Berbagai Pertimbangan Sebelum Memilih Dokter Kandungan

Memilih dokter kebidanan dan kandungan (dokter kandungan/obgyn) itu gampang-gampang susah. Kenapa? Karena dokter kandungan adalah seseorang yang kita percaya untuk ‘membongkar pasang’ di bagian yang paling dilindungi oleh perempuan, setelah suami pastinya. Dokter kandungan adalah orang yang dipercaya untuk menolong paling tidak dua jiwa, ibu dan anak, saat melahirkan. Oleh karenanya, ada banyak hal yang harus dipertimbangkan sebelum seorang perempuan memilih dokter kandungan.

Banyaknya dokter kandungan di kota besar menuntut kita untuk selektif. Apalagi untuk perempuan hamil. Mencari dokter terkadang seperti mencari jodoh. Dalam buku “Moms and The City” karya Nadia Mulya dan Joy Roesma disebutkan, “silakan selingkuh dengan sebanyak mungkin dokter kandungan sampai menemukan yang cocok”.

(Baca juga: Ketika Perkara Hamil Menjadi Rumit)

Eits, jangan salah paham dulu. Istilah itu diartikan, pilihlah dokter kandungan yang nyaman. Kalo dokter yang dikunjungi terasa nggak nyaman, bisa pindah memilih dokter lain. Begitu seterusnya sampai benar-benar bertemu dokter kandungan yang nyaman. Jangan sampai menyesal di kemudian hari karena memaksakan memilih dokter yang sudah tidak sreg di awal.

Oh ya, ngomong-ngomong soal dokter kandungan, saya udah beberapa kali ke dokter kandungan. Dari yang gonta-ganti dokter kandungan biasa (SpOG), dokter kandungan subspesialis kesuburan (SpOG (KFER)), dan dokter kandungan subspesialis kehamilan berisiko tinggi/ fetomaternal (SpOG (KFM)). Dari sekadar memeriksakan kandungan, program hamil, sampai USG 4D. Dan, inilah pertimbangan sebelum ke dokter kandungan ala saya:

1. Kenali kondisi tubuh anda

Sebelum memutuskan untuk ke dokter kandungan, hal pertama yang harus dilakukan adalah kenali kondisi tubuh Anda. Maksudnya, bagaimana kondisi tubuh Anda ketika akan pergi ke dokter kandungan. Apakah Anda sedang hamil, apakah Anda akan program hamil, apakah Anda belum menikah, apakah Anda ingin pasang alat KB, apakah Anda hamil dengan usia di atas 35 tahun, apakah Anda punya riwayat keguguran berulang, dan lain-lain bisa menjadi pertimbangan.

Misal, jika Anda ingin program hamil bisa memilih dokter fertilitas, jika Anda hamil di usia rawan bisa memilih ke fetomaternal, dan seterusnya. Jika kehamilan Anda sehat walafiat tanpa kekurangan satu apa pun, bersyukukurlah karena Anda bebas memilih dokter kandungan.

2. Pilih dokter kandungan yang komunikatif

Komunikatif itu jadi kriteria penting untuk memilih dokter kandungan. Artinya, sang dokter mau menjelaskan bagaimana keadaan pasien, bagaimana kemungkinan-kemungkinan yang akan dihadapi pasien, mau menjawab pertanyaan/keingintahuan pasien, memberitahukan tindakan atau obat yang akan diberikan untuk pasien, dan seterusnya. Pokoknya tidak pelit info lah.

Pilih dokter juga yang mengajak kita aktif untuk berdiskusi. Jangan yang kalo ditanya malah marah atau menganggap pasien sok tahu. Jangan juga yang kelewat pendiam, kalo nggak dicecer nggak bilang apa-apa soal kondisi pasien. Pasien dan keluarga punya hak juga untuk mendapatkan informasi yang benar. Kalo sudah begitu, komunikasi antara dokter dan pasien kan bisa enak dan berjalan dua arah. Tidak ada satu pihak yang merasa lebih tinggi sedangkan pihak lain merasa lebih rendah.

3. Dokter mudah dihubungi

Ini jadi point penting, buat saya khususnya. Apalagi di zaman serba modern ini dimana setiap orang sudah pegang hape dengan aplikasi-aplikasi chatting di dalamnya. Penting banget untuk memilih dokter yang mudah dihubungi. Biasanya di akhir sesi pemeriksaan, sang dokter akan memberikan kartu nama yang tertera nomer telepon, Whatsapp, atau pin BBM-nya agar bisa dihubungi sewaktu-waktu.

Kenapa memilih dokter yang mudah dihubungi? Soalnya perempuan, ibu hamil khususnya, sering banget parnoan dengan kondisinya. Ibu hamil, bisa saja setiap saat khawatir dengan kondisi anak di dalam kandungannya. Ngeflek dikit, bayi gerakannya terlalu aktif/pelan, kaki bengkak, sembelit menjadi beberapa keluhan yang kerap membuat ibu hamil panik. Dan dengan menghubungi sang dokter untuk bertanya atau memberitahukan kondisinya, akan membuat sang ibu merasa lebih baik dan tahu apa yang harus dilakukan. Apalagi jika sang dokter fast response, mau telepon balik, atau tetap merespon walaupun sudah larut malam akan jadi point plus buat dokter tersebut.

4. Dokter populer boleh, asal…

Ada banyak dokter kandungan populer. Bisa populer karena kegantengannya, keberhasilannya dalam program inseminasi atau bayi tabung, keahliannya dalam membuat hamil pasangan yang sudah lama menikah, sering muncul di media, jahitannya bagus, baca bismillah saat mau memeriksa, atau bahkan jadi favorit/langganan artis atau pejabat. Nah, biasanya semakin populer dokter kandungan, semakin banyak pasien yang ingin berobat dengannya.

Risiko dokter populer tentulah antrian pasiennya mengular. Biasanya untuk berobat ke dokter kandungan yang populer butuh perjanjian terlebih dahulu. Kalo sudah begini, lihat dulu sebanyak apa pasiennya. Jangan juga memilih dokter hanya karena populer tapi ketika mengantri bisa sampai setengah hari. Jangan juga memilih dokter populer tapi ketika memeriksa terburu-buru, cuma tiga menit kemudian “yak, pasien selanjutnya”. Yah, emangnya ospek, main cepet-cepetan. Jangan juga rela reservasi dari tiga bulan sebelumnya hanya karena dia populer, emangnya booking tiket Lebaran.

Pengalaman saya pernah beberapa kali ke dokter kandungan yang populer. Ada yang antriannya mengular, selama masih masuk akal sih nggak masalah. Ada juga yang mau periksa harus bikin perjanjian satu bulan sebelumnya, alamak!

5. Track record dokter dan testimoni pasien

Sebelum memilih dokter kandungan, ada baiknya telusuri dahulu track record-nya. Apakah pernah ‘berkasus’ atau belum. Telusuri juga testimoni-testimoni pasien yang pernah ditanganinya. Caranya gimana? Caranya gampang, kan ada Mbah Google. Search aja nama sang dokter disitu. Kalo dokter yang track record-nya bagus biasanya jadi favorit dan direkomendasikan di forum ibu-ibu atau malah melalui tulisan di blog.

Nah, kalo yang masih blank, bisa dilihat rekomendasi para perempuan di beberapa forum. Buka aja forum ibuhamil.com, theurbanmama.com, forum.femaledaily.com, atau bahkan kaskus.co.id. Biasanya di situ ada forum yang membahas rekomendasi dokter kandungan, dari dokter kandungan biasa, dokter untuk TTC (trying to conceive/program hamil), sampai fetomaternal.

(Baca juga: FAQ Tentang Program Hamil)

Untuk urusan track record dokter, suami saya agak picky. Dia lebih suka memilih dokter yang kalo di-googling keluar namanya. Dia malah curiga kalo googling nama dokternya trus nggak terkenal atau nggak ada testimoninya di internet. Trus gimana donk kalo dokter kandungan di daerah yang pilihannya nggak banyak trus nggak ada namanya pas di-search di Google? Bisa tanya ke teman atau tetangga yang pernah periksa ke dokter itu. Bisa juga tanya ke teman duduk di samping kiri kanan sambil SKSD pas nunggu giliran mau periksa.

6. Pro-keselamatan pasien dan mensugesti positif

Dulu saya termasuk orang yang keukeuh sumekeuh milih dokter kandungan yang pro normal. Tapi, semakin lama saya sadar harus memilih dokter kandungan yang pro-keselamatan saya dan anak saya nantinya. Kenapa? Karena kondisi saya yang mengalami uterus bicornis/rahim ganda nggak selalu bisa dipaksakan untuk melahirkan normal. Mau normal atau caesar, dokter yang pro terhadap keselamatan pasien itu yang patut dipilih. Nggak mungkin juga kan pasien selalu dipaksakan untuk melahirkan normal kalau ada penyulit yang menyusahkan.

Dokter yang pro keselamatan juga nggak menutup kemungkinan untuk merekomendasikan kita pada dokter lain yang lebih mumpuni jika ada kondisi-kondisi yang memang butuh tindakan lebih. Selain itu, pilih dokter kandungan yang selalu mensugesti kita dengan pikiran positif. Karena menurut saya, untuk sembuh dan selamat butuh semangat, energi positif, dan support. Jangan pilih dokter yang malah menakut-nakuti pasien atau malah membuat pasien berkecil hati dengan kondisinya.

7. Track record rumah sakit dimana dokter tersebut praktik

Jika dokter kandungan berpraktik di klinik atau rumah sakit, lihat juga bagaimana kondisi klinik atau rumah sakit tersebut. Bagaimana track record-nya, pelayanan tenaga medisnya, jalur administrasinya, apakah pernah memiliki kasus atau belum, kebersihan tempatnya, sampai kelengkapan peralatan/fasilitasnya perlu dipertimbangkan. Jangan sampai memilih dokter yang baik tapi rumah sakitnya justru memiliki track record jelek yang bikin ilfeel saat mau periksa.

8. Jarak rumah dengan tempat praktik dokter

Beberapa hari lalu saya sempat melihat berita seorang ibu yang terpaksa harus melahirkan di lampu merah Rawasari karena macet dan tidak terburu sampai rumah sakit tempat dimana ia akan melahirkan. Bahkan, polisi sampai dimintai bantuan untuk mengendarai mobilnya. Sang ibu berasal dari Cikarang dan hendak melahirkan di rumah sakit di kawasan Salemba. Karena jalan tol yang sangat macet, akhirnya membuat sang ibu tak tahan lagi. Sang bayi sudah pengen melihat dunia saat masih di jalan raya. Jadilah sang ibu terpaksa melahirkan di jalan.

Nah peristiwa seperti ini pasti nggak ingin terjadi kan? Oleh karena itu, patut dipertimbangkan betul jarak rumah dengan tempat dokter praktik atau rumah sakit dimana akan melahirkan. Lihat juga bagaimana medannya, apakah jalanan yang dilewatinya macet/tidak, beraspal bagus/berlubang, dll. Hal ini supaya tidak ada kejadian buruk yang menimpa sebelum pasien sampai ke tangan orang yang tepat.

9. Pertimbangkan biaya

Biaya juga penting untuk dipertimbangkan. Program hamil atau hamil pasti butuh biaya besar. Jangan sampai biaya kita terkuras di awal padahal kita sudah menyadari bahwa periksa di dokter kandungan A biayanya memang sangat mahal. Apabila memang punya biaya lebih atau besar sih tidak apa-apa. Tapi untuk kalangan yang memang pas-pasan atau tidak memiliki BPJS/asuransi kesehatan/asuransi kantor, biaya (periksa/melahirkan) adalah faktor penting dalam memilih dokter kandungan.

Bagi Anda yang menggunakan Jamkesmas/KJS/BPJS, telusuri dahulu apakah dokter kandungan/rumah sakit dimana akan periksa/melahirkan menerima pengguna jaminan sosial tersebut. Jika menerima, tanyakan juga apa saja persyaratannya agar bisa disiapkan dari jauh-jauh hari. Karena biasanya persyaratan jaminan sosial itu ribet dan njlimet.

10. Dokter perempuan atau laki-laki?

Saya termasuk orang yang bebas memilih jenis kelamin dokter kandungan. Saya sudah pernah ditangani dokter laki-laki, sudah pernah pula ditangani dokter perempuan. Menurut saya, semuanya sama saja karena mereka bekerja di atas profesionalisme. Tapi ada beberapa orang yang merasa istri atau dirinya (perempuan) lebih nyaman ditangani oleh dokter perempuan. Entah karena faktor kenyamanan, agama, atau

Sebelum memilih dokter kandungan perempuan atau laki-laki, ada baiknya dirundingkan dulu dengan keluarga khususnya suami. Bagaimana pendapat suami apabila sang istri ditangani dokter kandungan laki-laki. Jika sudah menentukan mau ditangani yang mana, barulah mencari rekomendasi. Tapi kalo yang membebaskan seperti saya atau suami saya ya sudah, bisa langsung cari rekomendasi.

Gimana? Sudah ‘berburu’ dokter kandungan yang sesuai untuk Anda? Share juga siapa dokter kandungan favorit dan pertimbangan Anda dalam memilih dokter kandungan tersebut yuk.

 

ratna dewi

20 Comments
Previous Post
Next Post