Menjadi Full Time Blogger dan Hidup yang “Pas-Pasan”

kaleidoskop-2016

Rezeki yang membahagiakan adalah rezeki yang datang saat diperlukan, mencukupkan, dan terkadang tak perlu berlebihan. – Ratna Dewi

Jelang akhir tahun biasanya banyak yang bikin kaleidoskop nih. Apalagi kalau pemberitaan, setiap akhir tahun pasti diisi dengan kaleidoskop sepanjang tahun. Soalnya dulu pas jadi reporter pasti mengalami menggarap kaleidoskop akhir tahun. Nah, karena sekarang sudah nggak jadi reporter dan pengen bikin kaleidoskop jadi bikinnya di blog aja deh ya. Yah, itung-itung sambil flashback pencapaian apa aja yang sudah diperoleh selama jadi blogger sepanjang tahun 2016 ini. Bukan riya lho ini, hanya mengabadikan pencapaian aja biar lebih menghargai pekerjaan sebagai blogger.

Flashback sedikit boleh ya. Tahun ini adalah tahun dimana saya jadi full time blogger, yeaayyy *throw confetti*. Rasanya masih nggak percaya saya bisa resign dari pekerjaan dan memutuskan untuk jadi blogger. Nyali saya gede juga ya. Tapi alhamdulillah, lompatan besar saya jadi blogger ini ternyata memang mau nggak mau harus disyukuri. Meski penghasilan berkurang drastis tapi ada titik-titik tertentu yang justru bisa saya peroleh karena jadi full time blogger.

(Baca juga: Inilah Saya, Mantan Wartawan yang (Beruntung) Memilih Menjadi Blogger)

Full Time Blogger dan Hidup yang “Pas-Pasan”

Saat memutuskan jadi full time blogger berarti saya harus merelakan gaji sekian juta sebulan hilang. Belum lagi THR, bonus ulang tahun, bonus penilaian, dan bonus-bonus lainnya. Pemasukan rumah tangga otomatis berasal hanya dari suami. Saya harus bersiap kencangkan ikat pinggang. Dalam bayangan sudah nggak ada lagi acara nongkrong-nongkrong cantik di tempat hang out sama teman-teman, skip beli make up, hingga memupus keinginan jalan-jalan. Pokoknya, kepengenan yang bukan kebutuhan pokok harus disisihkan dulu. Saya harus siap hidup pas-pasan dalam arti yang sebenarnya.

Tapi Gusti Allah mboten sare. Kalau rezeki saya dan suami 10, biarpun saya resign kerja ya tetap saja nilainya 10. Resign-nya saya dari kerja membawa perubahan besar di pekerjaan suami dari jabatan hingga gaji. Jabatan suami perlahan naik demikian pun dengan gajinya. Tapi toh uang belanja saya segitu aja, paling ditambah sedikit. Trus darimana saya dapatkan sarana dan prasarana penunjang gaya hidup saya seperti lippen, baju, atau tas baru? *plak*.

Ternyata dunia blogging membuka peluang rezeki dari pintu yang tak diduga. Saya jadi tahu hidup yang “pas-pasan’ bukan berarti memang pas-pasan dalam arti yang sebenarnya. Hidup “pas-pasan” sebagai blogger itu artinya “pas kepengen pas ada rezekinya, pas kepengen pas ada yang ngasih”.

Ini terjadi benar lho di hidup saya. Mulai dari kepengen sesuatu yang harganya mahal seperti kamera mirrorless sampai perkara remeh-temeh seperti nginep di hotel, lippen, baju baru, make up, sepatu, wajan teflon, atau termometer lha kok semua serba “pas-pasan”. Pas kepengen ndilalah pas ada rezeki dari yang ngasih.

Jadilah beberapa barang yang saya inginkan tidak harus saya beli ketika jadi blogger. Sampai-sampai suami saya bilang “Enak punya istri blogger, kalau pengen apa-apa suka kebetulan dapat sendiri barangnya. Bisa dari goodie bag, doorprize, atau menang lomba”. Lhaaa, suami saya juga sudah merasakannya sendiri enaknya jadi suami blogger yang “pas-pasan”. Bahkan kadang kalau berlebih ikut kecipratan misalnya bisa beli sepatu futsal gratis karena voucher belanja yang didapat istrinya. Jadi, jangan remehkan punya istri blogger ya, hahaha.

Kaleidoskop Ngeblog di 2016

Kalau dibandingkan dengan blogger-blogger yang sudah punya kelas, pencapaian saya mah baru remahan rengginang. Apalagi akhir-akhir ini saya sudah mulai kendor ngelomba atau ikut event karena repot ngurusin adik yang sekarang serumah sama saya dan baru masuk kuliah. Cuma saya bangga aja sama pencapaian ini karena kalau saya masih kerja belum tentu bisa mencapai semua ini. Pencapaian ini juga benar-benar mendukung istilah “pas-pasan” yang sudah saya jelaskan di atas. Berikut kaleidoskop ngeblog saya di 2016 yang saya tulis berdasarkan pencapaiannya:

  1. Dapat hadiah kamera mirrorless XM-1 dari Bukalapak (Maret 2016). Kamera ini didapat “pas-pasan” banget saat suami saya pengen beli kamera. Padahal sebelumnya dia sudah menganggarkan budget tapi akhirnya urung dipakai. Kamera ini didapat karena saya menang lomba review acara Lingkar Kemang, Buka-Bukaan Netizen Bersama Bukalapak. Makanya dulu kalau ditanya sama orang kenapa nggak belajar motret pakai mirrorless, saya selalu bilang “Bukan saya yang minat punya mirorrless tapi suami”. Saya totalitas ikut lombanya demi menang mirrorless buat suami.
  2. Jalan-jalan ke Belakang Padang, Batam (April 2016). Ini adalah kali pertama saya boleh keluar kota lagi sama suami, yeeaayy. Soalnya pas masih kerja saya nggak boleh DLK dan sayanya juga udah nggak mau karena ya begitulah. Akhirnya saya malah ‘DLK’ bareng media diundang Kementrian Kesehatan tapi kali ini sebagai blogger. Rasanya senang banget apalagi blogger yang ikut rata-rata femes semua. Bahkan saya sekamar sama Mbak Shintaries jadi bisa cucurhatan. Selain kesempatan jalan-jalan saya juga dapat pengalaman, teman baru, sampai ‘sangu’ yang tentunya semua tak terlupakan.
  3. Jadi pemenang atau semifinalis lomba bergengsi (Maret-Juli 2016). Ini hal yang menyenangkan sekaligus membanggakan lho. Pasalnya, buat blogger seperti saya yang kemampuan menulisnya biasa saja jadi pemenang lomba itu surprise banget. Bayangkan, saya bisa mengalahkan puluhan bahkan ratusan blogger yang tulisan dan kemampuannya nggak diragukan lagi. Salah satu yang bikin bangga adalah ketika masuk sebagai 20 semifinalis lomba review Cetaphil Gentle Skin Cleanser dimana waktu itu hampir setiap blogger baik senior-junior, baru-lama, ataupun beauty blogger pada turun gunung ikutan. Walaupun nggak menang hadiah utama tapi saya tetap senang karena toh akhirnya tulisannya jadi tulisan yang paling banyak menyumbang PV di blog.
  4. Staycation bersama suami dari hasil ngeblog. Saya dan suami terbilang pasangan yang jarang travelling. Makanya ketika bosan melanda (dan ini sering banget) saya merengek minta pergi kemana atau staycation di hotel biar fresh. Eh ndilalah di 2016 ini saya berkesempatan buat staycation di beberapa penginapan mulai dari hotel sampai glamping yang per malamnya bisa jutaan rupiah. Mungkin pencapaian ini nggak akan bisa saya peroleh kalau masih kerja soalnya mana kuat nyewa kamar semahal itu per malam. Sementara dulu saya kalau DLK selalu mentok di hotel dengan budget maksimal Rp 450.000.
  5. Uji nyali di one day one post (Agustus-September 2016).  Buat orang yang suka males-malesan nulis kayak saya, one day one post (ODOP) itu jadi ajang yang cukup mengerikan karena butuh konsistensi. Entah ada angin apa, akhir Agustus hingga awal September selama dua minggu saya ‘nekat’ ikut ODOP yang diadakan grup Fun Blogging. Nyatanya saya ‘lulus’ dan bisa konsisten menulis setiap hari. Setelah ODOP, banyak manfaat yang saya peroleh entah ini secara kebetulan ataupun tidak. Salah satunya adalah PV blog yang naik berkali-kali lipat. Padahal dulu PV saya mengenaskan, kalo dirupiahkan buat beli cilok sepuluh biji aja nggak cukup.
  6. Sponsored post berdatangan (September 2016-saat ini). Dulu saya sering iri sama mereka yang dengan gampangnya bisa memeroleh pekerjaan dari blog. Entah kebetulan atau karena pintu rezeki sudah mulai terbuka, setelah ODOP banyak pekerjaan dan sponsored post di blog berdatangan. Materi yang didapat memang tak seberapa jika dibandingkan dengan gaji saya sewaktu jadi wartawan. Tetapi kalau dihitung per bulan, lumayan cukup buat jajan-jajan adik saya di kampus. Sedikit memang, tapi sangat terasa kegunaannya dan itu yang membuat saya bahagia. Sampai saat ini.

Ini beberapa kaleidoskop ngeblog saya selama setahun terakhir ini. Yang saya catatkan cuma sedikit dan seingat saya. Pencapaiannya belum banyak, materi yang didulang pun belum seberapa. Tapi itu semua sungguh jadi berkah dan membawa kebahagiaan tersendiri buat saya. Ngeblog membuat saya bisa mengaktualisasikan diri sekaligus tetap upgrade penampilan karena ternyata banyak ‘sponsor’ yang berkaitan sama penampilan berdatangan *teteup*. Apa yang didapat memang tidak selalu harus diukur dengan materi. Link, teman, pengalaman berharga, sampai kesan tak terlupakan itu juga pencapaian.

Terakhir, saya menutup tahun ini dengan pencapaian sederhana yang sangat membahagiakan. Saya dikirimi pesan via Twitter oleh penulis buku idola saya dari zaman kuliah dan mengabarkan bahwa ia akan mengirim buku terbarunya untuk saya. Kami dipertemukan lewat ngeblog dan social media. Wiiihh, itu sungguh kesan yang luar biasa untuk menutup akhir tahun ini. Semoga ini juga jadi awal yang baik untuk memulai tahun depan. Semoga….

 

ratna dewi

76 Comments
Previous Post
resolusiku-2017
Next Post
profil-blogger-monda-siregar