Media Sosialita, Belajar Jadi Sosialitanya Media Sosial

Mau jadi selebgram dan punya follower banyak tapi foto masih pas-pasan bahkan ngeblur
Pengen jadi selebblog tapi kualitas tulisan masih seadanya
Pengen jadi blogger profesional tapi baca Google Analitik aja masih gagap
Pengen jadi blogger dengan sekali posting berapa juta atau puluhan juta tapi traffic sehari masih mengenaskan
Pengen di-endorse fasilitas mewah kayak Youtuber terkenal tapi kualitas dan editing video masih seadanya

Hmmmm piye toh?

Ya rasanya kira-kira begitulah setelah selesai membaca buku Media Sosialita: Eksis Narsis Jadi Daring Darling-nya Joy Roesma dan Nadia Mulya. Rasanya tertohok dan belum ada apa-apanya kalau dibandingkan dengan para selebritas social media yang kerap wira-wiri di gemerlapnya event dan dunia endorsement ibukota.

(Baca juga: 7 Hijabers Cantik yang Nggak Bikin Menyesal Kalau Kamu Follow Akun Instagramnya)

Sebagai yesterday afternoon blogger yang sedang meniti karir di dunia digital rasanya saya nggak ada apa-apanya dan harus lebih banyak belajar banyak hal kalau dibandingkan mereka. Inilah salah satu alasan kenapa ´melihat´ ke atas tak ada salahnya jika menimbulkan semangat untuk belajar dan jadi lebih baik lagi.

Aihhh, jadi penasaran nggak sama bukunya? Nih saya kasih blurb-nya:

Blurb

Apakah kamu seorang Xenial yang ingin nostalgia ke zaman ketika internet lebih dikenal sebagai Indomie telur kornet? Punya pengalaman di-catfish saat kencan online? Resah punya anak yang nggak bisa lepas main gim atau chatting? Menjadikan Instagram sebagai referensi resto hits, motivasi kurus, atau inspirasi liburan? Ingin jadi selebgram? Resah setiap jelang pilkada karena media sosial menjadi pemicu perpecahan? Ingin quit kerja kantoran dan mendulang uang dari jualan online?

Jika jawab YA, kamu wajib baca buku ini! Delapan bab has everything for everyone. Kumplit plit mengupas segala hal yang berkaitan dengan the most happening thing in the universe at the moment Media Sosial! Buku ini juga memuat tips dan insights dari para pelaku industri digital agar pembaca bisa memanfaatkan dan monetize akun media sosial. Dijabarkan dengan lugas, ringan, namun tentunya sarat cerita menggelitik yang tidak diketahui (dan tidak ingin diketahui) banyak orang. Oh, betapa candu media sosial bisa menjadi madu atau racun.

Setelah membaca buku ini, kamu tidak hanya akan menjadi warganet yang lebih mapan, tetapi menjadi seorang Media Sosialita yang up to date, berwawasan, dan pantas menjadi panutan.

Review

Judul: Media Sosialita: Eksis Narsis Jadi Daring Darling
No. ISBN: 9786020384740
Penulis: Joy Roesma, Nadia Mulya
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tanggal terbit: April – 2018
Jumlah Halaman: 370

Pecah telur sudah rasanya setelah 3 tahun menunggu buku Nadia Mulya dan Joy Roesma sampai akhirnya kolaborasi mereka hadir kembali dan jadi bacaan saya. Buku-bukunya yang selalu hadir dengan bahasa menggelitik disertai dengan cerita-cerita intrik di baliknya membuat saya penasaran untuk menunggu lagi dan lagi karya duo mamah muda ini. Nggak heran, kalau setiap ke toko buku saya selalu searching apakah duo mamud ini sudah mengeluarkan buku baru atau belum karena terakhir kali saya baca karya mereka tahun 2015.

(Baca juga: Book Review: Foodie and The City, Panduan Kuliner ala Mamah Muda)

Bahasanya yang santai, gaul, tapi tetap sarat informasi membuat buku-buku Nadia Mulya dan Joy Roesma jadi bacaan wajib buat saya. Yah, biar tambah gaul dan semakin banyak wawasan informasi. Ya karena bukan melulu aspek hedon dan hura-huranya yang dikupas dalam buku tetapi semua-muanya. Nggak heran sih kalau buat menelurkan buku yang satu ini konon duo mamud ini harus melalui proses menulis dan riset selama satu tahun biar informasi yang didapat benar-benar lengkap dan valid.

Balik lagi ke soal isi buku. ¨Media Sosialita: Eksis Narsis Jadi Daring Darling¨ mengupas hampir  semua-muanya tentang dunia digital. Nggak melulu soal bagaimana ´cari duit´ dari dunia digital melainkan juga tentang sejarah, gap antargenerasi (dari babyboomers sampai Alfa), hingga analisis dari sisi psikologis. Buat yang sedang meniti karir di dunia digital, nggak ada salahnya buat membaca buku ini sebagai penambah wawasan.

Sama seperti pada buku-buku Joy dan Nadia sebelumnya yang juga sudah saya baca dan punya, gaya bahasa gaul, menggelitik, sedikit sarkas, serta satire bercampur menjadi satu di dalamnya. Buat saya, buku ini bukan bacaan yang berat soal social media atau dunia digital, tetapi juga nggak serta-merta bisa diremehkan karena banyak informasi berbobot di dalamnya. Mulai dari sejarah, tips n trik, pandangan psikologis, opini pakar-pakar yang berkecimpung di dunia media sosial, hingga informasi mendalam yang tentunya didapat melalui serangkaian riset yang dilakukan Nadia dan Joy ada di sini.

(Baca juga: Ketika Perkara Hamil Menjadi Rumit)

Jangan sebut Joy dan Nadia kalau nggak bisa membeberkan fakta-fakta mencengangkan di buku keempat mereka ini. Yang paling mencengangkan dan menohok saya sebagai blogger dan influencer kroco mumet adalah soal berapa biaya sekali posting seleb-seleb social media. Saking sukanya sama halaman itu dan jadi motivasi saya buat bisa kayak mereka, saya foto paragrafnya dan saya unggah di instastory (hehehe, spoiler dikit nggak apa-apa ya Mbak Nad n Joy?). Surprisingly, banyak teman dan follower yang ´ngaruhke´ atau berkomentar. Dari sekedar berdecak kagum, wondering kapan saya dan dia berharga sebesar itu, sampai penasaran sama buku apaan sih yang lagi dibaca.

Nggak salah memang kalau saya memasukkan buku ini jadi semacam motivasi buat saya yang masih pemula ini untuk belajar dan jadi lebih baik lagi. Pasalnya, kadang saya yang kroco mumet ini belagak sombong pasang harga buat sekali posting di blog atau media sosial padahal influence dari apa yang saya posting belum terlalu besar. Makanya, nggak ada salahnya kalau saya jadi pengen mempraktikkan berbagai tips yang diberikan di dalam buku, dari tips buat OOTD, monetize social media, menjaga attitude, fotografi, hingga bagaimana bersikap nantinya pada anak-anak kami yang bakalan lebih sering terpapar social media dan gadget (ya gimana lagi donk, emaknya blogger, bapaknya programmer, tiap hari yang ditatap gadget).

Yang saya suka lagi dari buku ini adalah pemaparan banyak pihak soal social media dari berbagai sudut pandang. Nadia dan Joy benar-benar niat untuk melakukan wawancara mendalam baik itu dari praktisi hingga pengamat. Nama-nama semacam alm. Oka Mahendra (mantan pacar awkarin), Nukman Luthfie, Lambe Turah, hingga Roslina Verauli menambah validitas data dan materi tulisan dalam buku ini.

Memiliki tebal 370 halaman bukan berarti buku ini tak memiliki kekurangan. Hampir semua aspek dibahas dalam buku ini namun platform seperti Youtube yang menghasilkan Youtuber dengan berpenghasilan nggak main-main (yang sekarang banyak jadi primadona) masih kurang ter-cover di sini. Padahal, sekarang justru Youtube menjadi ´jajahan´ semua orang dari yang benar-benar rakyat jelata bukan siapa-siapa, selebgram, artis, mantan TKI, bahkan pejabat (sekelas presiden) pun punya akun Youtube dan aktif upload video. Nama-nama seperti Agung Hapsah atau Ria SW melonjak menjadi idola baru di dunia channel gambar gerak. Saya mungkin bisa berharap buku selanjutnya ada yang membahas soal Youtube atau media sosial baru yang mungkin saja akan semakin bertumbuh seiring perkembangan zaman.

Jadi, recommended nggak bukunya buat dibaca? Kata saya sih iya, apalagi kalau kamu mengaku sebagai blogger atau influencer. Atau bisa juga dikasih buat bacaan generasi-generasi babyboomers yang sekarang akan segera jadi eyang-eyang biar mereka terbuka pikirannya kalau pekerjaan bukan sekadar pegawai negeri atau punya posisi di corporate. Biar mereka juga tahu bahwa yang sepertinya hanya diam di rumah juga bisa menghasilkan uang atau justru jadi kaya dari internet. Jangan melulu diburuksangkakan hasil dari ´ngepet´, wkwkwk.

 

15 Comments
Previous Post
Next Post