Menuju Program Hamil Ketiga: Belajar Pentingnya Pencegahan bersama In Harmony Clinic

Tahun ini sudah memasuki Bulan Juni. Ini tandanya, sudah hampir setahun sejak keguguran yang kedua pada pertengahan tahun 2015 lalu. Ini berarti juga, sebentar lagi saya dan suami siap-siap buat program hamil kembali. Namun, ada sedikit trauma kalau mengingat keguguran berulang yang saya alami. Makanya sebelum program hamil yang ketiga setelah Lebaran nanti, saya cari banyak ilmu. Cari ilmu tentang kesehatan dan kehamilan dengan baca artikel, cek sharing discussion di forum-forum perempuan, atau datang ke talkshow.

Beruntung, kali ini Blogger Perempuan bersama In Harmony Clinic menyelenggarakan talkshow tentang kesehatan dengan judul The Value of Prevention In Healthcare. Tak tanggung-tanggung, dua narasumber yang mumpuni dihadirkan untuk berbagi ilmu tentang pentingnya pencegahan. Mereka adalah Grace Melia dan dr Kristoforus Hendra Djaya, SpPD. Selain karena narasumbernya, ketertarikan saya dengan talkshow ini adalah ilmu yang dibagikan yaitu tentang arti penting sebuah pencegahan. Berkunjung ke acara ini adalah salah satu ikhtiar saya menuju program hamil ketiga.

(Baca juga: FAQ Tentang Program Hamil)

Oleh karena itu, tanpa ba-bi-bu saya langsung mendaftarkan diri untuk acara ini. Topiknya apalagi menyangkut tentang pencegahan, salah satunya menyinggung tes TORCH yang biasanya dilakukan oleh ibu hamil atau yang berencana hamil. Saya yakin, dari talkshow ini akan dapat pencerahan tentang tes TORCH yang selama ini masih maju mundur mau saya lakukan. Dan ternyata benar, saya banyak mendapatkan ilmu.

BELAJAR DARI GRACE MELIA

Siapa yang tak kenal Grace Melia di dunia blogger? Ibu dua orang anak ini memang namanya sudah tidak diragukan lagi. Selain berprestasi dalam bidang blog, Gesi, begitu ia disapa juga berbagi ilmu tentang penyakit Rubella lewat Rumah Ramah Rubella (RRR) yang didirikannya. Ubii, sang putri menjadi inspirasi tulisan-tulisan di blog dengan judul Diary Mami Ubii, The ABC of Parenting and Beyond.

Grace Melia sedang menerangkan tentang pengalamannya mengasuh Ubii yang menderita Congenital Rubella Syndrome
Grace Melia sedang menerangkan tentang pengalamannya mengasuh Ubii yang menderita Congenital Rubella Syndrome (Picture from Blogger Perempuan Network)

Kalau sudah mengenal Gesi, pastilah mengenal Ubii, sang putri. Ubii yang bernama lengkap Aubrey Naiym Kayacinta adalah seorang anak berkebutuhan khusus (ABK). Ubii menderita congenital rubella syndrom yang menyebabkan tuna rungu berat dan cerebral palsy. Gesi bercerita bahwa apa yang dialami Ubii bermula saat kehamilannya.

Saat hamil Ubii, Gesi sempat demam dan muncul bintik-bintik merah. Namun, dokter kandungan yang didatanginya justru mengatakan itu hanya alergi biasa atau gabagan. Sampai akhirnya Gesi melahirkan Ubii dan Ubii divonis ada kelainan jantung. Beberapa bulan kemudian, Ubii diketahui menderita congenital rubella syndrom setelah Gesi mencurigai beberapa hal seperti gaya tidur Ubii atau gaya saat difoto yang terlihat kaku/mengejang.

Dari situlah Gesi membawa Ubii ke beberapa dokter hingga pada akhirnya ada satu dokter yang menanyakannya apakah ia pernah menderita Rubella atau Campak Jerman. Hal ini terlihat dari hasil pemeriksaan lab dan dokter. Gesi marah? Iya. Gesi sedih? Iya. Tapi dari situ akhirnya ia cari tahu tentang Rubella melalui googling di internet. Oh ya, untuk yang masih awam dengan Rubella, ini saya kasih tahu beberapa gejalanya yang wajib diwaspadai khususnya pada ibu hamil:

  • Demam
  • Muncul ruam atau bintik merah pada kulit dan langit-langit mulut
  • Tidak nafsu makan dan mual
  • Iritasi pada mata
  • Hidung tersumbat
  • Nyeri pada sendi
  • Pembengkakan pada kelenjar limfa di belakang telinga dan leher

Ketidaktahuan tentang Rubella saat hamil membuat Gesi terinfeksi virus Rubella di trimester pertama kehamilannya. Hal inilah yang membuat Ubii tumbuh menjadi anak berkebutuhan khusus. Padahal semua ini bisa dicegah misalnya dengan tes TORCH atau vaksinasi. Sedikit sesal atas pencegahan yang tidak bisa dilakukan di awal kehamilan Ubii tak membuatnya terus terpuruk. Atas pengalamannya ini, Gesi akhirnya berinisiatif mendirikan RRR. Tujuannya adalah untuk saling berbagi ilmu dan informasi serta meningkatkan awareness tentang Rubella.

BELAJAR DARI DR KRISTO DAN IN HARMONY CLINIC

Selama ini saya mungkin orang yang tidak begitu peduli soal vaksin. Di benak saya, vaksin biasanya diberikan pada anak kecil. Saya tahunya vaksin buat orang dewasa itu adalah TT (Tetanus Toksoid) yang saya jalani sebelum daftar di KUA dulu dan vaksin HPV buat mencegah kanker serviks. Tapi ternyata saya salah paham. Vaksin itu adalah salah satu komponen penting pencegahan tubuh dari infeksi penyakit. Vaksin bukan diberikan pada anak-anak saja.

dr Kristoforus Hendra Djaya, SpPD, CEO In Harmony Clinic
dr Kristoforus Hendra Djaya, SpPD, founder dan CEO In Harmony Clinic (Picture from Blogger Perempuan Network)

Dr Kristoforus Hendra Djaya, SpPD yang juga founder dan CEO In Harmony Clinic menerangkan bahwa tindakan pencegahan sangat penting. Belajar dari penyakit Rubella yang diderita Grace Melia dan Ubii, penting sekali dilakukan pencegahan penyakit sebelum datangnya kehamilan. Dr Kristo malah menyebutkan bahkan pencegahan itu bisa dilakukan sebelum menikah. Ini berlaku salah satunya untuk pencegahan virus TORCH yang goal-nya adalah supaya anak yang dilahirkan nantinya sehat.

Selain TORCH, ada banyak virus dan penyakit lainnya yang bisa dicegah melalui vaksinasi. Vaksinasi sebagai salah satu ikhtiar pencegahan penyakit bisa dilakukan sebelum menikah. Pemeriksaan kesehatan dan vaksinasi ini dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya penyakit pada masing-masing pasangan. Selain itu, ada juga vaksin-vaksin yang tidak boleh diberikan saat mengandung atau harus dijeda beberapa bulan sebelum hamil. Ini sebabnya vaksin tersebut lebih baik diberikan sebelum menikah. Sebelum menikah, pemeriksaan pada masing-masing pasangan dan pencegahan lebih dini sangat diperlukan. Beberapa vaksinasi pranikah yang disarankan, antara lain: HPV (Human Papiloma Virus), MMR (Mumps-Measles, Rubella), varicella, Hepatitis B, dan TT.

Jadwal Imunisasi 2014
jadwal imunisasi rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI)

Bicara soal vaksin dan pencegahan berarti menyinggung pula soal mindset atau pola pikir. Diperlukan keterbukaan pola pikir di tengah banyaknya perdebatan soal vaksin dan antivaksin. Belajar dari pengalaman dua kali keguguran yang saya alami, vaksinasi ternyata menjadi suatu hal yang penting.

Namun, jalan penyebarluasan pentingnya pencegahan ini ternyata tak selalu mulus. Ini pula yang terjadi pada penyebarluasan informasi tentang vaksin. Dr Kristo menyebutkan bahwa ada saja yang masih menganggap remeh pentingnya vaksin. Mereka biasanya disebut kelompok antivaksin. Kelompok ini menggaungkan gerakan untuk tidak melakukan vaksin dan menyebarluaskan berita yang kebenarannya belum teruji.

Salah satu isu negatif tentang vaksin adalah vaksin MMR yang menyebabkan autis. Padahal, hasil penelitian vaksin MMR yang katanya mengakibatkan autis itu adalah penelitian palsu. Boleh saja di-googling soal vaksin MMR dan sang penelitinya, Andrew Wakefield. Disitu akan banyak ditemukan penjelasan bahwa penelitian Andrew Wakefield soal vaksin MMR ternyata keliru. Vaksin MMR tidak menyebabkan seorang anak menjadi autis.

Berkaca dari hal di atas, ada beberapa tips dari saya nih agar kita terhindar dari isu menyesatkan soal vaksin, antara lain:

  1. Cari tahu informasi menyeluruh tentang vaksin, bisa dari buku, internet, atau tenaga kesehatan.
  2. Jika membaca informasi dari internet, cek n ricek serta pastikan artikel berasal dari sumber yang terpercaya.
  3. Jangan buru-buru meneruskan informasi yang masih abu-abu tentang vaksin, khususnya di media sosial yang bisa viral hanya dalam hitungan detik.
  4. Aktif bertanya pada tenaga kesehatan seperti dokter atau bidan terkait dengan vaksin.
  5. Datangi klinik-klinik atau tempat kesehatan untuk tahu lebih banyak soal fakta vaksin dan informasi lain yang berguna untuk pencegahan. Salah satu tempat yang bisa didatangi adalah In Harmony Clinic.

logo in harmony clinic

In Harmony Clinic adalah salah satu klinik yang sangat peduli terhadap pentingnya pencegahan. Melalui In Harmony Immunity Clinic (IHIC), pencegahan penyakit melalui vaksinasi anak dan dewasa menjadi fokus pengembangan. Selain itu, IHIC juga memberikan edukasi dan pelayanan vaksinasi ke banyak lapisan masyarakat. Jadi, kalau masih bingung soal vaksin bisa ditanyakan langsung ke In Harmony Clinic supaya mendapatkan jawaban dari orang yang memang berkompeten di bidangnya.

PENTINGNYA PENCEGAHAN SETELAH KEGUGURAN BERULANG

Ada banyak informasi yang saya dapat setelah mengikuti talkshow The Value of Prevention In Healthcare. Salah satunya adalah mengenai arti penting pencegahan sebelum saya berencana program hamil yang ketiga. Kebetulan, setelah Lebaran ini saya dan suami memang berniat ingin program hamil kembali untuk yang ketiga kalinya. Kali ini saya harus lebih siap, siap mental dan fisik juga siap informasi.

Sharing Gesi dan dr Kristo benar-benar membuka mata saya. Gesi bilang bahwa saat dirinya hamil dan meminta rekomendasi tes TORCH pada dokter kandungan, sang dokter justru tidak merekomendasikan dan malah menyuruh menyimpan uangnya sebagai biaya melahirkan nanti. Nah, setelah melahirkan Ubii yang terinfeksi Congenital Rubella Syndrom, barulah Gesi sadar arti penting pencegahan.

(Baca juga: Berbagai Pertimbangan Sebelum Memilih Dokter Kandungan)

Saya alami betul yang Gesi alami. Setelah mengalami IUFD (Intra Uterine Fetal Death/kematian janin dalam kandungan) pada anak pertama saya, kemudian saya meminta rekomendasi untuk tes lab, salah satunya tes TORCH dan dokter kandungan saya tidak memberikannya. Alasannya adalah biaya yang mahal hingga lima jutaan akan terbuang percuma jika hasilnya sehat. Padahal, biaya pencegahan sebesar itu menurut saya tidak ada artinya jika kita tahu kondisi diri sendiri sehingga bisa mengantisipasi segala kemungkinan buruk yang akan terjadi.

Dan benar saja. Beberapa bulan kemudian saya program hamil dan hamil lagi. Di kehamilan kedua saya sang janin justru tidak berkembang. Saya runut ke belakang lagi sebelum saya program hamil. Ternyata saya belum belajar dari keguguran yang sebelumnya. Saya tidak aware tentang pencegahan sebelum program hamil. Saya bahkan tidak tes lab atau vaksin apapun sebelumnya. Saya terburu-buru untuk hamil lagi? Iya, saat itu. Saya belum melakukan pencegahan apapun sebelum program hamil kedua dan setelah hamil saya justru mengalami blighted ovum dan divonis janin saya tidak berkembang oleh dokter.

Dua kali keguguran tanpa tahu penyebab pastinya membuat saya yakin betul arti penting pencegahan. Saya ingin program hamil dan hamil dengan sehat. Dua kali keguguran menjadi pelajaran berharga sekali untuk saya. Jangan sampai itu berulang untuk ketiga kalinya hanya karena saya tidak tahu informasi pentingnya pencegahan dan sayang uang untuk melakukan berbagai tes lab atau vaksinasi. Jadi, kenapa saya harus tes TORCH dan vaksin sebelum hamil:

  1. Lebih baik mencegah daripada mengobati; ini mungkin pepatah lama tapi masih sesuai dengan kondisi sekarang. Lebih baik melakukan banyak usaha pencegahan sebelumnya daripada terpuruk kembali pada kegagalan saat hamil karena minimnya pencegahan.
  2. Lebih hemat mencegah daripada mengobati; berkaca dari berapa nilai materi yang Gesi harus keluarkan untuk pengobatan Ubii per bulan yang saya intip dari tulisan di blognya, maka uang untuk pencegahan akan jauh lebih kecil dan sedikit nilainya.
  3. Kita tidak akan pernah tahu kapan penyakit datang; dengan mencegah berarti kita telah mempersiapkan satu kejadian terburuk yang bisa saja terjadi. Memiliki anak memang kehendak Gusti Allah, tapi sebagai manusia tentu harus ikhtiar. Salah satu ikhtiarnya adalah mencegah datangnya penyakit.

Setelah acara berakhir, saya penasaran dengan Rubella dan tes TORCH. Ingatan saya melayang saat hamil pertama dulu. Saya sempat cium-cium keponakan yang memang habis sakit panas dan ternyata setelah itu sang ibu baru bilang bahwa keponakan saya sakit Campak Jerman. Belum lagi lingkungan kontrakan saya dulu yang penuh kucing liar yang bisa saja membawa virus toksoplasma yang menular lewat udara. Jadi, beberapa kemungkinan risiko TORCH itu memang ada.

Dari hasil sharing yang diselenggarakan Blogger Perempuan ini, paling tidak saya jadi tahu langkah apa saja yang harus dilakukan untuk mempersiapkan diri menuju program hamil ketiga nanti. Saya jadi tahu wishlist yang harus dipersiapkan agar program hamil ketiga nanti bisa direncanakan dengan baik sampai dengan saat hamil dan melahirkan nanti. Saya tahu benar bahwa perkara memiliki anak memang hak kehendak Tuhan, tapi perencanaan yang matang dari sisi kesehatan, mental, dan materi merupakan ikhtiar yang saya dan suami bisa lakukan. Perkara eksekusinya kami serahkan sama Yang Maha Kuasa.

Jadi, inilah wishlist saya untuk rencana program hamil ketiga:

  1. Mempersiapkan materi untuk beberapa tes lab dan vaksin, belajar dari Grace Melia saya akhirnya sadar bahwa biaya pencegahan jauh lebih sedikit daripada ketika harus mengobati nanti.
  2. Tes TORCH, apapun hasilnya tentu akan saya terima. Misalnya hasil test negatif pun saya tak akan menyesal telah mengeluarkan uang karena paling tidak saya sudah mencegah satu hal buruk terjadi.
  3. Konsultasi ke dokter kandungan tentang history kehamilan sebelumnya, perencanaan vaksinasi TORCH, dan jadwal program hamil.
  4. Pilih dokter yang open minded dengan pentingnya pencegahan, terbuka buat saya dan suami berdiskusi mengingat rekam medis dua kehamilan saya sebelumnya.
  5. Membiasakan diri untuk mencari second dan third opinion dari dokter yang lain.
  6. Hidup sehat dengan pola makan seimbang dan rutin olahraga.
  7. Jangan bosan untuk belajar apapun, dari siapapun, dan dari manapun tentang kesehatan dan kehamilan.

Datang ke talkshow “The Value of Prevention In Healthcare” ini akhirnya sangat mencerahkan saya. Banyak alasan mengapa saya akhirnya harus berani melakukan pencegahan setelah sebelumnya masih maju-mundur dengan berbagai informasi kesehatan sebelum program hamil. Terima kasih Blogger Perempuan. Terima kasih Grace Melia. Terima kasih In Harmony Clinic dan dr Kristo. Setelah Lebaran, insyaallah akan saya mulai pencegahan dengan tes TORCH.

ratna dewi

44 Comments
Previous Post
Next Post