Merencanakan Buka Bersama Itu Repot, Cyin!

Setiap tahun walaupun cuma 1 kali pasti saya ikut dan mengadakan buka bersama dengan teman-teman. Yang paling rutin dan lumayan terkoordinir adalah buka bersama dengan teman-teman kerja dulu di TV One. Hampir tiap tahun kami mengadakan acara tersebut. Kadang juga masih sempat bukber sama teman-teman SMP di kampung halaman. Namun, tahukah kalian kalau ternyata merencanakan buka puasa bersama itu tak seindah foto-foto bukber yang di-upload setelahnya. Banyak kepala banyak kemauan kadang sulit disatukan. Nggak heran kalau akhirnya banyak rencana bukber yang berakhir cuma sebagai wacana kan?

Ini baru rencana 1 acara bukber. Lhaa kalau ada banyak rencana bukber, bisa makin repot mempersiapkannya. Kalau kamu tipikal orang yang nurut-nurut aja atau cenderung silent dalam suatu kelompok dan ikut aja dimana bukber diadakan sih nggak perlu mikir ya, paling mikir ngeluarin duitnya aja yang bikin pusing kalau kebanyakan, hahaha. Tapi kalau kamu tipikal yang vokal atau malah jadi perencana, siap-siap deh dipusingkan dengan banyak hal saat mempersiapkan bukber.

(Baca juga: Pilah-Pilih Acara Buka Puasa Bersama di Bulan Ramadan)

Saya sih bukan tipikal yang perencana banget, tapi setiap mau ada bukber paling nggak turut andil di dalamnya. Biasanya saya jadi tukang nelponin resto tempat buat rencana bukber mumpung ada telepon rumah. Lhaaa ini jadi tukang telepon aja udah pusing, gimana yang jadi ‘ketua panitia’nya coba?

Banyak kepala banyak maunya

Semakin banyak personil yang diajak untuk bukber, semakin banyak maunya. Yang paling simpel aja, dari penentuan tanggal. Misalnya, hampir semua personil bisa untuk bukber di tanggal X, eh ternyata ada 1 atau 2 orang yang nggak bisa dan mengajukan usulan ‘Mundurin donk jangan di tanggal itu, gue nggak bisa’ maka rencana bukber yang tadinya sudah mantap mendadak bisa jadi gamang.

Ini baru soal tanggal ya. Belum lagi soal tempat, menu, dll. Si A pengennya di tempat yang jangan jauh-jauh, sementara si B nggak mau di tempat pilihan karena nggak kids friendly soalnya dia mau bawa anak, atau si C yang keberatan karena harga makanan di tempat pilihan mahal tapi nggak worth it sama makanannya, lalu si D nggak mau di tempat pilihan karena nggak bisa sama menu makanan restonya. Begitu aja terus sampai nemu titik temu atau bahkan sampai negara api menyerang, hahaha.

Kamu tipikal yang mana?

Grup chat menyatukan kita semua termasuk saat mau bukber. Semua dibahas dan dimusyawarahkan melalui grup chat. Paling enak sih bukber kalau ada yang nge-host alias sukarela jadi tuan rumah, jadi dia yang ngadain di tempat yang sudah ditentukan plus dibayarin sekalian. Jadi peserta lain tinggal datang, makan, dan ramah-tamah. Lhaa kalau bukbernya dilakukan dengan sistem terencana mandiri dimana setiap orang diharapkan urun rembug, pembahasan bisa jadi lebih panjang.

Tapi perhatikan deh di setiap rencana bukber di grup chat ada tipikal beberapa orang yang bisa jadi memudahkan atau malah merempongkan rencana bukber.

Yang paling enak sih kalau jadi si silent alias penurut. Dia pasif saat merencanakan bukber tapi juga nurut-nurut aja mau diajak bukber dimana dan makan apa. Bagusnya, orang seperti ini gampang buat diajak bukber tapi jeleknya dia nggak kasih saran apapun saat rencana bukber dalam kebuntuan.

Yang agak gengges sih si tukang protes tapi tak memberikan solusi. Dia yang paling sering komplain bahkan bisa sampai menggoyahkan acara bukber, misalnya sampai akhirnya tanggal atau tempat yang sudah hampir deal disepakati bisa berubah karena mengikuti kemauan si tukang protes ini. Namun kadang ada juga tipikal yang tukang protes tapi nggak ngasih solusi. Misalnya, dia nggak mau bukber di restoran A tapi nggak bisa memberikan alternatif tempat bukber yang lain. Saat ditanya ada usulan tempat atau nggak, dia malah menghilang ditelan bumi.

Yang paling menyenangkan adalah si aktif pemberi solusi. Bukan cuma mau ikutan bukber, tapi dia juga aktif buat kasih ide tempat makan dimana. Saat anggota lain dalam kebuntuan, dia coba untuk mencari jalan keluar dengan cara yang adem. Kalau sebagian besar anggota bukber kayak begini, insyaallah perdebatan yang mengakibatkan bukber cuma jadi wacana forever nggak bakal kejadian.

Paling enak nge-host bukber

Buat saya yang suka ikut andil dalam perencanaan bukber, paling enak itu nge-host alias menjadi tuan rumah acara. Jadi, saya yang mengadakan, menentukan tempat, menentukan tanggal, mengundang, dan menentukan menunya. Anaknya emang sukanya dominan bin otoriter, hahaha. Nah yang ini nggak enaknya cuma pas bagian bayarin aja sih tapi ya sudahlah demi kebersamaan semuanya.

(Baca juga: Tetap Hemat di Bulan Ramadan, Ini Tipnya!)

Tahun ini adalah tahun pertama saya nge-host bukber keluarga. Acaranya disatukan sekalian sama syukuran dan buka bersama anak yatim. Keluarga yang diundang pun hanya yang di Jakarta. Semua saya kerjakan berdua sama suami, dari cari tempat, pesan tempat dan makanan, menentukan menu, memutuskan berapa anak yatim yang diundang, ke tempat pak ustaz buat mencocokkan jadwal, dsb. Ada sih dibantu teman suami tipis-tipis yaitu saat menghubungkan kami ke pak ustaz untuk mengisi acara bukber. Namun bisa dibilang 85% acara kami sendiri yang menentukan. Yang lain tinggal datang, duduk, dan menikmati acara.

Kebanyakan rencana kehabisan tempat

Ini sih yang selalu hampir sering terjadi setiap mau merencanakan bukber kelompok yang personilnya banyak. Kelamaan menentukan tempat, menu buka puasa, dimana tempatnya, siapa saja yang ikut, sampai-sampai nggak kerasa udah mepet tanggal bukber. Telepon ke banyak resto atau cafe, udah full booked. Alhasil mesti cari tempat alternatif lagi deh.

(Baca juga: Tip Memilih Tempat untuk Buka Puasa Bersama)

Pengalaman saya yang jadi tukang neleponin restoran, seminggu sebelum bukber aja rata-rata restoran atau cafe sudah full booked. Apalagi di Jakarta, antusiasme bukber orang-orang kayaknya meningkat drastis di tanggal-tanggal pertengahan menuju akhir Ramadan (kalau awal-awal soalnya masih banyak yang idealis memilih buka bersama keluarga).

Itulah kenapa bukber emang paling enak diadakan di rumah salah seorang personil bukber yang emang memadai buat menampung banyak orang. Selain nggak ada ´drama´ kehabisan tempat juga bisa memakai tempat dengan sepuasnya, nggak ada beban kalau overtime bakal kena charge atau mau dipakai oleh orang lain. Nggak perlu juga sibuk nyari VIP Room biar bisa ngobrol tenang tanpa terganggu pengunjung restoran lainnya.

Tapi walaupun repot, mempersiapkan bukber juga seru kok

Buat saya, merencanakan bukber dengan banyak kepala dan pendapat memang rempong tapi seru kok. Kita belajar bermusyawarah, problem solving, atau mengutarakan pendapat. Apalagi kalau sudah mencapai kesepakatan dan seluruh anggota sudah setuju dengan tanggal, tempat, dan menunya. Selain ´rempong solved´ juga ada perasaan nggak sabar buat menunggu waktu bukber datang dan bertemu kembali dengan teman-teman yang selama ini hanya bersua via online (hayoh ngaku, kebanyakan bukber pasti sekalian reuni, kan?).

Repot itu ya jadi seninya menentukan bukber. Kalau bukber sudah lama berlalu, kerempongan dan kegajean (keenggakjelasan) orang-orang saat menentukan bukber bisa jadi bahan becandaan yang dikenang buat keketawaan bersama kalau buat saya dan kawan-kawan sih. Intinya, sudah bisa bertemu dan bersilaturahmi saja sudah alhamdulillah karena ini adalah momen langka meskipun prosesnya berdarah-darah, hahaha #lebay.

Jadi, kamu kamu kamu siapa yang masih pusing dan rempong merencanakan bukber nih?

 

2 Comments
Previous Post
Next Post