Tetap Hemat di Bulan Ramadan, Ini Tipnya!

Saat Ramadan tiba ada rasa hati yang bergembira karena akhirnya dapat merasakan bulan yang penuh makna bagi umat Islam ini. Sayangnya, saat Ramadan pula pengeluaran bulanan bisa membengkak dari biasanya. Padahal logikanya karena siang kita tidak makan dan minum, maka seharusnya pengeluaran juga berkurang. Namun faktanya nggak begitu. Saat bulan puasa justru seringkali pengeluaran lebih banyak dari biasanya.

Hmmm kenapa ya?

Kalau dari perkiraan dan hitung-hitungan kasar saya sih, walaupun siangnya nggak makan tapi pengeluaran jadi lebih banyak karena jenis makanan yang dimakan bertambah. Contoh terdekat pasti di keluarga saya. Saat hari biasa, biasanya saya cuma masak nasi, sayur, sama lauk-pauk. Nah, di bulan puasa ini saya ada tambahan memasak yaitu jadi nasi, sayur, lauk, dan takjil bukaan (yang biasanya terdiri dari satu jenis makanan dan minuman). Belum lagi kalau keluar rumah dan lihat tukang jajan berjejeran di sepanjang jalan rasanya pengen beli semuanya padahal cuma lapar mata.

Puasa baru jalan beberapa hari, undangan buka bersama pun bertaburan. Dari teman TK hingga arisan berlian. Nggak jarang, acara bukber pun harus merogoh kocek paling tidak buat patungan atau bayar makan. Kalau sekali bukber minimal mengeluarkan uang Rp 150.000, hitung saja 10 kali bukber jadi berapa. Pengeluaran lagi, duit lagi. Ini juga yang bikin pengeluaran juga jadi meningkat saat bulan puasa.

Sementara saat pertengahan Ramadan, banyak dari kita yang mulai sibuk untuk mempersiapkan sesuatu yang baru. Dari baju, sepatu, jilbab, toples, sampai gorden rumah paling nggak ada yang harus baru. Kan jadi duit lagi, pengeluaran lagi. Sementara jelang akhir Ramadan, agenda mudik sudah menanti. Bagi yang mudik, budget harus dipersiapkan matang. Ratusan ribu hingga jutaan sudah pasti masuk pos tersendiri untuk budget mudik dan segala-galanya. Kalau sudah begini, uang THR yang dinanti-nanti pun bisa jadi cuma numpang lewat.

(Baca juga: 7 Hal yang Membuat Mudik Lebaran 2016 Tak Terlupakan)

Sebenarnya bisa nggak sih pas bulan puasa ini menghemat pengeluaran? Bisa banget, cuma balik lagi ke diri masing-masing yaitu mau atau tidak. Kalau saya sih mau nggak mau harus mau. Biar alhamdulillah saya dan suami selama ini dikasih rezeki berlebih saat ini tetapi disiplin pengeluaran tetap harus dilakukan biar nggak boros banget pas bulan puasa hingga Lebaran nanti. Nah, berikut beberapa tip yang saya praktikin biar nggak ‘kantong kering’ saat Bulan Ramadan. Tip ini juga bisa banget lho dipraktikin sama kamu biar tetap hemat di bulan puasa:

1. Belanja sebelum Ramadan

Sebelum Bulan Ramadan, saya biasanya memastikan anggaran belanja. Saya yakin banget kalau Ramadan pasti ada budget yang harus ditambah khususnya di pos makanan. Apalagi biasanya jelang dan saat Ramadan banyak harga kebutuhan pokok yang naik. Untuk menyiasatinya, saya memilih berbelanja beberapa kebutuhan pokok sebelum bulan puasa tiba. Biasanya sih 2 minggu sebelumnya.

Bahan-bahan pokok yang saya beli pun terbatas yang tidak mudah busuk seperti minyak goreng, gula pasir, atau telur. Namun, beberapa bahan makanan seperti sayur, daging, atau bahan lain yang mudah busuk tidak bisa disimpan lama dan  tetap saya beli dalam keadaan fresh. Siasat belanja dulu sebelum Bulan Ramadan ini juga dilakukan untuk menghindari kebiasaan malas keluar rumah saat puasa.

2. Makan masakan sendiri

Selama bulan puasa ini mayoritas makanan yang dimakan anggota keluarga saya di rumah yang terdiri dari saya, suami, dan adik adalah makanan rumah alias makanan yang saya masak sendiri. Dari takjil hingga lauk pauk. Masak sendiri memang menghemat pengeluaran banget buat saya. Apalagi orang rumah yang pada doyan makan. Kalau diibaratkan jajan, uang Rp 30.000 paling dapat kolak 3 gelas sama gorengan 10 sampai 15. Itu dengan kisaran harga yang paling murah ya. Kalau masak sendiri, Rp 30.000 aja sudah jadi kolak sepanci plus gorengan seabrek-abrek. Ini juga berlaku buat makan berat.

Lalu apakah saya jadi nggak jajan sama sekali? Masih kok. Saya sadar kalau masak tiap hari badan bisa rontok. Belum lagi kalau pas ada acara atau harus mengerjakan sesuatu yang menyita waktu, acara memasak jadi keteteran deh. Nah, untuk menyiasatinya, seminggu sekali saya bebas tugas memasak. Anggota keluarga pun bisa merasakan jajan di luar dan nggak bosan dengan makanan rumah melulu.

3. Batasi acara buka bersama

Kalau hidup di kota besar, untuk hal yang satu ini memang harus tegas dan selektif. Nggak semua acara bukber harus dihadiri. Pilihlah acara bukber yang benar-benar bermakna dengan budget yang ramah di kantong. Kalau memang mau bukber di tempat makan mahal, berarti harus rela hanya bukber sebanyak hitungan jari.

(Baca juga: Pilah-Pilih Acara Buka Puasa Bersama di Bulan Ramadan)

Sediakan juga budget khusus untuk bukber. Kalau budget habis, jangan paksakan ikut bukber hanya karena masalah gengsi sama teman lainnya. Oh ya, beberapa restoran atau tempat makan kadang menyiapkan promo khusus untuk bukber, Nah, promo-promo ini bisa dimanfaatkan biar bukber lebih hemat.

4. Lebaran nggak harus serba baru

Dari kecil sebagian orang dididik kalau Lebaran harus serba baru, termasuk saya. Yang paling sering sih baju baru. Padahal makna Lebaran sendiri adalah hati yang baru, yang suci, setelah sebulan penuh beribadah Ramadan. Makna inilah yang seharusnya diterapkan pada diri kita. Inilah yang juga perlahan saya ubah dari diri saya.

Kalau memang biasanya Lebaran identik banyak barang harus baru, mulai bulan puasa kali ini bisa sedikit demi sedikit deh dikurangi kebiasaan itu. Satu atau dua barang nggak perlu baru terus-menerus setiap tahun. Kalau buat saya sih nggak harus nunggu Lebaran buat beli baju atau sepatu baru. Atau kalau biasanya beli 3 baju baru untuk Lebaran, mulai dikurang-kuranginlah jadi 2 atau 1 baju saja. Toh, masih ada baju lama yang layak dan bisa dipakai untuk Hari Lebaran nanti.

5. Selektif pilih oleh-oleh Lebaran untuk keluarga

Kalau pulang kampung rasanya pengen bawa banyak oleh-oleh buat keluarga. Dari oleh-oleh makanan hingga barang. Saya juga gitu kok, paling nggak buat ngasih ke ibu saya dan ibu mertua. Namun, beberapa tahun belakangan ini saya mulai mengubah oleh-oleh yang saya beli. Biasanya saya bawa oleh-oleh makanan berupa kue kalengan atau kue kering khas Lebaran. Sekali beli saya bisa jor-joran hingga 3-4 macam kue dikaliikan untuk dua keluarga. Saya memang biasa samakan oleh-oleh untuk ibu saya dan ibu mertua.

kue khas lebaran

Sayangnya, semakin kesini harga kue Lebaran semakin mahal. Apalagi kue yang dikemas dalam bentuk kalengan yang malah gede kemasannya padahal isi di dalamnya sedikit. Akhirnya saya kurangi deh beli oleh-oleh kue kalengan untuk keluarga. Selain harganya semakin mahal, kemasannya pun makan tempat. Apalagi kalau pulang menggunakan kereta api yang mana sekarang barang bawaan penumpang sangat dibatasi berat dan volumenya.

(Baca juga: Tips Mudik Lebaran Menggunakan Kereta Api)

Sebagai solusi, saya menggantinya dengan bikin kue sendiri. Memang sedikit perlu usaha, waktu, dan ketelatenan sih tapi efeknya memang terasa sekali. Kalau beli kue kering di toko kue langganan saya, harga grade kue yang paling enak bisa mencapai 80.000-90.000 per toples. Sementara kalau bikin sendiri, uang 90.000-100.000 sudah bisa jadi kue beberapa toples. Bahkan kalau bisa beli bahan kuenya sebelum bulan puasa tiba. Terasa banget hematnya. Dengan bikin sendiri saya bisa bawa pulang 6 toples dengan 3 macam kue. Coba kalau beli, pasti kerasa banget kan harga 6 toples kue.

Nah, itu dia tip hemat saat Bulan Ramadan ala saya. Saat pengeluaran Ramadan tetap terkendali, hati juga tenang saat melakukan ibadah di bulan suci. Jangan sampai puasa dan Lebaran justru bikin habis tabungan apalagi sampai menciptakan utang.

Kalau kalian bagaimana? Share juga yuk di kolom komen.

 

ratna dewi

 

28 Comments
Previous Post
Next Post