saya juga pede alias kepedean soal voice over ini. Artikulasi saya yang cadel ini sempat bikin minder. Tapi ya udah lah ya harus pede.

(Baca juga: Menjadi Orang Cadel Itu Tidak Mudah)

  • Alur cerita yang bagus itu penting. Walaupun kamu ngevlog atau bikin video dengan kamera murce alias murah tapi kontennya tetap harus bergizi dan punya alur cerita yang menarik. Kalau menurut saya, ini yang lebih enak dilihat daripada video yang alur ceritanya awur-awuran atau malah kontennya nggak penting sama sekali. Konten bergizi di video sama halnya dengan blog, pasti akan ada aja yang nyari. Untuk mendapatkan alur cerita yang utuh, biasanya saya tulis dulu di kertas atau minimal dalam pikiran.
  • Sound saya masih pakai musik gratisan dari Youtube. Soalnya kalau diunggah di Youtube akan ribet dengan copyright dan lain-lain. Jadi saya pakai musik gratisan dari Youtube audio library. Musiknya banyak, tinggal pilih mau yang mood atau genre apa. Biasanya saya sesuaikan beat atau tempo musik dengan pergantian shot pas ngedit. Biar lebih dapat aja sih feel-nya. Itu kenapa ada beberapa video saya yang saya cepetin dua atau empat kali karena musik yang dipakai memang cepat mood-nya. Misalnya video saya yang berikut ini:

Selain musik, sekarang saya mulai menambahkan effect sound. Effect juga bisa didapatkan di Youtube audio library atau freesound.org. Dengan pakai effect tertentu, video jadi nggak monoton.

  • Text biasanya saya tambahkan kalau ada kondisi yang nggak memungkinkan kita buat ambil gambar. Jadi alur terasa lompat atau jump shot. Saya kasih tulisan atau teks aja biar yang nonton juga ngeh ada part tersebut namun ada keterangannya kenapa nggak diambil atau nggak ada. Teks biasanya juga saya tulis untuk tambahan informasi in case ada hal yang hanya orang-orang tertentu yang mengetahuinya.
  • Still photo atau foto tidak bergerak biasanya juga saya pakai untuk melengkapi part yang nggak ada. Still foto ini juga menolong banget buat saya yang kadang lupa ambil bagian tertentu dari alur cerita karena lupa dicatat.
  • Bumper sih nggak wajib ya tapi saya suka ngeliat video yang ada bumpernya, enak ada pengantarnya. Nggak ujug-ujug muka dia. Sekarang juga banyak aplikasi atau software yang memudahkan kita buat bisa bikin bumper video. Kalau saya sih bikinnya manual, edit still image di Photoshop trus disatuin di Windows Movie Maker.
  • Minta bantuan siapa kek orang di sekelilingmu buat ambilin gambar. Kalau saya sih suami dan adik saya yang ditatar buat ambil gambar minimal gambar saya dikit-dikit. Jadi, pas di video ada sayanya juga nongol walaupun cuma beberapa detik #PengenEksis.
  • Nonton Youtube ini penting buat lihat berbagai macam versi video. Semakin banyak nonton semakin banyak referensi. Apakah kamu mau bikin tutorial, daily vlog, vlog dengan tema tertentu, parodi, sll. Nah, kalau udah banyak nonton tinggal pilih pengen buat yang versi kayak gimana atau mau bikin terobosan lain.

Nah, ini salah satu vlog yang akhirnya berhasil saya buat dengan kamera ponsel pas Pilkada kemarin. Masih jauh banget banget banget dari bagus dan sempurna tapi insyaallah ketika di-upload saya jadi tahu bagian mana yang kurang dan apa yang harus diperbaiki lagi ke depannya.

Judul: HAMPIR GAGAL NYOBLOS DI PILKADA JAKARTA
Tools: Kamera Nokia Lumia 730 depan (5MP) dan belakang (6,7MP), gorilla pod (Rp 20.000, Bukalapak), 3.5mm Microphone with Clip for Smartphone / Laptop / Tablet PC (Rp 6700, Jakarta Notebook)
Software edit: Windows Movie Maker, Adobe Photoshop (Still Photo)
Bumper: edited by Windows Movie Maker, Still Image by Adobe Photoshop, Icon from Freepik

Video lain bisa dilihat di akun Youtube Ratna Dewi atau klik disini. Jangan lupa subscribe yaa #teteuppromosi. Subscribe donk! #maksa.

Yuk semangat mulai bikin video. Saya juga masih belajar kok. Video baru berapa biji, subscriber juga belom ada 10 #jangandiketawainplis.

 

ratna dewi

37 Comments
Previous Post
Next Post