Memutar Ulang Memori Masa Lalu bersama Film Critical Eleven

*Disclaimer: review ini bernilai sangat subjektif dan mengandung spoiler

“Jangan lupa bawa tisu dulu kalau mau nonton Critical Eleven,” kata saya sambil memasukkan tisu ke dalam tas pada suami sesaat sebelum berangkat nonton ke bioskop.

Lalu kami ke bioskop di mall dekat rumah. Ekspektasi saya tidak terlalu tinggi sebelum nonton film ini, takut kecewa karena novelnya buat saya bagus banget . Tapi akhirnya saya tuliskan juga review filmnya di blog. FYI, ini review film pertama (dan mungkin satu-satunya) yang saya tulis di blog. Sebelumnya saya nggak pernah nulis review film. Ini semua karena film Critical Eleven begitu dekat ceritanya dengan kehidupan saya. Film ini yang bikin saya dan suami ingsrak-ingsreuk boros tisu di dalam bioskop dan berhasil keluar dengan mata sembab.

(Baca juga: Book Review: Membaca Diri di Critical Eleven)

Beda Buku, Beda Pula Film

Jangan pernah bandingkan cerita dalam buku yang diangkat ke dalam film, menurut saya itu tidak apple to apple. Makanya dari dulu saya nggak pernah nonton film yang diadaptasi dari sebuah cerita novel, takut ekspektasi saya hancur. Kalau mau ya baca bukunya aja tanpa menonton filmnya atau nonton filmnya aja tanpa membaca bukunya. Namun, idealisme saya runtuh setahun terakhir. Saya menonton beberapa film yang diadaptasi dari buku dan bukunya sudah saya baca pula.

Itulah kenapa saat mau nonton Critical Eleven di bioskop, saya nggak mau pasang ekspektasi terlalu tinggi. Saya juga tanamkan dalam diri kalau sudut pandang buku dan film tentu berbeda. Tak elok rasanya membandingkan dua cerita dengan medium yang berbeda karena bisa saja ada yang dikurangi atau mungkin ditambah. Tapi jauh dari itu, saya memang sudah lama menantikan film ini karena ceritanya dekat dengan kehidupan saya beberapa tahun lalu. Filmnya bikin penasaran. Saya juga sering banget liat akun instagram Ika Natassa yang sering upload foto ketika syuting dan fix bikin penasaran banget. Nggak heran saat instagram Critical Eleven mengumumkan trailer pada beberapa minggu lalu saya sudah penasaran dan langsung lihat tayangannya di Youtube.

Lokasi Memukau, Taburan Bintang Besar, dan Cerita yang Mengaduk Emosi

Tanya Laetitia Baskoro (Anya) seorang konsultan diperankan oleh Adinia Wirasti. Sedangkan Aldebaran Risjad (Ale) seorang petroleum engineer diperankan oleh aktor serbabisa, Reza Rahardian. Chemistry mereka memang sudah tak terbantahkan karena sebelumnya juga sudah pernah dipasangkan menjadi sepasang kekasih dalam film Jakarta Maghrib dan Kapan Kawin. Selain itu, banyak bintang besar yang bertebaran di film ini seperti Widyawati, Slamet Rahardjo, Revalina S. Temat, Hamish Daud, Astrid Tiar, Dwi Sasono, hingga Hannah Al Rahid. Tak hanya bertabur bintang besar, film ini juga menghadirkan artis pendatang baru seperti Anggika Bolsterli, Reval Hady, hingga komika Aci Resti yang di sini justru perannya jauh dari unsur komedi.

Selain bintang besar, penonton juga akan dimanjakan dengan pemandangan Kota New York. Dari sudut-sudut kotanya yang ramai hingga taman-taman indah di dalamnya salah satunya adalah Central Park. Selain New York, penonton juga disuguhi bagaimana suasana rig di lepas pantai. Buat saya ini jadi pengalaman baru soalnya selama ini cuma lihat rig dari gambar-gambar aja. Di film yang mengambil lokasi di Jakarta, New York, dan Lamongan ini penonton akan sedikit banyak diperlihatkan bagaimana situasi di rig yang menjadi latar belakang pekerjaan Ale.

Di sepertiga awal film ini, kita akan ditunjukkan oleh romantisme dan kemesraan Anya dan Ale sebagai pasangan yang sedang dimabuk cinta dari Jakarta hingga berpindah ke New York. Nggak hanya itu, penonton akan diperlihatkan bagaimana background Anya sebagai wanita karier, mandiri, dan berpendidikan tinggi serta Ale sang anak jenderal yang membelot dari keinginan ayahnya untuk masuk militer dan memilih kerja di dunia pertambangan. Seperti halnya wanita karier ibukota, kehidupan Anya dikelilingi oleh sahabat-sahabat baiknya yaitu Tara (Hannah Al Rashid), Agnes (Astrid Tiar), dan tokoh baru yang hanya ada dalam film yaitu Donny (Hamish Daud).

Buat penonton yang belum membaca bukunya mungkin adegan-adegan awal akan terasa membosankan. Bahkan saya hampir tergelincir dalam rasa bosan. Film ini lebih berani dalam menggambarkan adegan percintaan ala kaum urban masa kini. Banyak adegan ciuman di film jadi better nggak membawa anak kecil saat menonton film ini. Sementara itu untuk chemistry, Reza Rahadian dan Adinia Wirasti memang sudah nggak terbantahkan. Mereka melukiskan sebenar-benarnya pasangan yang sedang dimabuk cinta.


Klimaks dimulai saat Anya berada di ruangan dokter kandungan. Dokter kandungan yang diperankan oleh Dwi Sasono nyaris membuat saya gagal menghayati klimaks karena entah kenapa kehadiran Dwi Sasono membuat saya (dan banyak penonton lain) malah jadi tergelak walaupun di situ perannya sangat serius. Image Mas Adi yang tengil masih nggak bisa hilang ketika suami Widi B3 ini berperan sebagai dokter kandungan.

(Baca juga: Berbagai Pertimbangan Sebelum Memilih Dokter Kandungan)

Namun. bukan Reza Rahadian dan Adinia Wirasti namanya kalau nggak bisa mengaduk emosi penonton. Setelah itu barulah emosi penonton diaduk-aduk. Saya dan suami khususnya yang pernah punya pengalaman kehilangan seperti Anya dan Ale nggak pakai ba-bi-bu langsung mengalir deras air matanya. Rasanya kayak memutar ulang kaset rekaman memori kami beberapa tahun lalu. Semuanya nyaris sama, adegan per adegannya. Ketika dilihat dan diingat kembali, rasanya masih sama menyakitkannya.

Nggak tanggung-tanggung, sepanjang saya pernah nonton film sama suami ini adalah film pertama yang bikin dia nangis di dalam bioskop. Padahal suami saya bukan tipikal orang yang cengeng. Kalau saya sudah pasti nggak bisa dibendung lagi. Kalau bisa meraung-raung di dalam bioskop, saya meraung-raung deh. Rasanya sampai pengen keluar studio buat nangis di kamar mandi saking nggak tahannya, tapi sayang udah beli tiket, lol. Paduan akting Reza-Asti, script, dan musik jadi kombinasi sempurna yang bikin kami yang pernah sama-sama kehilangan harapan jadi tahu rasanya.

(Baca juga: Rabu, 5 November 2014: Azka Pergi Tanpa Pesan)

Saat menonton film ini, bukan berarti saya nggak mau move on dari kehilangan yang dulu. Satu alasan keukeuh saya pengen menonton film ini adalah untuk memastikan bahwa saya nggak sendiri, bahwa saya nggak lebay, bahwa saya nggak terlalu drama. Iya, karena perkara kehilangan sesuatu yang dicintai adalah hal yang sulit.

Film ini mengaduk emosi di dua per tiga bagian akhir filmnya. Saya sebagai penonton (yang juga punya background pengalaman yang sama dengan Anya) dinaikturunkan emosinya. Nangis-berhenti-nangis lagi-berhenti lagi. Begitulah yang terjadi. Agak subjektif memang kalau yang bagian ini mengingat saya pernah mengalami apa yang Anya rasakan.

(Baca juga: Mengenal IUFD)

Selain setting yang memanjakan mata, pemain bintang yang bertaburan, serta cerita yang mengaduk-aduk emosi ada tambahan lagi yang saya suka yaitu soundtracknya. Lagu Sekali Lagi yang dinyanyikan Isyana Sarasvati pas banget menambah sendu, mellow, dan keputusasaan yang digambarkan. Bikin saya mengeluarkan tisu lagi, menyeka air mata lagi, mengelap ingus di hidung lagi.

Overall, saya suka film ini. Ceritanya melebihi ekspektasi saya. Ceritanya juga ‘menemani’ saya, membuat saya merasa nggak sendirian menghadapi nasib yang lalu-lalu ketika kehilangan sesuatu yang sangat berarti. Terima kasih Ika Natassa, Jenny Jusuf, Monty Tiwa, dan Robbert Ronny telah menghadirkan film yang ‘mengerti’ perasaan perempuan yang pernah kehilangan asa.

Move on dari kehilangan bukan berarti melupakan semua yang telah terjadi – Ratna Dewi

 

ratna dewi

17 Comments
Previous Post
Next Post