Ketika Mantan Reporter Diwawancara

Saat masih jadi wartawan dulu, salah satu cita-cita saya bukan mewawancarai seseorang misalnya presiden, artis, atau orang-orang besar lainnya. Cita-cita saya justru ingin diwawancara, dalam artian yang positif ya. Bukan diwawancara pakai rompi orange, kalo yang itu sih amit-amit jabang bayi. Remeh memang sih, tapi buat saya keren aja kesannya jadi orang yang dikejar-kejar wartawan untuk diwawancara.

Dreams come true.

Mimpi saya akhirnya tercapai beberapa saat yang lalu. Saya berhasil diwawancara dan jadi narasumber untuk sebuah program televisi. Yah memang wawancaranya nggak lama, tapi saya tahu bahwa salah satu mimpi saya itu terwujud.

Ditelepon Teman Reporter

Jadi, ceritanya begini.

Nggak ada angin nggak ada hujan, tetiba saya dihubungi salah seorang teman saya yang masih bekerja di stasiun televisi tempat saya bekerja dulu. Buat yang mungkin belum tahu, saya dulu adalah reporter di sebuah televisi berita yang bermarkas di Pulogadung. Satu setengah tahun yang lalu saya memutuskan untuk resign jadi wartawan dan ‘tersasar’ jadi blogger. Sungguh, tersasar yang menggembirakan.

(Baca juga: Inilah Saya, Mantan Wartawan yang (Beruntung) Memilih Menjadi Blogger)

Balik lagi ke topik! Saya ditelepon teman saya yang bernama Siska. Saat menelepon saya, Siska nggak langsung menawarkan saya untuk jadi narasumber melainkan nanya-nanya soal riwayat kehamilan saya. Sepengakuan Siska, awalnya dia sempat ragu menanyakan perihal kehamilan saya karena takut saya tersinggung atau sedih. Berkat nasihat teman dekat saya, Seani, yang meyakinkan kalau saya sudah melewati masa haru-biru, Siska pun berani untuk menghubungi saya.

Siska menjelaskan kalau saat itu ia sedang menggarap program baru, nama programnya Bukan Mitos. Jadi, program ini menjelaskan dari sudut pandang ilmiah mengenai mitos tertentu misalnya mitos Ratu Pantai Selatan, mitos wewe gombel saat maghrib, dan lain-lain. Kala itu Siska sedang kebagian menggarap tema soal mitos kehamilan. Setelah diriset, mitos kehamilan yang akan ia bahas adalah soal mitos ibu hamil yang bayinya hilang di tengah-tengah kehamilan karena konon dicuri makhluk gaib.

Selain mencari narasumber yang memang katanya pernah hamil dan tiba-tiba bayi di kandungannya hilang, Siska juga membandingkannya dengan kasus blighted ovum. Kata Siska, kasus blighted ovum masih satu garis lurus. Hanya saja, blighted ovum sudah bisa dijelaskan secara ilmiah dan banyak penelitian tentang kasus tersebut. Untuk itulah, ia mencari narasumber perempuan yang pernah mengalami blighted ovum.

(Baca juga: We Lost You, Adik…)

Siska tahu dari blog kalau saya pernah mengalami blighted ovum (dan juga IUFD) yang semuanya memang saya tulis di blog. Nggak banyak orang yang mau cerita soal riwayat kehamilan yang buruk di depan media, maka Siska agak susah cari narasumbernya. Ia sudah menawarkan pada beberapa orang di kantor untuk jadi narasumber tetapi semuanya tidak mau. Akhirnya, ia pun memilih saya karena dirasa mewakili untuk jadi narasumbernya. Selain saya pernah kerja di tv yang mana katanya nggak akan kesulitan kalau diwawancara, cerita saya pun sudah go public.

Awalnya saya sempat nggak mau dan bilang ‘Yah, kok aku? Malu nih.’. Padahal sih malu-malu mau, hahaha. Tapi ya sudah, demi membantu teman saya pun mau. Saya nggak mau mempersulit teman reporter yang nyari narasumber kalau memang saya masuk kriteria. Karena saya sendiri sudah pernah merasakan susahnya nyari dan ditolak sama narsum. Akhirnya, bismillah saya mau jadi narasumber buat programnya Siska.

Siska juga sempat menanyakan apakah dokumen saya seperti dokumen-dokumen dari dokter dan hasil USG masih ada. Saya jawab masih, karena memang semua dokumen soal kehamilan saya sudah dirapikan jadi satu dalam sebuah amplop. Dokumen itu nantinya akan ikut diambil gambarnya saat liputan.

Hari H Liputan

Saya dan Siska janji untuk ketemu dan liputan pada hari Senin, 27 Februari 2017 di rumah. Konsep liputannya seperti profil tapi singkat alias bukan wawancara thok karena Siska butuh beberapa gambar untuk jadi pendukung. Sayangnya, hari itu rumah saya masih berantakan di bagian depan karena sedang bangun pagar. Namun, untungnya teman saya Seani hari itu datang jadi ada teman dan nggak kagok deh walau rumah masih berantakan.

Buat saya yang dulu reporter nggak kaget sebenarnya dengan liputan. Dulu saya liputan biasanya satu tim terdiri dari reporter, camera person, dan driver dengan peralatan pendukung yang hanya terdiri dari tripod, mic, dan kamera video yang biasa dipakai untuk liputan televisi. Namun, yang saya agak kaget adalah liputan kali ini peralatannya jauh lebih lengkap. Dari kamera DSLR, tripod, slider, satu koper lensa kamera, clip on, sampai lighting. Yah, maklum saja lah mungkin karena program CA (current affair) yang memang harus memberikan gambar-gambar indah. Sementara dulu karier saya mentok hanya sampai reporter news daily, indepth, dan investigasi.

FYI, program CA itu biasanya memang untuk wartawan yang sudah senior atau berpengalaman karena butuh persiapan yang sangat matang untuk liputan. Dari mempersiapkan tema, narasumber, budget, jadwal, hingga konsep liputan. Makanya, kalau di tempat saya kerja dulu kameraman dan reporter CA adalah mereka yang sudah senior dan berpengalaman.

liputan-tv-one blighted-ovum

Liputan berjalan santai dan cair. Walaupun saat sebelum liputan, Siska agak kesulitan mencari rumah saya yang memang letaknya jauh ke dalam dari jalan raya. Untungnya, kameramen saat itu yang bernama Mas Gatot saya kenal karena dulu sudah pernah liputan bareng. Mas Gatot juga orangnya enak dan santai. Jadi liputannya nggak tegang.

Sebelum wawancara, Mas Gatot mengambil beberapa stok gambar terlebih dahulu. Senangnya, Mas Gatot sempat mengambil gambar blog saya. Yeah, www.ratnadewi.me bisa makin eksis nih, hahaha. Norak! Gapapa lah ya, jarang-jarang. Lagian kan juga masih relevan karena semua cerita tentang kehamilan saya ada di situ. Apalagi cerita soal saya blighted ovum juga ditulis lengkap di blog.

(Baca juga: We Love You, Adik… (Part 1))

Sementara itu, pas sesi wawancara pertanyaan yang diajukan berkisar soal riwayat kehamilan saya. Dari kehamilan pertama yang IUFD sampai kehamilan kedua yang blighted ovum. Lalu saya juga cerita ketika saya divonis blighted ovum oleh beberapa dokter di kehamilan yang kedua. Wawancaranya singkat sih, paling 10 menitan kok. Dulu saya paling malas kalau disuruh cerita soal kehamilan saya soalnya semua pengalamannya buruk. Tapi sekarang saya udah move on dan nggak apa-apa kalau disuruh cerita (asal tidak dihakimi) karena siapa tahu dari cerita saya ada banyak info dan hikmah yang bisa diambil.

Setelah sekitar 1,5 jam, liputan pun selesai. Alhamdulillah. Kata Siska, program ini baru akan tayang Bulan Mei karena sampai saat ini timnya masih nabung episode dan liputan. Program ini nantinya merupakan program stripping yang tayang tiap hari. Jadi, buat yang kemarin bertanya kapan tayangnya sabar yaa soalnya saya juga nggak tahu, haha. Perkiraan sih sekitar Bulan Mei. Mari kita berdoa semoga programnya lancar dan nggak di-drop sebelum tayang biar muka dan blog saya bisa eksis ditonton masyarakat Indonesia, hahaha.

Buat yang mau tahu suasana liputan, bisa lihat video di bawah ini ya:

 

 

 

ratna dewi

 

41 Comments
Previous Post
Next Post