Mengapa Menjadi YouTuber?

Zaman sekarang orang menjadi terkenal bisa dengan berbagai cara. Pasti pada pengennya terkenal dengan cara yang positif donk ya, ngga mau juga terkenal gara-gara pake rompi orange terus keluar dari gedung di Kuningan *duh amit-amit deh*. Nah, bersyukurlah orang-orang zaman sekarang, karena terkenal ngga melulu harus melalui televisi. Tapi, banyak medium yang bisa membuat orang terkenal mulai dari radio, website, media sosial, blog dan juga YouTube.

Nah, kalo medium yang terakhir ini sudah dipakai beberapa orang dan akhirnya terbukti menjadikannya terkenal. Ngga usah sampe yang muluk-muluk rajin posting dan punya channel YouTube sendiri, yang ngga sengaja dipostingin orang pun kalo udah viral bisa jadi terkenal. Masih inget kan sama Norman Camaru yang mendadak terkenal karena YouTube? Itu salah satu contohnya.

Ngga usah ngomongin tingkat dunia deh, di Indonesia pun banyak YouTubers yang oke dan terkenal. Inget Raditya Dika atau Sacha Stevenson kan? Mereka salah dua YouTuber Indonesia yang rajin mengunggah videonya dan sudah punya banyak subscriber. Sekarang mereka pun sudah merambah dunia entertainment dan jadi terkenal. Nah itulah efeknya YouTube sudah terbukti.

Selain itu, banyak orang juga mempromosikan video, iklan, dan bahkan film indie atau film pendeknya lewat YouTube. Karena apa? Karena YouTube mudah diakses dan ngga harus bayar alias gratis. Asal ngga melanggar syarat dan ketentuan dari YouTube-nya, orang bisa mengunggah video kapan saja.

Sama halnya dengan dunia blogging, dunia YouTube-ing pun menjanjikan materi. Kalo blog bisa di-monetize, channel YouTube pun iya. Ngga jarang banyak orang berlomba-lomba bikin channel dan video dengan alasan ya siapa tau aja bisa dapet review produk. Ada juga yang dari sekedar iseng upload video Youtube, jadi viral, banyak subscriber, eh dateng deh itu review produk. Kalo sudah begini namanya sekali mengayuh dua tiga pulau jadi terlampaui deh.

Mengapa Menjadi YouTuber?

Bagi para kaum perempuan berhijab yang suka liat tutorial sebelum pake hijab, pasti juga ngga asing sama Natasha Farani kan? Saya pertama kali liat dia gara-gara nyari tutorial hijab dan ketemulah Natasha Farani ngisi tutorial hijab ramadhan di salah satu portal berita. Eh terus sayanya keterusan nyari videonya. Jadilah ketemu channel YouTube-nya Natasha Farani. YouTuber yang satu ini nggak hanya cantik dan solehah tapi juga baik dan nggak sombong. Hmmm… makasih ya Tacha sudah mau bales email dan pertanyaan-pertanyaanku.

Ngomongin soal Tacha -panggilan dari Natasha Farani- pasti ngga bisa lepas dari YouTube. Cewek cantik berhijab ini bisa dibilang terkenal melalui YouTube. Awalnya Tacha cuma iseng upload video aja di YouTube eh sekarang malah jadi keterusan lho. Kebanyakan atau malah sebagian besar videonya adalah tentang tutorial hijab. Tacha juga upload video tentang tutorial make up lho. Tapi tetep ya, yang dicari banyak orang kayanya tutorial hijabnya ya.

Nih kalo yang belum ngeh juga sama Natasha Farani.

Sampai sekarang, dari tahun 2012 total sudah ada lebih dari 60-an video yang Tacha unggah dan kebanyakan tutorial hijab. Oh ya, Tacha juga lagi merintis jadi Vlog lho. Video-videonya antara lain bisa diliat seputar ceritanya pas perjalanan ke Jeju, Korea Selatan. Seru banget ya.

Buat produksi videonya pun Tacha produksi mandiri artinya dari filming, editing, sampai upload semua dikerjain sendiri. Pake alatnya yang sederhana kok. Makanya kadang kalo kita liat videonya, Tacha suka minta maaf soalnya banyak noise karena biasanya dia merekam tutorialnya di depan rumah eh terus pas lagi berisik banyak kendaraan lewat. Selain itu, kendalanya juga keterbatasan waktu karena Tacha juga kerja sebagai finance staff pas weekdays. Dan dia ngaku makanya suka ngga keburu buat edit video, karena Tacha sendiri juga ngga jago editing.

Tapi walaupun videonya terkesan sederhana dan ngga jago editing, Tacha udah punya pencapaian sendiri di dunia per-YouTube-an. Baru-baru ini dia diundang ke Korea buat acara Beauty Week 2015 bareng banyak YouTuber terkenal dari negara-negara lain. Wooowww siapa yang ngga kepengen coba? Selain itu, Tacha juga diundang di panggung YouTube FanFest Indonesia 2015 dan mendapatkan Silver Button Play karena telah memiliki 100.000 subscriber di channel YouTubenya. Hmmm bikin tambah mupeng kan?

Apalagi saya pernah nonton di Hitam Putih kalo channel YouTube Tacha memang di-monetize dan penghasilan Tacha sebagai YouTuber lebih besar dari penghasilannya sebagai finance staff di salah satu stasiun tv swasta. Eh tapi walaupun banyak sukanya, jangan kira jadi YouTuber kayak Tacha ngga ada dukanya. Dukanya apalagi kalo ngga haters. Dunia online memang ngga bisa ngga ada haters ya. Tapi untungnya Tacha selalu menanggapi dengan sabar dan bilang kalo dia juga masih berproses.

Yang Baru Yang Berjibaku

Banyak hal yang menjanjikan karena jadi YouTuber akhirnya membuat banyak orang berlomba-lomba jadi YouTuber. Salah satunya adalah temen saya nih Maya Rachma atau yang biasa saya panggil Maycint. Oh iya, kalo yang sering liat tv merah pasti ngga asing sama si Maycint ini. Mungkin Maycint bosen masuk tipi tapi ga terkenal-terkenal, akhirnya dia mencoba peruntungan di dunia YouTube, haha *kidding cyiin*.

Maycint ini awalnya karena iseng juga jadi YouTuber, soalnya dia ngga punya tv di apartemennya. Jadilah Maycint sering nontonin YouTube buat hiburan. Awalnya dia mikir kalo jadi YouTuber itu pasti ribet harus bikin-bikin video, ngedit dan segala macem. Tapi karena bakat narsisnya butuh wadah yang positif. Akhirnya si Maycint coba-coba bikin konsep, trus divideoin pake kamera hape, diedit pake Adobe Premiere, trus diunggah deh dan akhirnya keterusan.

Salah satu video si Maycint.

Sama halnya kayak blogger pemula, Maycint juga mati-matian optimalisasi media sosialnya. Dari mulai promo sebelum video di-publish di Facebook, twitter, sampe instagram sampe promo pas sesudah di-publish. Maycint yang suka banget sama YouTuber Indonesia Sacha Stevenson ini juga mengakui kalo karyanya sedikit banyak terinspirasi dari Sacha Stevenson. Makanya, tema-tema yang dipilih pun kebanyakan dibumbui sama komedi biar penontonnya ngga serius-serius amat dan bisa menghibur.

Namanya pemula, sama halnya juga kayak blogger, YouTuber pasti jatuh bangun biar dapet banyak suscriber. Apalagi Maycint selama ini juga berdarah-darah buat mulai jadi YouTuber. Banyak kendala apalagi kendala alat dan waktu. Maycint cuma pake kamera hape 8MP plus ngeditnya nyolong-nyolong karena sehari-hari Maycint adalah reporter Wakil Presiden yang waktu kerjanya aja susah diprediksi. Buat ngedit aja, Maycint butuh waktu 10-15 jam. Belum lagi masalah biaya, duit yang dihasilkan masih minim banget.

behind the scene proses video
behind the scene proses video
promoin video sebelum dipublish
promoin video sebelum dipublish

Jadi berdasarkan hasil cari info sana sini, Maycint tahu bahwa untuk sebuah video yang bisa di-monetize YouTube dibayar 1-5 dolar per 1000 views. Nah 55% dari situ dikasih ke creator videonya alias YouTuber. Sekarang rata-rata videonya baru ditonton sama ratusan orang, paling banyak 1000 views. Jadi kebayang dong penghasilannya masih sangat minim. Katanya, buat biaya listrik pembuatan video aja belum balik modal, haha.

Tapi Maycint pantang menyerah. Untungnya, dia selalu dibantuin suaminya yang juga editor buat menggarap videonya. Lagi-lagi sama halnya kayak blogger, jadi YouTuber juga ada pakemnya. Paling ngga, menghindari pelanggaran copyright yang biasanya paling banyak dari musik atau backsound. Makanya walopun kadang agak ngga sesuai sama video-nya, Maycint diusahakan selalu pake musik-musik gratis dari YouTube.

Baik Tacha maupun Maycint, keduanya juga punya harapan besar sebagai seorang YouTuber. Di luar hal bisa monetize channel YouTube-nya, mereka juga ingin terus eksis mengunggah video, menghibur subscribernya, dan bermanfaat bagi orang lain. Dan yang pasti mereka adalah mengikuti passion dan kata hati dalam berkarya.

 

http---signatures.mylivesignature.com-54493-339-B5346D20DFEFF9FB42A5A2CB2EF53696

25 Comments
Previous Post
Next Post