Untukmu Para Perempuan yang Sedang Berjuang Mendapatkan Momongan…

“Kamu menyesal nggak menikah sama aku?”
“Kamu kecewa nggak menikah sama aku?”

Dua pertanyaan ini yang beberapa hari lalu saya tanyakan pada suami. Entah ini sudah keberapa kalinya. Yang pasti jawabannya selalu TIDAK. Sungguh, saya tidak meragukan jawabannya. Begitu pun dengan mimik mukanya. Saya hanya tidak percaya diri dengan apa yang saya dengar sehingga perlu mengulang-ulangnya berkali-kali agar saya lega.

“Aku galau.”

Hanya jawaban itu yang bisa saya jawab ketika suami mempertanyakan kegiatan hari itu ngapain saja. Yang pasti, setelah ia berangkat kerja pekerjaan saya cuma tidur-tiduran. Iya, saya galau. Hari itu saya mendadak sedih sekali. Mellow. Membayangkan banyak pikiran buruk yang akan terjadi. Mungkin saya terlalu lelah. Atau terlalu paranoid. Atau mungkin oversensitif dengan urusan yang satu ini, memiliki anak.

(Baca juga: Ketika Mereka Bertanya “Kapan Punya Anak?” pada Perempuan yang Pernah Keguguran)

Saya memang akhir-akhir ini galau dengan perkara memiliki momongan. Bukan, bukan karena pertanyaan, desakan, atau nyinyiran orang tentang “Kapan?” atau “Sudah isi belum?”. Saya bahkan sudah tidak peduli apa kata orang biar pun itu berasal dari circle terdekat saya dan suami. Yang saya pedulikan hanya suami saya dan perasaannya. Apakah dia bahagia menikah dengan saya? Apakah dia kecewa menikah dengan saya karena tak kunjung memiliki momongan? Dan apakah-apakah yang lain dengan segala kemungkinannya. Bahkan saya pernah bilang “Coba kamu menikah sama perempuan bukan saya pasti cepat dikaruniai momongan”. Dan jawabannya hanya “Ngaco kamu!”.

Call me desperate. Iya, saya memang sedang galau, baper, dan oversensitive. Galau dengan perkataan dokter, obat-obatan menyakitkan yang prosesnya harus saya lakukan setiap hari, tagihan dokter dan obat yang nilainya kadang bikin saya mengelus dada, hingga artikel-artikel kesehatan yang saya baca. Sampai-sampai saya meragukan kesetiaan suami saya. Dan pada akhirnya, ia berkata “Aku menikah sama kamu kan bukan cuma buat punya anak”. Kalimat itu, entah keberapa kalinya ia ucapkan. Ya Tuhan, jadikan selalu suami saya golongan orang-orang yang sabar.

Norak, memang saya norak. Mungkin bisa saja Tuhan bilang “Ya elah, Sist baru juga segitu doang ujiannya” dan saya mellownya sudah kayak besok nggak ada hari lagi. Padahal di luar sana banyak perempuan yang sedang menantikan momongan dan jauh lebih besar ujiannya dari saya, jauh lebih besar juga usaha dan doanya. Beruntung saya masih punya suami yang sabar dan sampai saat ini kami masih mampu membiayai segala terapi dan pengobatan.

(Baca juga: Ikhtiar Itu Bernama Program Hamil)

Di luar sana, masih banyak perempuan yang sudah menantikan selama lima, tujuh, atau sepuluh tahun hanya untuk hamil. Beruntung saya pernah hamil dua kali, di luar sana masih banyak perempuan yang masih menunggu garis testpack menjadi dua. Bahkan, seorang Lulu El Hasbu yang sudah sepuluh tahun menikah dengan satu saluran indung telur dan segala usahanya mendapatkan momongan masih bisa tersenyum optimis. Lha kenapa saya nggak?

Perkara memiliki momongan memang jadi perkara yang sensitif setelah seorang perempuan memasuki gerbang pernikahan. Rasa iri, minder, dan sedih ketika melihat teman lain sudah menggandeng anaknya pasti selalu ada. Tapi, bagi kita kaum perempuan yang sedang diuji ingatlah kita sedang bertanam pohon kesabaran. Kalau kita memupuknya dengan doa dan menyiraminya dengan usaha, Tuhan pasti akan memberikan yang terbaik. Pasti.

Nova Violita Memeluk Saya Lewat Tulisannya

Entah ini teguran dari Tuhan atau semesta punya kode keras di bulan ini saya harus berkenalan lebih jauh dengan seorang Nova Violita dan tulisan-tulisannya. Bulan ini, ia memenangkan arisan link dan mau tidak mau saya harus mengenal lebih jauh lewat tulisan-tulisan di blognya. Sungguhlah saya tertampar ketika menelusuri satu persatu tulisan di blog dan menemukan postingan berjudul “Ketika Buah Hati Tak Jua Hadir“.

Pohon kesabaran yang ditanam Mbak Nova selama lima tahun kini berbuah manis (Picture from instagram Nova Violita)
Pohon kesabaran yang ditanam Mbak Nova selama lima tahun kini berbuah manis (Picture from instagram Nova Violita)

Saya membaca tulisan di blog Mbak Nova bahwa ia dan suami menunggu hampir lima tahun untuk memiliki anak. Sedangkan saya baru menunggu tiga tahun, separuh dari kesabaran Mbak Nova. Seketika itu, saya membaca ungkapan-ungkapan kesabarannya. Pas sekali dengan kegalauan saya beberapa hari ini. Saya yakin, ini bukan kebetulan. Mungkin Tuhan sedang berkata “Lihat ini si sabar yang memetik buah manisnya.”

Di bagian lain dalam tulisan ini saya juga tertampar. Tentang kesetiaan seorang suami. Betapa terkadang saya merasa amat ketakutan suami saya akan berpaling dan mencari wanita lain lalu meninggalkan saya hanya karena kami belum memiliki momongan. Walaupun mungkin perasaan ini ada dalam setiap perempuan yang sedang berjuang seperti saya. Begitu pula Mbak Nova ketika merindukan seorang anak.

Tak punya anak bukan alasan suami untuk selingkuh. Soal habis jodoh itu urusan Tuhan. Jika ditakdirkan bakal janda punya anak berderet pun ada juga suami yang selingkuh dan meninggalkan istri. Jadi soal anak bukan alasan takdir membuat kita janda.

(Baca juga: Jangan Katakan Ini Pada Perempuan yang Belum Memiliki Anak)

Saya belajar banyak dari kesabaran Mbak Nova. Lima tahun ia dan suami menanti. Lima tahun itu pula ia rindu akan seorang bayi. Bahkan, saya seharusnya patut bersyukur bahwa saya tinggal di kota besar yang mana akses kesehatan sangat mudah. Sementara Mbak Nova harus berpasrah pada dokter kandungan di kota kecil tempat tinggalnya dan menempuh usaha lain seperti pijat, pengobatan alternatif, atau minum ramuan. Namun toh sekarang  ia sudah memetik buah kesabarannya. Kini ia memiliki Abdul Hamid Firdaus yang hampir berumur dua tahun.

Untuk kalian, perempuan yang sedang sama-sama berjuang. Saya sarikan tip menguatkan diri dari tulisan Mbak Nova Violita saat dalam penantiannya memeroleh buah hati:

  1. Rajin berdoa dan ibadah sebagai sumber energi positif.
  2. Saling menguatkan, mendamaikan, dan menasihati dengan pasangan di saat down dan putus asa.
  3. Jangan terpancing emosi, apalagi jika ada yang berkata “Percuma harta berlimpah tapi nggak punya anak”.
  4. Menepis rasa cemburu dan sedih ketika melihat teman yang sudah menikah terlebih dahulu memiliki anak.
  5. Tetap berusaha, ikhtiar dengan program hamil medis dan nonmedis.
  6. Menepis perasaan ditinggal suami, justru usahakan selalu mesra dengan suami.
  7. Mencari panutan yang baik.

Terdengar gampang ya, tapi pasti sulit mempraktikannya di tengah tekanan sana-sini. Tapi hey, ini adalah bagian dari kita memantaskan diri. Kalau kamu tidak mau memantaskan diri, bagaimana Tuhan mau memantaskan dirimu sebagai orang tua nantinya #selfreminder.

Hamil dan tidak hamil itu sudah diatur di Lauh Mahfudz, kita di dunia ini hanya menjalani hidup. Jalan yang kita tempuh adalah bagaimana kita menyikapi dan mensyukurinya. Dengan bersyukur insyaallah nikmat hidup akan selalu ditambah. Apakah nikmat yang ditambah itu adalah sosok anak yang dinanti? Wallahualam. Karena rezeki itu banyak rupa dan wajah. Kesehatan, keluarga yang rukun, ekonomi yang berkah, persahabatan, dan kehangatan adalah rezeki yang tak dapat dihitung. – Ketika Buah Hati Tak Jua Hadir by Nova Violita

Mengenal Nova Violita

Sama halnya seperti saya, ada bagian dari rumah maya Nova Violita yang berisi kegalauan dan kegundahgulanaan dirinya ketika sedang menanti momongan. Bahkan dalam tulisan-tulisan terdahulunya, Mbak Nova kerap membuat puisi tentang kerinduan akan hadirnya momongan dalam kehidupan pernikahannya. Sama seperti blog saya, ada beberapa bagian di dalamnya yang memang diperuntukkan untuk mencurahkan isi hati dan berbagi.

Selain berisi tentang curahan hatinya, tulisan-tulisan dalam blog perempuan yang sehari-hari bekerja sebagai staff administrasi di PTAIS yang saya suka adalah ketia ia hamil. Saya tahu benar rasanya sudah menunggu lama kemudian hamil. Pasti ada rasa deg-degan bercampur dengan takut akan kehilangan janin. Dalam tulisan “Alhamdulillah Akhirnya….:)” saya ikut merasakan kebahagiaan Mbak Nova. Selain tulisan tentang menunggu kehamilan, blognya pun berisi tulisan-tulisan tentang parenting dan tip yang mengajak kita pada kebaikan.

(Baca juga: Mengintip Blog Niche Parenting ala Myra Anastasia)

Berjudul Nashhah yang artinya mengajak ke kebaikan. Sejak awal membuat blog tujuan Mbak Nova memang nggak pernah berubah. Perempuan yang sehari-hari tinggal di Airmolek, Pasir Penyu, Indragiri Hulu, Riau ini ingin menulis yang baik-baik Ia tidak mau menulis yang memancing perdebatan apalagi kericuhan. Mbak Nova tentu saja punya alasan. Jika kita menulis sesuatu yang baik, tentu bermula dari pikiran baik, dan mencoba membenahi diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Saya suka sekali cara berfikir yang seperti ini.

nashah-nova-violita

Untuk kamu yang ingin tahu lebih banyak tentang Mbak Nova, tentang kesabarannya dalam menantikan anak, tentang kerinduan-kerinduan yang dituangkannya dalam tulisan, kamu bisa bersilaturahmi dengannya melalui berbagai media:

Facebook: www.facebook.com/novanovili
Twitter : @novanovili
Instagram: @nova_violita
Blog : www.novanovili.com dan www.ummihamid.blogspot.com

ratna dewi

67 Comments
Previous Post
Next Post