Cerita Kehamilan Ketiga: Catatan Kehamilan di Trimester Ketiga

Satu hal yang harus saya syukuri di kehamilan ketiga ini adalah bisa memasuki trimester ketiga dengan lancar dan sehat, satu hal yang belum pernah saya alami di kehamilan-kehamilan sebelumnya. Kalau ditanya rasanya gimana pastilah yang pertama senang dan excited, tapi selain itu saya juga deg-degan. Masih tersisa rasa trauma yang dulu-dulu. Namun untungnya hasil belajar kelas privat hypnobirthing bikin saya lebih mudah berdamai dengan kenyataan dan terus memberikan sugesti positif pada diri serta kehamilan.

(Baca juga: Trauma Healing Pascakeguguran Berulang)

Masuk trimester ketiga ini jadi pengalaman baru buat saya dan suami. Setelah menata hati untuk berdamai dengan keadaan dan memberikan afirmasi positif pada janin, masih ada tantangan lain yang siap ditaklukan di depan mata. Yang paling kerasa untuk saya adalah perubahan badan yang mulai terasa berat. Selain terasa berat, mulai banyak ketidaknyamanan yang terasa. Mulai dari jejari tangan yang sakit kalau bangun tidur, kaki sakit saat digunakan jalan, punggung sering sakit apalagi kalau salah duduk dan tidur, susah menentukan posisi tidur, dada yang sesak, sampai tulang vagina yang nyut-nyutan.

(Baca juga: Cerita Kehamilan Ketiga: Kebiasaan-Kebiasaan Baru di Rumah)

Tapi biarpun bergelut dengan banyak ketidaknyamanan, saya nggak boleh mengeluh. Bahkan malah harus bersyukur karena ini adalah hal yang saya idam-idamkan sejak dulu. Bahkan mungkin di luar sana banyak perempuan yang pengen merasakan ketidaknyamanan ini sebagai bagian perjuangan menjadi perempuan yang seutuhnya. Tapi toh nyatanya setiap hari tetap saya harus berjibaku dengan ketidaknyamanan ini.

Untuk menguranginya, saya pun mengambil kelas yoga prenatal di Pro-V Clinic. Kelas yoga prenatal ini selain berfungsi untuk olahraga juga memiliki banyak manfaat lainnya seperti meningkatkan bonding calon mama dan bayi, memberikan efek relax, dan memosisikan bayi pada posisinya. Selain itu, prenatal yoga ini juga menunjang banget buat persalinan normal, metode persalinan yang pengen banget saya jalani di kehamilan ketiga ini.

Drama Posisi Bayi

Di trimester ketiga ini saya juga punya banyak PR khususnya soal posisi bayi. Di usia kehamilan 28 minggu, posisi bayi saya masih sungsang alias melintang. Prof Jacoeb dan dr Nadir yang biasa melakukan USG pada saya menyarankan untuk banyak sujud. Ini persis yang dilakukan ibu saya dulu pas hamil adik saya. Beliau diharuskan sujud sekitar 30 menit setiap sore. Dan ini juga yang saya lakukan untuk membuat posisi kepala bayi berada di bawah.

Selain sujud selama beberapa menit (yang rasanya sumpah bikin engap dan keleyengan pas bangun), saya juga melakukan banyak cara yang disarankan orang. Saya jadi rajin ngepel dengan posisi jongkok. Tiap 2-3 hari sekali bahkan saya rajin ngepel. Efeknya rumah juga jadi bersih, haha. Selain itu tentunya ya dengan prenatal yoga. Sementara ada cara lain juga yang disarankan beberapa orang dan juga saya baca dari beberapa artikel yaitu memberikan afirmasi pada bayi dengan cara ngobrol dengan meminta janin mutar untuk berada pada posisi kepala di bawah. Konon ini bisa memicu janin memosisikan dirinya pada posisi yang semestinya.

Hasilnya gimana? Di kehamilan minggu ke 32 usaha saya berhasil. Saat di-USG posisi kepala bayi sudah di bawah. Bahkan dr Nadir Chan udah kasih selamat kalau usaha saya selama sebulan nggak sia-sia. Saya juga udah senang banget. Walaupun begitu, saya masih deg-degan takut posisi bayi muter lagi. Saya sempat tanya sama Bu Lanny Kuswandi soal kemungkinan posisi bayi berputar kembali dan ternyata kemungkinan itu ada. Bisa karena postur ibu saat duduk atau memang posisi bayi masih longgar. Tapi kemungkinannya memang kecil untuk balik lagi. Pas saya tanya sama instruktur yoga saya juga kemungkinannya ada tapi kecil. Saya optimis donk dengan posisi  bayi yang kepalanya sudah di bawah. Tinggal latihan gerakan pendukung aja biar posisinya cepat masuk ke panggul.

(Baca juga: Cerita Kehamilan Ketiga: Ikut Kelas Hypnobirthing)

Sayangnya, pas kontrol di usia kandungan 35 minggu posisi bayi berubah lagi. Kali ini melintang alias kepala dan kakinya sama-sama di samping. Pantesan aja akhir-akhir ini kok gerakan baby-nya banyak di samping bukan di atas dan bawah. Ternyata walaupun prosentasenya kecil buat muter lagi meski kepala sudah di bawah, kemungkinan itu masih tetap ada. Prof Jacoeb bilang bisa aja posisi bayi masih longgar kala itu jadi bisa berputar lagi. Untuk itu, Prof Jacoeb kasih PR lagi buat saya untuk sujud setiap hari.

Saya juga masih ikut prenatal yoga. Bahkan saya bilang ke instrukturnya kalau posisi bayi muter lagi dengan kepala mengarah ke atas. Dari situ saya dikasih beberapa rekomendasi gerakan buat memosisikan kembali posisi kepala bayi ke bawah. Gerakannya pun saya praktikin di rumah. Sayangnya si baby yang gemar akrobat ini masih tetap anteng dengan posisi melintang saat USG terakhir di usia kandungan 37 minggu. Dengan posisi yang seperti ini, 2 dokter yang memeriksa saya pun menyarankan buat operasi caesar.

Dulu saya dalam hati suka merasa ibu-ibu yang gagal bersalin pervaginam dan harus menyerah pada SC itu lebay banget. Ternyata rasanya emang kayak patah hati. Sungguh, kayak gimana gitu walaupun pada akhirnya saya ikhlas dan terus mengafirmasi ke bayi ¨Gimanapun caranya kamu datang ke dunia ini, kami tetap bahagia¨. Tapi ya emang ada saat-saat saya mellow plus drama gitu. Liat birthing ball yang nganggur mellow, baca-baca lagi soal hypnobirthing juga mellow.

Saya bahkan sempat bilang sama suami ¨Yang kemarin-kemarin udah kita lakuin sia-sia donk?¨. Usaha yang kemarin-kemarin itu maksudnya hypnobirthing, prenatal yoga, latihan-latihan saya di rumah, hingga nungging-nungging sampai sesak.

Tapi suami bilang ¨Ya nggak lah, kan bisa berguna buat adeknya dedek ntar. Lagian sampai semalam sebelum kamu periksa lagi ke dokter kan juga masih diusahakan buat muterin posisi¨.

Huhuhu aku mellow lagi.

Bagaimanapun caranya kamu lahir ke dunia ini, Nak. Kamu adalah sesuatu yang sudah kami nantikan selama bertahun-tahun.

Berdamai dengan Susu

Sejak USG 4D dengan dr Yudit dan diharuskan minum susu, suami pun akhirnya keukeuh marekeuh mewajibkan saya minum susu. Padahal saya bukan penyuka susu, malah cenderung menghindari susu kecuali kepepet banget misalnya perut panas habis makan pedas. Itupun minumnya pakai tahan nafas takut muntah. Tapi karena ini ujung-ujungnya buat kebaikan bayi ya udah saya nurut aja.

(Baca juga: Ingin Konsumsi Susu Kambing Etawa? Ini Dia 5 Merk yang Terpopuler di Indonesia!)

Saya juga sempat tanya sama Prof Jacoeb soal keharusan minum susu ini. Sejak awal, Prof Jacoeb memang nggak mengharuskan saya mengonsumsi susu. Apalagi Prof Jacoeb sempat bilang ¨Ibu saya dulu nggak minum susu kok waktu hamil, anaknya bisa jadi dokter¨ dan ini jadi senjata saya, haha. Lagian Prof Jacoeb juga udah kasih saya kalsium yang biasa dikonsumsi buat sehari-hari.

Pas saya nanya keharusan minum susu ini, Prof Jacoeb bilang nggak harus kok. Kalau harus kan sifatnya memaksa, tapi kalau mau minum susu ya monggo. Itu pun nggak harus susu hamil. Berbekal ini, suami pun tetep keukeuh nyuruh saya buat minum susu. Saya nego oke minum susu asal bukan susu hamil. Akhirnya pilihan susu jatuh pada susu UHT lowfat rasa coklat yang nggak terlalu manis dan eneg saat dikonsumsi.

(Baca juga: Cerita Program Hamil Ketiga: Hallo, Prof Jacoeb)

Say Hi untuk Segala Perubahan Tubuh

Masuk trimester ketiga yang paling berasa adalah perubahan tubuh, ya bentuk ya rasa. Kalau di trimester 2 saya masih bisa melenggang bahkan nggak kelihatan kalau sedang hamil pas difoto, nah di trimester 3 ini perutnya udah kelihatan buncit dan pantatnya udah offset ke belakang, haha. Selain perut dan pantat, bagian lain yang keliatan membesar adalah pipi dan hidung, apalagi kalau pas difoto.

Saya sih nggak masalah dengan perubahan bentuk tubuh ini, toh ini kan kodratnya wanita hamil. Hanya saja, beberapa baju dan celana jadi nggak bisa dipakai lagi. Padahal baju-baju saya termasuk yang gombrong lho, nggak ketat-ketat. Baju bepergian pun jadi semakin sedikit. Baju di rumah juga gitu. Daster-daster piyama sudah semakin sempit. Baju tidur juga nggak semuanya bisa dipakai. Alhasil, saya jadinya pakai kaus-kaus suami itu pun yang di dia kegedean. Pun dengan ukuran bra. Saya jadi beli kait extention khusus bra biar pas pakai bra nggak engap karena sesak.

masuk trimester 3 badan gampang capek

Selain baju, sandal dan sepatu pun jadi kesempitan. Apalagi kaki saya membesar dalam artian secara harfiah. Selain itu, kadang kaki yang sebelah kanan jadi sering bengkak di minggu-minggu akhir kehamilan apalagi kalau sudah duduk terlalu lama. Alhasil, beberapa sandal dan sepatu terpaksa diliburkan terlebih dahulu karena nggak muat walau sudah dipaksakan pas pakainya.

Selain tubuh yang berubah bentuk alias membengkak, beberapa bagian juga jadi sakit banget. Telapak kaki, tulang-tulang di telapak tangan, dan tulang vagina adalah bagian-bagian tubuh yang kerasa sakit banget apalagi kalau bangun tidur, kayak kram dan susah digerakkan. Alhasil gerakan saya pas hamil tua ini jadi pelan banget, kayak siput, haha. Awalnya saya sempat was-was dengan segala ketidaknyamanan ini. Tapi setelah ditanyakan sama Prof Jacoeb dan instruktur prenatal yoga saya, katanya semua ini hal yang lumrah karena faktor hormonal. Kalo begitu sih oke aja. Ini sensasinya hamil. Untungnya, suami saya dengan sukarela selalu mau jadi tukang pijat dadakan.

Bagaimana pun rasa nggak nyamannya hamil di trimester ketiga ini, tetap aja dinikmati dengan senyum karena di luar sana bahkan ada perempuan yang pengen banget merasakan sakit dan nggak nyamannya seperti ini tapi belum bisa. Mungkin kalau nanti si baby udah lahir, saya akan kangen lagi masa-masa kayak gini dan jadi ´ratu´ yang punya hak prerogatif penuh dan apa-apa pengen selalu dituruti sama suami.

 

1 Comment
Previous Post
Next Post