Cerita Program Hamil Ketiga: Akhirnya Garis Dua

Rasanya kaget, shock, senang, dan excited kala pagi itu sengaja testpack tapi yang didapati justru garis dua. Padahal ini jauh dari ekspektasi. Saya sudah lempeng selempeng-lempengnya dan biasa banget testpack trus garisnya cuma satu. Pasalnya, setiap mau ada tindakan apa atau konsultasi ke Prof Jacoeb biasanya saya selalu testpack duluan. Biar nggak kecele sih. Nah, pagi itu, justru di luar ekspektasi saya. Testpack menunjukkan garis dua padahal sudah ada beberapa acara blogger yang didaftarkan.

Entah mengapa saya selalu tahu hamil di saat-saat yang mengejutkan. Maksudnya adalah di saat-saat saya dan suami lagi santai banget, yang nggak menggebu-gebu pengen punya anak. Tapi bukan berarti kami nggak pengen punya anak ya. Ya intinya, tahu hamilnya di saat kami sedang asyik dengan aktivitas kami khususnya pekerjaan. Seperti yang saya alami di kehamilan ketiga ini.

Saya nggak pernah nyangka dan berhari-hari nggak percaya saat testpack menunjukkan garis 2. Padahal, hari-hari dimana testpack menunjukkan garis 2 itu adalah hari-hari saya sedang sibuk dan sangat menikmatinya. Tapi ya memang harus ada yang dikorbankan. Ini adalah kado terindah buat saya dan suami. Walau nggak menyangka akan se-surprise ini akhirnya pun saya harus memilih. Saya rehat sejenak dari aktivitas event blogger dan memilih untuk banyak-banyak istirahat di rumah demi kehamilan ini.

Sampai saya menulis tulisan ini pun (kehamilan masuk bulan kelima), saya masih nggak percaya. Tapi ya inilah adanya. Allah menjawab doa dan ikhtiar kami dengan caranya sendiri yang nggak pernah disangka-sangka. Padahal saya tengah berada di tengah-tengah masa pengobatan. Tapi ya itulah takdir, yang dinanti kadang nggak kunjung datang. Dia datang justru saat kami sangat santai. Semuanya tetap harus dinikmati. Jadi, begini kronologinya hingga akhirnya takdir membawa kami ke fase dimana melihat kembali testpack bergaris 2:

– 21 Januari 2018

Tanggal ini adalah mens pertama saya setelah mundur sekitar 10 hari dari bulan sebelumnya. Di Bulan Januari ini saya masih aktif suntik ILS, dilanjut dengan tes ASA. Bahkan bulan ini saya masih sempat facial ke klinik kecantikan. Namun siapa sangka ternyata semua prosesnya akan dihitung dari tanggal ini.

(Baca juga: Cerita Program Hamil Ketiga: Suntik ILS dan Tes ASA)

– 10 Februari 2018

Di tanggal ini adalah jadwal tes lab prolaktin buat saya (hari ke 21 dari haid sebelumnya). Saya masih ingat, jarang banget bahkan hampir nggak pernah, saya tes prolaktin sendiri ke Sammarie naik Transjakarta pulang pergi, suami hanya mengantar dan jemput dari rumah ke halte busway dekat rumah. Suami nggak bisa menemani hari itu karena ada bapak, ibu, dan adiknya di rumah.  Esok harinya bapak mertua dan adik ipar saya akan berangkat umroh. Saya masih nganterin ke bandara.

(Baca juga: Cerita Program Hamil Ketiga: Menghadapi Berbagai Tes Laboratorium)

– 12 Februari 2018

Hari ini adalah jadwal konsultasi dan baca hasil ke Prof Jacoeb. Biasanya, sebelum konsultasi saya akan testpack dulu paginya. Namun, berhubung belum 30 hari dan belum ada tanda-tanda telat haid makanya saya nggak testpack (padahal di hari-hari ini kalau dihitung udah hamil). Baca hasil tes lab di hari itu pun nggak begitu baik hasilnya. Prolaktin yang tadinya sudah turun di angka 40an naik lagi ke angka 70 (hampir dua kali lipat).

Sempat sedih sih karena kemarin udah optimis semakin turun, eh ini malah makin naik. Padahal jauh di balik itu, naiknya karena ternyata udah hamil. Cuma karena hari itu belum tahu kalau hamil dan ndilalah banget kalau cuma baca hasil di Prof Jacoeb nggak pakai USG transvaginal jadi memang nggak ada clue hamil sama sekali. Hari itu Prof Jacoeb menyarankan saya buat infus penurun prolaktin. Surat rujukan pun dibuat buat sewaktu-waktu kalau mau rawat buat masukin infus. FYI, buat infus ini katanya dibutuhkan sekitar 12 jam buat satu botol, jadi saya memang harus telepon dulu buat reservasi tempatnya.

(Baca juga: Hallo Hiperprolaktin)

Selain hari itu baca hasil tes lab prolaktin, saya juga baca hasil tes ASA dan tes TORCH (tahap 2). Dari hasil tes ASA, ada kemajuan yaitu turun 3 tingkat, tapi masih ada PR lagi buat turunin 5 tingkat sampai jumlahnya puluhan (hari itu masih ribuan). Jadi masih harus lanjut untuk suntik ILS satu periode lagi. Sedangkan hasil tes TORCH juga nggak begitu bagus karena angkanya cuma bergeser sedikit. Saya masih harus lanjut minum obat untuk 3 bulan ke depan.

– 7 Maret 2018

Saya masih ikut event blogger di Morrisey Hotel, Kebon Sirih. Sebelumnya juga masih bonceng motor ke Kemayoran buat besuk sepupu saya yang habis operasi payudara. Nggak ada rasa-rasa hamil sama sekali. Besoknya pun masih ada event blogger. Malamnya, masih sempat dijapri Awan (Imawan Anshari) yang nawarin ikutan event hari Jumatnya tapi saya tolak karena rencananya Hari Jumat mau infus buat menekan prolaktin.

– 8 Maret 2018

Hari itu saya ingat betul, masih ada event blogger pagi hari jam 10.00 di Wijaya. Mengingat infus buat menekan prolaktin rencananya mau dilakukan Hari Jumat, maka Kamis-nya saya harus reservasi kamar terlebih dahulu dengan menelepon ke Sammarie. Sebelum menelepon buat reservasi kamar, saya dan suami berinisiatif buat testpack dulu. Takutnya nanti kami ´kecolongan´ pas tes prolaktin eeehhh ternyata malah udah hamil (karena sampai saat mau infus belum haid juga). Ya walaupun saat itu pesimis kalau sudah hamil juga sih. Soalnya saya sudah biasa banget telat haid, berasa badan nggak enak kayak hamil, eeehhh ternyata zonk alias nggak hamil. Besok-besoknya yang ada malah haid, huft.

(Baca juga: Cerita Program Hamil Ketiga: Bye Viagra, Welcome Menstruasi)

Tapi pagi itu justru saya kaget. Berbekal testpack sisa yang masih ada di lemari, saya ngetest pagi itu. Karena udah biasa banget hasilnya negatif, jadi setelah dicelupin 30 detik saya tinggal aja pipis dan cuci-cuci. Setelah selesai pas dilihat lho kok garis 2. Dalam hati sempat bilang ¨Nggak salah nih?¨. Saya sempat nggak percaya, asli. Takutnya ngigo atau khayalan semata karena saking pengennya hamil. Setelah itu, langsung deh saya tunjukan hasilnya ke suami (padahal biasanya cuma bilang ¨Masih satu ya, aku buang nih¨). Suami langsung senyum-senyum dan peluk, sementara sayanya masih nggak percaya. Pagi itu rasanya kayak ngawang-ngawang.

Habis menunjukan hasil testpack ke suami, saya solat subuh. Pas solat subuh juga kayak yang ngawang-ngawang, antara ada dan tiada. Takutnya cuma mimpi atau halu. Trus habis itu saya makin bingung dan takut. Kehamilan ketiga ini dihati-hati banget dan rasanya takut kalau mau gerak atau petakilan sedikit saja. Apalagi hari itu ada event blogger dimana nggak bisa dibatalin di detik-detik terakhir pas hari H karena saya pun sudah komit.

Akhirnya, suami pun tetap mengizinkan ke event blogger dengan catatan saya harus berhati-hati karena hamil muda. Saat itu perkiraan usia kandungan saya sekitar 6 minggu kalau dihitung dari HPHT. Karena takut, suami malah jadi nggak mau nganterin naik motor (karena takut macet dan sayanya capek diboncengin). Sementara saya nggak mau naik taksi online karena kalau pagi jalanan dari rumah saya macet. Makanya diputuskanlah naik Transjakarta (walaupun pagi itu juga berdiri dan sesak di Transjakarta) karena waktu tempuhnya sebentar dilanjut naik ojol dengan catatan abangnya suruh hati-hati bawanya.

Pulangnya, saya disuruh naik taksi online. Saya iyain aja mumpung pas pulang juga belum jam macet. Di lokasi acara saya juga diimbau hati-hati, nggak banyak petakilan, serta jangan makan sembarangan (makanan mentah atau terlalu pedas). Saya okein aja sih, toh buat kebaikan saya. Oh ya, selama hari pertama ketahuan hamil ini saya belum ada mual muntah. Tapi dari kemarin memang gampang capek dan payudara udah nggak enak banget, rasanya kayak mau haid. Trus sering banget bolak-balik pipis dan jadi laperan. Awalnya saya pikir, saya yang kebanyakan minum dan kurang makan. Tapi ternyata eh ternyata malah hamil. Alhamdulillah.

– 9 Maret 2018

Karena masih nggak percaya saya hamil, saya suruh suami buat beli testpack lagi. Takutnya testpack yang kemarin rusak karena murahan, hahaha (testpack 5 ribuan gitu loh). Saya suruh suami buat beli testpack merk terkenal yang agak mahalan. Karena nggak dapat testpack yang celup, suami akhirnya beli testpack yang dipipisin beberapa detik itu. Paginya saya test lagi dan ternyata beneran garis 2. Malahan pakai testpack yang ini hasilnya jelas banget.

Tanpa ba-bi-bu paginya (jam 8) kami langsung bikin perjanjian buat konsultasi ke Prof Jacoeb. Semuanya seperti sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa, pas banget hari itu, Jumat, adalah jadwal Prof Jacoeb praktik. Jadi nggak usah galau menunggu terlalu lama buat konsultasi perkara kehamilan ini. Hmmm coba kalau Hari Sabtu atau Selasa ketahuannya, saya harus galau menunggu Senin atau Jumat, hari dimana Prof Jacoeb praktik.

Lagi-lagi dengan naik Transjakarta dilanjut dijemput suami di Blok M, saya pun pergi ke Sammarie pada sore harinya. Seperti biasa, sebelum dipanggil ke ruangan Prof Jacoeb saya terlebih dahulu harus USG transvaginal bersama dr Nadir Chan. Di situlah saatnya deg-degan kembali. Deg-degan lihat kayak apa janinnya plus takut kalau kenapa-kenapa karena jujur saja saya masih trauma dengan 2 kehamilan sebelumnya.

Tapi USG transvaginal di dr Nadir Chan saat itu hasilnya melegakan. Saya bisa melihat janinnya walau masih keciiiillll, bisa melihat denyut jantungnya, dan mendengarnya langsung. Yes, I can see the heartbeat. Rasanya campur-campur, senang, haru, dan masih nggak percaya. Saat itu juga suami yang biasanya nggak pernah dipanggil buat lihat monitor USG pun turut dipanggil. Duuuhhh rasanya pengen nangis gembira tapi malu. Yang ada terus berucap syukur alhamdulillah dalam hati.

Saat masuk ke ruangan Prof Jacoeb pun auranya juga berbeda. Meski harus menunggu lumayan lama dari pasien-pasien sebelumnya, tapi saya dan suami excited banget. Prof Jacoeb pun di mata saya kelihatan bahagia. Duuhhh lebay emang, tapi itulah kenyataannya. Sore itu kami diliputi kebahagiaan. Meskipun begitu, Prof Jacoeb tetap memberikan banyak obat buat antisipasi keguguran (melihat riwayat 2 kehamilan sebelumnya), obat TORCH (yang dosisnya dikurangi setengahnya saat hamil ini), serta rujukan buat test lab (tes glukosa, darah, urine, dan kekuatan otot rahim). Obat apa saja yang dikasih sama Prof Jacoeb beserta nominalnya, nanti saya tuliskan di paling bawah tulisan ya.

(Baca juga: Cerita Program Hamil Ketiga: Baca Hasil Lab dan Panen Obat)

Selain memberikan segambreng obat, Prof Jacoeb juga memberikan wejangan agar saya dilarang menahan pipis atau buang air besar. Pasalnya, saat menahan pipis atau BAB justru menyebabkan otot jadi mengejan saat pipis dan BAB. Hal ini bisa berbahaya bagi janin karena bisa terdorong ke bawah dan menyebabkan keguguran. Noted banget buat saya yang suka nahan pipis dan susah BAB. Harus berubah dari sekarang. Selain itu, kami juga masih harus meneruskan terapi suntik ILS (yang kini masuk ke periode kedua) hingga usia kandungan saya 3 bulan.

Sore itu, sesi konsultasi diakhiri dengan hati yang gembira. Tak lupa, Prof Jacoeb menjabat tangan saya dan suami lalu mengucapkan selamat atas kehamilan ketiga ini. Saya pun melenggang keluar ruangan dengan senang hati dengan harapan semoga kehamilan ketiga ini selalu sehat dan dikuatkan.

‘peralatan perang’ oleh-oleh dari Prof Jacoeb

Berikut rincian biaya konsultasi, obat, serta tes laboratorium setelah saya ketahuan hamil:

– Konsultasi dengan Prof Jacoeb — Rp 450.000
– USG hamil dengan dr Nadir Chan — Rp 300.000
– 30 tablet Folavit — Rp 32.262
– 30 ovula Cygest — Rp 1.194.162
– 30 tablet vitamin B6 — Rp 7.625
– 10 tablet Vomceran (obat antimual) — Rp 195.750
– 10 tablet Ranitidine (untuk asam lambung) — Rp 3.248
– 30 tablet Natabion (obat penambah darah) — Rp 62.375
– 16 tablet Isoprinosine — Rp 269.037
– 10 tablet Valvir — Rp 172.375
– 30 tablet Spirasin — Rp 257.750
– 4 tablet Zibramax — Rp 182.000
– Tes laboratorium — Rp 3.167.000

Total jenderal konsultasi, obat, dan cek lab: Rp 6.293.700

*Disclaimer: semua pemuatan biaya konsultasi, obat, dan cek lab bukan diperuntukkan buat pamer ya. Tapi sebagai gambaran biaya yang dikeluarkan jika ada pembaca blog ini yang program hamil di Prof Jacoeb dan hamil dengan kondisi seperti saya. Bismillah, semoga kita semua selalu disehatkan dan dimampukan.

 

10 Comments
Previous Post
Next Post